
"Bagaimana caraku melepas infus nya kalau aku tidak bisa menyentuh istrimu ini, Bapak Arga terhormat?" Ridwan melipat kedua tangannya.
Setelah bucin akut nampaknya saraf-saraf beku dalam diri Arga mulai mencair semua, Arga menatap Ridwan tajam yang membuat Ridwan menghela napas panjang.
"Yah jangan disentuh," Arga mengucap tanpa memikirkan bagaimana caranya.
"Gapapa yah Bang, kan Ridwan juga gak mau ngapa-ngapain," ujar Gevanya memberikan penjelasan.
"Tapi sayang, Abang gak mau ada yang nyentuh kamu," jawab Arga yang membuat Gevanya mendelik.
"Kenapa?"
"Mungkin karena hati Abang udah dijleb-jlebin kamu?"
Mendengar itu sontak tawa lepas keluar dari wajah Ridwan yang membuat Arga langsung melirik tajam dengan ekor tangannya.
Klak /Suara benturan benda logam/
Arga melempar sendok ditangannya kepada Ridwan yang membuat Ridwan sontak mengadu karena itu benar-benar sakit.
"Diam kamu,"
Sikap kontradiktif Arga mulai kembali, bucin depan istri, dingin didepan orang lain, Ridwan yang paham kemudian mengembalikan sendok itu kepada Arga.
"Lagian bahasamu Ga, jleb-jleb segala kayak anak remaja tahu gak," Ridwan mendorong kursi roda Arga menjauh dari ranjang Gevanya.
Ridwan membawa kursi roda tersebut dan menaruhnya disudut ruangan sehingga Arga tidak bisa kemana-mana sekarang.
__ADS_1
"Ridwan!" Arga membentak kesal.
Ridwan tidak peduli, siapa suruh dia menganggu waktu kerjanya, Ridwan kemudian kembali ke ranjang Gevanya dan mulai memeriksakan kondisi Gevanya.
"Udah lebih sehat, infusnya udah bisa dicopot," Ridwan meraih tangan Gevanya dan melepas infus ditangan istri sahabat nya itu. "Arga?"
Ridwan memanggil nama Arga yang membuat Arga menatap ke Ridwan yang tengah mengenggam tangan Gevanya, dengan menaik turunkan matanya Ridwan sengaja menggoda Arga dengan tetap mengelus tangan Gevanya beberapa saat.
Sontak Arga mendelik kesal karena itu. "Dasar sahabat laknat."
Ridwan tertawa puas dalam hatinya, setelah melepas infus, Ridwan membersihkan darah yang keluar dari tangan Gevanya akibat infus yang dilepas.
"Oke sehari lagi, dan kalian boleh pulang akad nikah, dan bikin Arga junior," jelas Ridwan berjalan ke arah Arga.
Ridwan kembali mendorong kursi roda Arga ke samping ranjang Gevanya, Arga mendelik tajam kepada Ridwan.
"Dih, ngusir, situ siapa Pak?" tolak Ridwan dengan wajah tengilnya.
Arga mengambil piring bekas makan mereka tadi kemudian mengambil ancang-ancang melempar Ridwan. "Kepala kamu tak lemparin ini bisa benjol loh, Wan."
"Ngeri banget si Pak Bucin," Ridwan berjalan keluar dan menutup pintu ruangan rawat Gevanya.
Namun tak lama kemudian kepala Ridwan kembali muncul dibalik pintu. "Ge? Kalau suami kamu itu ngerepotin lelang aja gapapa kok aku dukung."
"Ridwan!" teriak Arga yang benar-benar dibuat naik darah oleh sahabatnya itu.
Ridwan melenggang pergi dari sana meninggalkan ruangan tersebut dengan senyum mengembang, namun baru beberapa langkah, dirinya sudah di hadang oleh Bianca.
__ADS_1
Seketika wajah ceria Ridwan berubah datar. "Ada apa Ca?"
"A-aku pengen kita makan siang bareng,"
Ridwan terdiam, dia harus mencari cara untuk menolak permintaan Bianca, mata Ridwan melirik kesana kemari dan akhirnya dia menemukan Anjani di ujung sana baru saja keluar dari salah satu ruangan.
"Ndak bisa, Ca,"
"Loh? Kenapa?"
"Aku ada janjian sama pacar aku soalnya," jelas Ridwan berbohong.
"Pacar?"
"Iya," Ridwan berjalan ke arah Anjani kemudian menggandeng tangannya. "Sayang? Makan siang yuk."
Anjani yang mendapat perlakuan seperti hendak protes namun Ridwan segera memberinya kode dan membuat Anjani pasrah di bawa pergi oleh Ridwan meninggalkan Bianca disana.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like