
Gevanya bangkit, dia tidak mau terdiam lama dengan tatapan Arga yang menelusuk masuk ke raga nya, Gevanya berjalan ke belakang kursi roda dan mendorong kursi roda Arga melewati koridor rumah sakit.
Arga sendiri hanya tersenyum-senyum sendiri, untuk pertama kalinya, Gevanya baru sadar bahwa senyum dibalik wajah tembok yang datar itu sangat manis.
Kini tujuan mereka adalah kediaman Arga dimana taksi online yang sudah Gevanya pesan sebelumnya sudah menunggu mereka di depan rumah sakit.
"Bu Gevanya?" Seorang sopir Taksi menghampiri Gevanya yang membuat Gevanya mengiyakan pertanyaan tersebut. "Saya taksi yang Bu Gevanya pesan."
Sopir Taksi tersebut membantu Arga masuk ke dalam mobil, dan membantu menaikkan kursi roda Arga dibagian bagasi mobilnya.
Gevanya menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Arga yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Berhenti menatap aku begitu, Bang," Gevanya yang sudah tahu dia sedang ditatap merasa sedikit risih.
"Abang ngantuk," ucap Arga dengan senyum mengembang yang membuat Gevanya mengernyit.
"Terus?"
Arga tidak menjawab, dia langsung mengambil posisi meletakkan kepalanya di pangkuan Gevanya, Gevanya yang mendapatkan serangan mendadak berusaha mengelak tapi Arga sudah mengunci pergerakannya.
"Nurut, aja sih sayang," Arga memejamkan matanya.
Gevanya pasrah, ia membuka kaca jendela mobil membiarkan angin menampar wajahnya memberi kesan segar sesaat.
Entah reflek atau bagaimana tangan Gevanya bergerak mengelus rambut Arga yang sudah lebat, sehingga membuat sang empu membuka sebelah matanya.
__ADS_1
"Elus aja terus, enak kok," Arga tersenyum smirk yang membuat Gevanya melepaskan tangannya dari kepala Arga.
"M-maaf," Wajah Gevanya memerah tak karuan akibat insiden kecil ini.
Sementara Arga sendiri sudah merasa puas dengan apa yang dilakukan Gevanya.
•
•
•
Klontang-Klonting
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, setelah sholat isya, Gevanya memilih mencuci piring sementara Arga sudah tidur di kamarnya.
Selama mencuci piring, entah kenapa pikiran Gevanya selalu kemana-mana bayangan Agnes di rumah yang kini dia tempati selalu membekas di kepalanya.
"Astagfirullah, kenapa aku selalu memikirkan Agnes?"
Gevanya menyelesaikan cucian piring nya kemudian menyusun piring bersih di rak piring, setelahnya dia mencuci tangannya di wastafel dan berjalan ke kamar untuk melihat kondisi Arga.
Krittt!
Suara pintu terbuka membuat Gevanya semakin pelan membukanya karena takut membangunkan Arga yang sedang tertidur.
__ADS_1
Gevanya berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan, semua pekerjaannya sudah selesai, dan dia terduduk di sofa kamar tersebut dimana Gevanya sering tidur.
"Dimana bantal dan selimutnya?" Gevanya mencari bantal dan selimutnya karena seingat dirinya dia sudah menyiapkannya tadi.
Dia menerawang kamar yang sedikit gelap karena lampu mati sehingga pencahayaan hanya remang dari lampu tidur sampai akhirnya Gevanya melihat bantal dan selimutnya berada di samping Arga.
"Astagfirullah,"
Gevanya berjalan ke arah tepi ranjang menjulurkan tangannya melewati badan Arga untuk meraih selimut serta bantal miliknya, sebelum Arga langsung menarik tangannya yang membuat Gevanya tersentak dan jatuh tepat di atas tubuh Arga.
Dengan posisi menindih Arga, Gevanya membulatkan mata sempurna sedangkan Arga hanya senyum-senyum sendiri karena sebenarnya dia belum tidur.
"Tidur disini aja, sayang," Arga berbisik kepada Gevanya. "Allah itu sayang sama kamu dek, kalau Abang ikutan sayang gapapa kan?"
•
•
•
TBC
Jangan Lupa Like
Assalamualaikum
__ADS_1