
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Cia mengeliat dibalik selimut tebal. Ia meraba-raba perutnya yang terasa berat. Perlahan ia buka matanya. Hampir saja ia berteriak melihat wajah Delvano yang tepat berada di depan wajahnya.
Tubuh Cia terasa remuk redam. Gadis yang sudah menjadi wanita itu mendengus kesal ketika mengingat betapa buas nya sang suami tadi malam. Bahkan menghujami ia hingga beberapa ronde.
"Om lepas, Cia mau ke kamar mandi," ia menarik tangan Delvano dengan paksa. Namun lelaki itu malah semakin erat memeluk istrinya.
Cia mendengus kesal. Ia menatap suaminya tajam namun yang ditatap malah santai-santai saja tanpa dosa.
"Om Suami. Bangun," renggek Cia. "Cia gerah mau mandi. Ini enggak pakai baju lagi. Gara-gara Om," gerutu nya.
Delvano membuka matanya sambil terkekeh pelan mendengar gerutuan sang istri.
"Gimana malam pertamanya, enak?" godanya sambil mengedipkan mata jahil kearah sang istri.
Cia memutar bola matanya malas. "Om, lepasin tangannya diperut Cia. Cia mau bangun," ucapnya mengangkat tangan Delvano. Namun Delvano sedang ingin jahil jadi dia malah mengeratkan pelukan nya pada perut Cia.
"Sayang, mau lagi. Enak," renggek Delvano seperti anak kecil.
"Ck, Cia enggak mau Om. Om itu kayak mau bunuh Cia aja. Enggak cukup satu ronde, mau nya lagi dan lagi," tolak Cia keras. Apa dulu suaminya ini pernah melihat harimah bercinta sehingga menghunjami tubunya seperti harimau yang kelaparan.
Delvano ngakak. Ia tertawa lepas mendengar ucapan sang sitri. Maklum ini pengalaman pertama dalam hidupnya bercinta. Baru pertama merasakan seolah tak ingin berhenti merasakan meski beberapa ronde lagi.
"Morning kiss dulu,"
Delvano kembali mengecup bibir manis Cia. Siap, hanya mencium istrinya saja kelelakian nya sudah berdiri. Entah memiliki magnet apa tubuh Cia ini, sehingga benar-benar terasa menempel pada Delvano.
"Terima kasih Sayang. Aku mencintaimu," ucap Delvano tulus menarik Cia kedalam pelukannya.
Cia malah mengerjab-ngerjabkan matanya melihat Delvano yang tersenyum. Cinta? Cia tidak paham cinta itu seperti apa? Yang jelas setiap kali berada didalam pelukkan suaminya
"Apa kamu juga cinta sama saya, gadis aneh?" tanya Delvano ia menekan kata gadis aneh itu, ia suka saja memanggil istrinya dengan panggilan aneh.
__ADS_1
Cia menggeleng dengan polos. "Cia enggak cinta sama Om," wajah Delvano berubah masam.
"Bisa tidak kamu itu kalau bicara bohong sedikit," omel Delvano. Ia sudah berani mengungkapkan kata cinta pada Cia. Tapi Cia malah mengatakan tidak mencintainya. Memang keterlaluan sekali istrinya ini.
"Emang kenapa Om? Kata Bapak harus jujur enggak boleh bohong Om," sahut Cia santai tanpa peduli dengan wajah kesal suaminya. "Cia emang belum cinta sama Om. Tapi kata Bapak harus cinta sama suami sendiri. Jadi Cia akan berusaha cinta sama Om. Meski Cia enggak tahu cinta itu seperti apa," jelas Cia mengoceh dipelukkan Delvano. "Tapi Om, aneh ya. Setiap kali dipeluk sama Om. Cia kayak ngerasain nyaman, anget banget gitu lho Om," ia terus berceloteh dipelukkan sang suami.
Sedangkan Delvano menatap ciptaan Tuhan yang begitu sempurna ini. Cia adalah pemberian terindah dalam hidupnya. Kehadiran Cia, seolah menjadi pengobat untuk penyakit aneh nya. Cia lah yang menghadirkan bahagia itu disaat ia tak tahu apa itu bahagia dan jatuh. Namun Cia mampu membuat hatinya percaya pada hal-hal mustahil.
Tak apa Cia tidak mencintai nya untuk saat ini. Tapi ia berjanji akan membuat wanita ini bucin padanya. Delvano harus sabar, karena ia tahu bahwa ia telah menikahi gadis polos yang belum tahu apa-apa tentang perasaan jatuh cinta. Semoga seiring waktu berjalan dengan terus bersama setiap kali, Cia akan menaruh rasa pada Delvano.
