Istri Tuan Muda Delvano

Istri Tuan Muda Delvano
Istri jahil


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Cia memasangkan dasi di leher suaminya. Delvano terlampui tunggu untuk ukuran badan Cia yang hanya sampai dada nya ini.


"Om, kenapa tinggi banget sihhh? Cia susah nih pasang dasi nya," gerutu Cia.


Sedangkan Delvano sengaja mengerjai istrinya itu. Ia suka saat melihat Cia menggerutu sambil berjinjit untuk menggapai tinggi badannya.


Wajar jika Delvano tinggi. Ia keturunan bule yang memang memiliki tubuh besar serta tinggi.


"Kamu nya aja yang pendek," sahut Delvano


"Om aja yang ketinggian," sergah Cia. "Om nunduk dikit, biar Cia bisa pasang dengan bener," ucapnya


Delvano mengangkat tubuh Cia lalu dia duduk dibibir ranjang dan mendudukkan Cia diatas pangkuan nya.


"Om, enggak harus gini juga kali," Cia berusaha turun dari pangkuan Delvano. Namun, pria itu malah menahan istrinya.


"Enggak apa-apa gini aja. Biar cepat," ujar Delvano menahan pinggang Cia.


"Iya dehh," sahut Cia mengalah.


Delvano menatap wajah Cia yang serius saat memasang dasinya. Istri nya ini semakin hari semakin bertambah cantik dan menggemaskan. Pipi chubby Cia membuat Delvano gemes ingin mengigit istrinya itu. Namun sayang hingga kini ia belum mendapatkan hak nya sebagai seorang suami. Cia belum Delvano sentuh karena dia ingin Cia yang menyerahkan diri kepada Delvano.


"Udah Om, lepasin. Cia mau turun," ucap nya turun dari pangkuan sang suami.


"Hari ini temanin saya ke kantor," ajak Delvano memasang jam tangannya.


"Enggak bisa Om. Cia mau ketemu dosen, judul skripsi yang kemarin baru di ACC. Nih Cia lagi cari referensi buku baru," jelas Cia sambil memasukkan beberapa buku tebal kedalam tas ransel nya.


"Kalau makan siang gimana?" entah kenapa Cia dia ingin selalu bersama Cia? Tak kala lelaki itu ikut istrinya di kampus agar semua mahasiswa kampus tahu kalau Cia adalah miliknya. Takut saja ada yang mendekati Cia. Maklum, Cia kan cantik nya luar biasa masih imut-imut lagi.


"Iya Om. Tapi jangan makan di kantor Om. Cia pengen makan bakso beranak Om," seru Cia sambil memasang tas ransel nya.


"Bakso beranak?" kening Delvano berkerut heran. "Bakso apa itu?" tanya Delvano bingung. Maklum anak Sultan, Delvano tidak pernah makan bakso. Ia dilarang dengan keras untuk mengkonsumsi makanan enak khas Indonesia itu.


"Ya udah ayo," ajak Delvano.


"Ayo Om,"


"Peluk lengan saya, kayak biasa Cia. Biar semua orang tahu kalau kita bahagia," ucap Delvano. Baru kali ini dia memangil nama istrinya itu. Biasa juga dia panggil dengan sebutan gadis aneh.


"Iya Om,"


Pasutri itu keluar dari kamar mereka. Tampak Cia menggerutu kesal karena disuruh memeluk lengan Delvano. Ia bukan gadis yang romantis jadi tidak suka jika agresif begini.

__ADS_1


"Selamat pagi Mommy. Selamat pagi Ayah Mertua. Selamat pagi Kakak-kakak ipar," sapa Cia dengan senyuman manis


"Selamat pagi Nak," balas Laurent.


"Selamat pagi Cia," balas Dave dan Devan bersamaan.


Sedangkan Koscielny memutar bola matanya malas. Hingga kini dia tidak merestui hubungan Delvano dan Cia. Tidak akan pernah. Koscielny tidak suka pada gadis kampung itu.


Begitu juga dengan Sri dan Wenny. Kedua wanita yang juga sudah menjadi istri itu tampak tak suka pada Cia. Apalagi Cia begitu disayangi oleh Laurent. Entah apa yang membuat Ibu mertua mereka itu begitu menyukai Cia, padahal Cia menyebalkan.


"Selamat pagi Ayah mertua," sapa Cia.


Namun Koscielny tak menanggapi. Lelaki paruh baya itu malah asyik mengambil makanan


"Selamat pagi Ayah metua," sapa Cia sekali lagi.


"Kamu pikir saya tuli?" hardik Koscielny menatap Cia tajam dan marah. "Saya masih dengar," sambungnya.


