Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
S2. Adrian Arsyad


__ADS_3

Ridwan berjalan keluar dari ruangan Bianva, setelah berbicara dengan Bianca mengenai tindakan Bianca, Ridwan ingin meluruskan semuanya, dia berjalan melewati koridor menuju ruangannya sendiri, sampai dia melewati sepasang suami istri paling ia benci, bukan benci arti kata sebenarnya tapi dia benci dengan segala tingkah priknya.


"Wan, darimana?" tanya Arga saat melihat Ridwan lewat tanpa menyapa mereka berdua.


"Mau gali sumur."


Arga dan Gevanya saling menatap yang membuat Arga mengangkat bahu tidak tahu. "Datang bulan, mungkin."


Gevanya menepuk jidatnya, ia kemudian membawa Arga dengan mendorong kursi rodanya melewati koridor.


"Kita latihan jalan-nya di taman aja yah, lebih segar kayaknya."


Arga mengangguk atas saran istrinya. "Dimana aja, asal sama kamu."


Mendengar itu membuat Gevanya tersenyum kemudian membawa Arga ke taman dimana taman rumah sakit tersebut lumayan teduh dan luas sangat cocok untuk belajar jalan untuk Arga.


Setelah sampai disana, Gevanya langsung menaruh tas-nya di bangku taman dan membantu Arga untuk berdiri.


"Abang berat dek, nanti kamu kejatuhan," Arga menatap Gevanya yang membuat Gevanya menggeleng.


"Gapapa Bang, pelan-pelan aja, yang penting Abang bisa gerakin kaki Abang buat ngelihat perkembangan terapi okupasi barusan," jelas Gevanya.


Gevanya merentangkan tangannya dan meraih kedua tangan Arga yang membuat Arga perlahan berdiri. "Nah bisa, pelan-pelan Bang."

__ADS_1


Arga mengangguk, ia kemudian menggerakkan kakinya pelan, dan berhasil, awalnya Arga tidak bisa menggerakkan area lutut sampai mata kaki namun kali ini Arga sudah bisa.


"Bisa dek."


Gevanya tersenyum, dia kemudian memberi dorongan kepada Arga untuk menggerakkan kakinya lebih lagi.


"Ayo, Bang, pasti bisa."


Arga kali ini optimis dia menggerakkan kakinya kembali memijak tanah, Gevanya yang melihat fokus Arga perlahan melepaskan tangan Arga namun hal tersebut membuat Arga kehilangan keseimbangan sehingga Arga terjatuh dan menimpa tubuh Gevanya yang tidak ada pertahanan.


Duk!


Kepala Gevanya dan Arga saling terbentur, Arga segera bangkit dan mengambil posisi duduk, dia menarik tangan Gevanya untuk ikut duduk, kini mereka berdua terduduk diatas rumput taman.


Gevanya mengusap kepalanya, ia menetralkan pandangannya dan melihat wajah Arga. "Abang, itu luka."


Arga mengernyit ia memegang lukanya dan benar disana ada darah, Gevanya membantu Arga berdiri dan duduk di kursi rodanya, setelahnya Gevanya berjalan menuju tasnya untuk mengambil kapas namun dia tidak membawanya.


"Bang, aku ke ruangan aku dulu yah ambil P3K, Nanti aku balik lagi," Gevanya menaruh tas-nya dipangkuan Arga sesaat setelah Arga mengangguk.


Gevanya berjalan menuju ruangannya melewati koridor rumah sakit, untungnya jarak taman dan ruangannya lumayan dekat sehingga dia tidak membutuhkan waktu lama, setelah sampai di ruangannya, Gevanya segera mengambil kotak obat dan keluar untuk menemui Arga.


Gevanya berjalan cepat sembari memeriksa isi kotak obat tersebut sehingga ia tidak melihat jalan.

__ADS_1


/Bruk/ Suara tubrukan.


Gevanya terduduk di lantai saat ia menabrak punggung seseorang, orang tersebut membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya pada Gevanya.


"Kamu, tidak apa-apa?"


Gevanya menangkup kedua tangannya menolak uluran tangan dengan bukan mahramnya. "Tidak akan-"


Ucapan Gevanya terpotong saat melihat wajah pria tersebut. "Bang Arga?"


Pria tersebut sangat mirip dengan Arga, cuma bedanya pria tersebut memakai setelan kantoran dan bisa berjalan, dan garis wajah Pria itu lebih tegas sedangkan Arga teduh.


"Arga? Kamu salah orang, saya Adrian Arsyad."





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2