
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Delvano menggeleng frustasi. Ia duduk disofa dengan mata panda nya. Ia mengalami ngidam dan Cia juga mengidam hal-hal aneh yang membuat lelaki itu ingin berguling-guling di aspal.
"Om, Cia pengen makan ini," seru wanita itu duduk disamping suami.
"Apa lagi?" keluh Delvano.
"Om enggak mau?" Cia memincingkan matanya kesal.
"Tidak. Tidak Sayang. Tadi kamu minta apa?" tanya Delvano lebih. Ia tidak boleh emosi. Ia harus sabar dalam menghadapi kehamilan Cia. Ia tidak boleh membuat istrinya itu merajuk lagi seperti kemarin kalau tidak mau berakhir tidur diluar
"Om, kita makan ini yaaaa?" sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Apa itu?" Delvano menatap layar ponsel istrinya. "Makanan apa ini, kenapa isi nya penuh sambal?" Delvano sudah bergidik ngeri melihat butiran cabe di gambar makanan istrinya.
"Om ini namanya seblak," jawab Cia. "Ahh pasti seger kalau makan siang-siang begini," seru Cia. Air liurnya serasa mau menetes saat melihat gambar seblak yang begitu menggoda, apalagi ditambah ceker ayam dan butiran bakso, bisa lupa diri dia kalau makan, makanan khas Indonesia itu.
"Ck, tidak boleh. Nanti kamu sakit perut dan anak kita bisa kepedasan didalam sana," tolak Delvano.
Cia langsung menatap suaminya tajam. Ia meletakkan ponselnya diatas meja lalu melipat kedua tangan didada.
"Om jahat," ucapnya. "Tahu ahhh Cia kesal sama Om," ia berdiri dari duduknya dan melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Sayang," Delvano mendesah. Astaga, haruskah ia menghadapi kegilaan istrinya yang tidak ada puasnya itu.
"Sayang, tunggu," Delvano menyusul istrinya. Namun secepatnya wanita itu menutup pintu dengan keras. Hingga hampir saja Delvano mengenai wajah Delvano.
"Sabar. Sabar," Delvano mengusap dadanya pelan dan sabar.
"Sayang, ayo buka pintunya. Jangan marah yaa, nanti dedek bayi nya nangis," celetuk Delvano.
"Enggak mau. Om jahat sama Cia. Cia kan pengen makan seblak Om, tapi Om enggak mau. Hiks hiks," terdengar tangisan dibalik pintu.
"Hufhhhhhh," Delvano menghela nafas panjang. "Ya sudah Sayang ayo kita beli seblak," rayu Delvano. Yang normal mengalah saja pada orang yang kurang seperti Cia.
Sontak Cia membuka pintu. Hampir saja suaminya terjungkal ke depan kalau Cia tidak segera memeluk pria itu.
"Beneran Om?" seru Cia sambil memeluk suaminya dengan senang.
__ADS_1
Seandainya Cia bukan istrinya, Delvano pasti akan membuang wanita ini ke tengah laut sana.
"Iya Sayang, ayo," namun perasaan nya yang ingin melempar Cia bilang saat melihat wajah polos istrinya.
"Ayo Om," Cia dengan manja memeluk lengan lelaki itu
Sejak Cia mengidam, Delvano merasakan nano-nano. Antara bahagia dan juga jengkel. Bahagia nya karena Cia selalu menempel padanya, hal itu tak pernah Cia lakukan kalau dia tidak hamil. Jengkel nya wanita ini suka minta yang aneh-aneh dan ujung-ujungnya nanti Delvano yang jadi korban menghabiskan makanan wanita hamil itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Koscielny.
"Mau beli seblak Ayah mertua," sahut Cia cepat.
"Ck, kamu mau meracuni anak saya makanan lagi?" tuding Koscielny.
"Dad," tegur Laurent.
"Ayah Mertua, suhuzon Mulu sama Cia," wanita itu memutar bola matanya malas.
"Cia itu lagi ngidam Dad. Wanita ngidam emang suka makanan yang aneh-aneh," ucap Laurent membela menantunya.
