
Ridwan yang berhasil menahan tangan Loki yang ingin membogemnya, membalas Loki dengan cara menbogem balik Loki.
"Ah!" Loki meringis memegang pipi sebelah kanannya.
"Kau ada masalah apasih sama aku?" Loki menatap tajam Ridwan.
Ridwan tersenyum kecut, dia menatap dalam Loki dan meraih kedua belah bahu pria yang duduk diatas kursi roda itu. "Maaf tentang wajahmu, aku ingin tanya padamu dengan serius."
"Apa?"
"Kau masih mencintai Gevanya?" Pertanyaan Ridwan benar-benar aneh dan cenderung menguliti Loki luar dalam.
Loki membuang muka malas. "Kau tidak berhak menanyakan itu padaku,"
"Jawab, Ki, jangan sampai aku menghajar kedua kakimu disini sampai kau benar-benar lumpuh permanen," Tatapan mata Ridwan berubah bengis.
Loki tidak pernah menyangka bahwa Ridwan yang selalu humoris, tengil dan banyak bercanda itu seseram ini dalam mode serius.
Loki menelan ludahnya sejenak. "Aku mencintai Gevanya, memangnya kenapa?"
Ridwan tertawa. "Setelah kau membuangnya dan mengatakan sialan pada anak yang sudah gugur itu?"
Wajah Loki memerah malu, Ridwan menarik dua pijakan kursi roda Loki mengsejajarkan tubuhnya kembali disaat Loki mengepalkan tangan geram kembali.
"Kalau Bianca ini kembali padamu, apakah kau mau?"
"Bianca? Tidak, wanita seperti Bianca terlalu murahan dan gampang dibodohi, lebih baik aku menjadi seorang pebinor daripada dengan Bianca," jawab Loki lantang, pedas dan menusuk.
Loki tidak sadar bahwa di rumah sakit ini hanya Bianca yang care kepadanya selama masa perawatan namun begitu Bianca dimata Loki.
__ADS_1
"Kau ingin merebut Gevanya dengan keadaan seperti sekarang?" Ridwan menatap remeh. "Berjalan saja kau tidak bisa."
"Kalau aku tidak bisa memiliki nya maka Arga juga tidak, kau tahu kan seberapa nekat diriku?" Loki mendelik tajam.
"Aku paham, aku paham,"
BUGH! /Sebuah suara tamparan/
Namun kali ini bukan Ridwan melainkan Bianca yang datang dan langsung menampar Loki, rupanya ini adalah perjanjian Bianca dan Ridwan yang ingin membuktikan bahwa Loki bukanlah pria baik-baik.
"B-bianca?" Loki memegang pipinya dan menatap Bianca yang memakai jas putih kedokterannya.
"Jadi seperti itu aku di matamu? Murahan? Setelah semua yang aku lakukan untukmu?" Bianca menatap Loki. "Disaat orang tidak peduli padamu aku berusaha peduli."
"Aku tidak perlu itu dasar kau murahan!"
Deg!
Ridwan melangkahkan kakinya meninggalkan koridor itu, Bianca menatap Loki tajam. "Aku membencimu Loki."
"Wan! Tunggu!" Bianca berlari menyusul Ridwan dan meraih tangan Ridwan.
Disaat Bianca hendak memeluknya meminta maaf Ridwan menolak dan menjauhkan badannya. "Kita hanya teman, jadi berlakulah seperti teman."
Deg!
Pedas dan menyayat hati, Bianca menyesal pernah memperlakukan Ridwan begini.
"M-maaf," Ridwan tidak mendengar itu dia berjalan ke ruangannya untuk beristirahat karena dirinya sudah mengantuk.
__ADS_1
•
•
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Ridwan kembali lagi ke rumah sakit setelah pulang ke rumah tadi subuh, dan tujuannya sekarang adalah ruangan Gevanya.
"Halo! Pasangan bucin kita, apa kabar hari ini?" Ridwan membuka pintu ruangan rawat Gevanya dengan wajah bersemangat berbeda dengan tadi malam.
"Kau menganggu!" Arga mendelik tajam saat dia tengah disuapi makanan oleh Gevanya.
"Perasaan yang sakit disini Gevanya deh," Ridwan berjalan ke arah Gevanya dan meraih tangannya yang terpasang infus.
Disaat Ridwan ingin menggapai nya Arga langsung menepis tangan Ridwan. "Jangan!"
"Lah kenapa? Ini mau dilepas infusnya,"
"Tapi jangan sampai menyentuhnya," jawab Arga yang membuat Ridwan mendesis.
"Dasar suami posesif," gumam Ridwan malas.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like