
"Maaf Loki, ini untuk kebaikanmu," Biancs menyuntikkan suntikan penenang itu kepada Loki.
Setelah berhasil menenangkan Loki, Ridwan kemudian menidurkan Loki ke ranjang tempat tidurnya dan membenahi kekacauan yang dia lakukan.
"Ayo, keluar," Ridwan menggenggam tangan Bianca dan mengajaknya keluar setelah membereskan kekacauan tersebut.
Sesampainya diluar Ridwan belum melepaskan tangan Bianca yang membuat Bianca berdehem.
'"Maaf," Ridwan melepas tangan Bianca. "Aku melihatmu menangkup wajah Loki, kau menyukainya?"
"Pertanyaan macam apa itu Wan, kau tahu kan setelah aku melupakan Adam aku tidak mencintai pria manapun lagi, tadi hanya reflek," jelas Bianca yang membuat Ridwan terdiam.
Bianca hendak pergi sebelum suara Ridwan membuat langkahnya berhenti. "Kau reflek atau memang kau menaruh hati padanya, apa karena dia mantan kekasihmu, sebelum Loki bersama Gevanya, kau takut Gevanya tahu bahwa kau dan Loki pernah menjalin hubungan, sehingga kau seolah-olah tidak kenal dengannya."
"Dan setelahnya kau jatuh cinta kepada Adam yang ternyata memilih Dikta, dan setelah mengetahui Loki kandas, apakah kau masih berharap ingin kembali kepada Loki, Ca?" lanjut Ridwan.
Desir angin di koridor tersebut membuat Bianca terdiam, dia membalikkan badannya menatap Ridwan, wajah Ridwan yang biasanya penuh kehangatan berubah datar.
__ADS_1
"Kau sahabatku, kau sudah lama mengenal diriku, jauh sebelum Gevanya, Anjani, Dikta dan Aurel, harusnya kau mengerti posisiku," jawab Bianca.
"Posisi apa? Posisi bahwa kau mencintai Loki kembali?" Ridwan mengajukan pertanyaan menohok kepada Bianca.
Bianca terdiam dengan menundukkan kepalanya. "Kalau memang iya kenapa? Apakah aku salah mencintainya?"
Ridwan tersenyum kecut, sebagai sahabat atau sebagai apapun di kepala Ridwan, dia menggenggam tangan Bianca. "Kenapa harus Loki? Dia pria buruk, sebagai sahabat mu aku ingin yang terbaik untukmu."
Bianca diam, menatap kedua manik mata Ridwan sebelum membuang muka. "Semua orang berhak berubah, aku juga dulu jahat, semua orang bisa berubah."
"Tapi tidak dengan Loki," potong Ridwan.
Ridwan menghela napas panjang. "Jadi begitu aku di matamu, setelah semuanya?"
"Lalu kau mau ku anggap apa?" Nada suara Bianca meninggi.
"Tidak perlu, lebih baik kita anggap tidak ada apa-apa," Ridwan menjawab. "Asal kau tahu ada banyak pria yang lebih baik.'
__ADS_1
Bianca tidak menjawab lagi, dia langsung berjalan meninggalkan Ridwan begitu saja yang masih berdiri dengan tatapan sakit. "Contohnya aku."
Sementara itu Arga kini tengah melakukan sholat maghrib, karena Gevanya tidak kunjung sadarkan diri, sehingga Arga memilih melaksanakan kewajibannya sembari menunggu Gevanya tersadar.
Arga kini tengah memanjatkan doa setelah mengucap salam di akhir sholatnya. "Ya Allah, berikanlah hamba kesempatan untuk bersama istri hamba, hamba berjanji, jika dirinya tersadar hamba akan menebus semua kesalahan hamba dan mengakui semua perasaan hamba, berikanlah kesempatan bagi hamba menjadi suami yang baik setidaknya sampai perjanjian kami berakhir walaupun nanti kami harus berpisah,"
Arga mengucap alfatihah di akhir doa kemudian naik ke kursi rodanya, dan menjalankan kursi rodanya ke arah ranjang Gevanya karena kebetulan dirinya melakukan sholat ditengah ruangan rawat Gevanya.
"Kapan kamu Bangun Ge?" Arga meraih tangan Gevanya dan menciumnya perlahan. "Kalau kamu bangun, Abang janji akan nurut sama kamu."
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like