"Ehhh Om, tapi yang semalam enak banget. Cia pikir bakal sakit kalau lama-lama, ehh enggak tahu nya pengen lagi,"
"Kamu mau lagi?" seru Delvano tersenyum devil.
"Enggak Om. Cia bercanda. Cia mau mandi. Mau ke kampus," Cia menahan dada lelaki itu ketika Delvano hendak menindih tubuhnya.
Delvano tersenyum. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutup mata Cia. Ia tidak mau egois dengan memaksa sang istri melayaninya lagi. Lagian yang semalam sudah cukup beberapa ronde dan dia juga sangat kelelahan. Meski kalau berbicara menyentuh istrinya ia tak pernah benar-benar bosan. Ingin dan ingin lagi.
"Astaga Om. Itu nya," Cia menutup kedua matanya dengan tangan saat melihat kelelakian Delvano berdiri tegap saat ia turun dari ranjang.
"Tidak usah malu. Dia sudah membuatmu terbang melayang," goda Delvano terkekeh sambil menyingkirkan tangan Cia yang menutup matanya.
"Hehhe iya sih Om," Cia cenggesan.
"Ya sudah ayo," Delvano mengangkat tubuh istrinya.
"Awwwww," Cia merintih.
Sontak Delvano kembali meletakkan Cia dibibir ranjang. "Sayang kenapa apa yang sakit?" tanyanya panik.
"Om... Awww. Itu Cia Om, sakit. Sakit banget Om," rintihnya.
"Maaf ya Sayang," Delvano merasa bersalah. "Boleh saya lihat," pinta Delvano. "Jangan menangis," ia menyeka air mata Cia yang leleh. Gadis ini memang cenggeng dan tidak tahan sakit. Maklum anak bungsu, manja nya luar biasa.
__ADS_1
"Hiks hiks Om. Tapi Cia malu," isak Cia. Area sensitif nya sakit dan juga perih.
"Tidak perlu malu. Saya suami kamu," ucap Delvano. "Tunggu sebentar kamu berbaring dulu," perintah nya membaringkan tubuh Cia. Cia mengangguk saja
Delvano memasang celana nya. Lalu memerintahkan pelayan untuk membawakan air hangat kuku dan kain untuk mengompres milik Cia.
"Biar saya lihat," Delvano menyandarkan tubuh Cia.
"Om," wajah Cia sudah merah. Malu sekali. Kalau bisa masuk kembali kedalam perut Ibu nya, dia ingin sekali masuk.
"Jangan malu," Delvano mengecup kening istrinya. "Sekarang buka kaki kamu," Cia menurut sambil memejamkan matanya.
Delvano melihat milik istri yang memang memerah dan sedikit kebiruan. Ia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya seperti ini. Ia juga tidak tahu kenapa semalam ia seperti kerasukan setan saat memasuki Cia. Bahkan ia tak ingin berhenti jika tidak kasihan melihat Cia yang kelelahan.
"Awww. Awww," Cia mengigit bibir bawahnya menahan perih.
"Saya akan kompres. Kamu tahan yaaa," ucap Delvano.
Delvano mengobati kewanitaan istrinya. Ia tidak tega jadinya. Ini pengalaman pertama Cia, jelas sakit. Tapi karena dirinya yang terlalu buas sehingga membuat **** ********** itu luka dan robek.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Hem, sudah sedikit enakkan Om," jawab Cia malu-malu.
"Maaf ya," Delvano mengusap kepala Cia dengan penyesalan. "Saya janji tidak akan mengulangi nya lagi. Maaf,"
"Enggak apa-apa Om. Om kan suami Cia. Kata Bapak enggak boleh nolak suami. Ini juga pengalaman pertama Cia Om. Kata Ibu lama-lama enggak sakit lagi," senyum Cia. Ia tidak mau Delvano merasa bersalah. Bahkan sebelum malam pertama mereka, ia sudah belajar beberapa artikel tentang hubungan suami istri dan apa yang disebut diartikel itu benar karena Cia sudah merasakan nya.
"Terima kasih,"
Delvano menarik Cia kedalam pelukannya. Melihat Cia yang kesakitan seperti tadi saja dia merasakan kekhawatiran. Apalagi kalau wanita ini hilang dari hidupnya. Ia tak bayangkan akan seperti apa hidupnya tanpa Cia.
Bersambung....
__ADS_1