"Maaf Ayah mertua. Cia pikir Ayah mertua dengar ehh salah maksud nya enggak dengar," Cia menepuk bibirnya saat salah mengucapkan kata, lalu dia tersenyum tanpa dosa.


"Ngomong saja suka salah," sindir Koscielny.


"Dari pada enggak ngomong sama sekali Ayah mertua," sahut Cia sambil tersenyum.


Delvano menahan senyumnya. Setiap pagi meja makan akan di penuhi dengan suara perdebatan antara Koscielny dan Cia. Heran saja, Koscielny akan seperti anak kecil jika berhadapan dengan menantu ajaib nya itu. Ia tak bisa menang jika berdebat dengan Cia, alhasil ia kesal sendiri dan menggerutu sepanjang masa.


Setelah makan semua melanjutkan aktivitas masing-masing.


"Mom, Daddy berangkat dulu," sambil cepika-cepiki dengan istrinya. "Mommy hati-hati dirumah. Nanti makan siang temanin Daddy dikantor. Biar Pak Dadang nanti yang jemput Mommy," timpalnya.


Laurent tersenyum dan mengangguk. "Iya Dad. Nanti Mommy kesana. Daddy mau di masakkin apa?" tanyanya. Koscielny memang manja dan bucin pada istrinya. Dia tidak bisa makan jika bukan masakkan wanita itu.


"Apa saja kalau Mommy yang masak Daddy pasti makan," serunya.


"Cie cie, Ayah mertua romantis juga ternyata," sindir Cia.


Senyum Koscielny berubah masam. Ia menatap menantu nya itu dengan tajam. Namun yang ditatap malah santai tanpa dosa.


Koscielny berangkat tanpa peduli pada ledekkan Cia. Tanpa Koscielny sadari jika Cia mampu menunjukkan sifat asli nya yang selama ini tertutup di wajah datar nya.


"Aku berangkat," ucap Dave dingin pada istrinya.


"Ehh tunggu Dave,"


"Ada apa?"

__ADS_1


"Dasi kamu sedikit bergeser. Hati-hati kerja. Semangat, cup," Sri mengecup pipi suaminya


Dave terkejut. Ia menatap wanita itu tajam. Sama halnya dengan Delvano, Dave juga belum menyentuh Sri sama sekali. Namun kasus nya berbeda, dia memang tidak mau mengambil hak nya.


"Sayang kamu hati-hati yaaa," pesan Wenny pada Devan.


Devan mengangguk saja tanpa berniat menjawab pertanyaan istrinya itu.


"Ayo Om," ajak Cia.


Meski pasangan ini rusuh setiap hari. Tapi mereka saling melengkapi satu sama lain.


Delvano dan Cia masuk kedalam mobil.


"Om, kok Cia liat Kak Devan sama Kak Dave itu kayak enggak cinta sama Kak Wenny dan Kak Sri?" tanya Cia heran.


Delvano mendengus kesal. Memanggil kedua kakak nya dengan panggilan Kakak. Sedangkan dirinya dipanggil Om oleh istri nya sendiri. Benar-benar keterlaluan istrinya itu.


"Kenapa Om? Kok cemberut gitu?" tanya Cia heran.


"Kamu itu yaaa. Keterlaluan banget. Sama Kak Devan dan Kak Dave kamu panggil Kakak. Sedangkan saya kamu panggil Om, emangnya saya Om-om?" protes Delvano.


Cia ngakak. Begitu juga dengan Okkhy yang duduk didepan menyembunyikan senyumnya.


"Om, enggak sadar kalau Om itu udah tua?" seru Cia masih tertawa lebar. "Maaf ya Om. Cia udah biasa manggil Om dengan panggilan itu. Enggak bisa diubah," tandas Cia sambil mengerjab-ngerjabkan matanya. "Tapi kan Om Suami-nya Cia, masih tetap ganteng walau udah tua,"


"Kamu...."


"Tenang aja Om, Cia enggak bakal berpaling kok ke lain hati. Soalnya hati Cia udah milik Om. Sayang nya....."


Delvano melipat bibirnya menahan senyum. Hatinya ketar-ketir tak karuan saat Cia bilang kalau hatinya milik Delvano. Bunga-bunga mekar bertebaran dihatinya.


"Sayang nya, Cia bohong...." Tawa Cia kembali pecah bahkan menggema didalam mobil.


Delvano merenggut kesal. Bunga-bunga yang tadi nya susah bertebaran seketika berjatuhan dan layu.


"Kamu......"


Dengan gemes Delvano menciumi wajah istrinya itu.


Cup cup cup cup cup cup cup cup.


"Hahha ampun Om. Ampun, hahha," Cia tertawa geli saat bibir Delvano menempel diwajahnya.


Okkhy geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum gemes melihat kedua pasutri itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2