"Nahh, itu benar Ayah mertua. Makanya yaaa begitu lah....," Cia menatap Koscielny kesal.
Delvano mengikuti keinginan Cia. Sebab jika tak diikuti, istrinya itu bisa merajuk lagi nanti.
"Om, makan yaaaa," dan seperti biasa jika tidak habis maka Delvano akan menjadi korban menghabiskan sisa makanan Cia.
"Ck, tidak mau. Buang saja," sahut Delvano enteng.
Wajah Cia langsung berubah horor menatap suaminya tajam
"Eeh iya Sayang, biar saya habiskan," ucap Delvano. Ia bergidik ngeri melihat tatapan mematikan Cia.
"Habiskan yaaa Om," seru Cia sambil tersenyum ancamannya selalu mempan dan mampu membuat Delvano tak berkutik.
.
.
.
__ADS_1
"Om," Cia langsung memeluk suaminya yang baru saja pulang kerja.
"Sayang, saya masih bau. Belum mandi," Delvano mendorong pelan tubuh wanita itu saat memeluknya.
"Om marah?" lagi-lagi Cia menatap suaminya tajam.
"Tidak Sayang. Saya tidak marah saya kan belum mandi,"
"Ahhh tahu ahhh, Om jahat. Ihhh sebel," wanita itu menghentak-hentakkan kaki nya kesal sambil masuk kedalam kamarnya lagi.
"Ya Tuhan, kuatkan hati hamba," Delvano mengusap dada.
"Sayang, jangan marah dong. Tadi kan saya belum mandi. Nanti bau badannya. Dedek bayi nya ikutan bau,"
"Tahu ahh Om jahat. Padahal Cia cuma kangen sama Om. Cia pengen peluk Om aja enggak bisa. Om seharian kerja, enggak ada waktu buat Cia. Hiks hiks," isaknya air nya luruh.
"Cup. Cup. Sayang. Iya, iya. Sini peluk," Delvano meletakkan tas kerjanya dan naik keatas ranjang memeluk wanita itu
"Om," Cia dengan merenggek memeluk suaminya.
Sejak hamil ia suka sekali bau suaminya ini. Tak jarang ia ikut ke kantor dan menempel seperti prangko. Hari ini Delvano tak bisa mengajak istrinya karena ia sedang bertemu klien penting yang tidak bisa di tinggal. Sebenarnya tidak ada yang lebih penting dari Cia tapi jika menyangkut masa depan anak dan istrinya. Delvano tak pernah mau lenggah.
"Om, Cia kangen," wanita itu mengendus-enduskan hidungnya di dada Delvano.
"Sayang, saya masih bau,"
"Enggak kok. Wangi parfum Om enak banget. Cia suka," serunya.
Delvano tersenyum sambil mengusap kepala istrinya. Ia tak keberatan dengan mengidam Cia. Meski kadang jengkel. Tapi tidak apa ia menikmati perannya sebagai calon Ayah dari bayi didalam kandungan istrinya. Semoga saja, anak nya sehat-sehat tanpa kekurangan satu pun saat lahir.
"Sayang, saya mandi dulu,"
"Ayo, Cia juga mau mandi," ajak wanita wah.
"Ohh yess. Memang itu yang saya mau, ayo Sayang," dengan semangat empat lima Delvano membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi.
Cia tidak mengalami mual selama hamil. Yang merasakan itu justru suaminya, ia mengalami di bagian mengidam saja. Ingin makan sesuatu yang aneh. Makanan yang bahkan tidak Delvano tahu asal usulnya dari mana.
Delvano menggosok punggung istrinya. Sebelum mandi seperti biasa mereka akan berolahraga singkat yang mengeluarkan keringat. Meski istrinya hamil, Delvano tak pernah bosan atau puas menyentuh tubuh istrinya itu. Kadang ia berpikir apakah tubuh Cia ini memiliki magnet yang mampu menariknya masuk. Karena hanya tubuh Cia yang mampu membangkitkan gairahnya. Jika dibandingkan banyak wanita cantik dan seksi diluar sana yang melebihi Cia. Tapi tetap saja hati, raga dan jiwanya hanya milik wanita hamil itu.
__ADS_1
Bersambung...