Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
BAB 36. Selamat Pagi, Kesayangan Arga


__ADS_3

Sebuah foto-foto dari Gevanya semasa kuliah terpasang rapih didalam berangkas itu, sejak kapan Arga mengambilnya. "Bagaimana bisa?"


Gevanya terbawa kedalam pikirannya sendiri pada masa lalu dimana dulu ia melihat Arga selalu memotret dengan kameranya, apakah Arga sedang memotretnya.


"Bang? Kenapa Abang gak bilang dari awal sih? Kalau sebenarnya aku juga cinta pertama Abang?" Gevanya terduduk lemas kembali di tepi ranjang.


Rasanya semua penyesalan dari dalam dirinya sudah dia keluarkan, dia hanya menangis sekarang sebelum sebuah ketukan pintu terdengar dari luar membuat Gevanya berjalan keluar dari kamar dan menuju pintu rumah.


"Waalaikumsalam, siapa?" Gevanya membuka pintu dan mendapati sosok Dokter Ridwan diluar sana. "Ridwan? Ada apa?"


"Ada apa bagaimana? Ini Tahlilan hari pertama Arga, kenapa kau tidak datang?" tanya Ridwan, Gevanya tidak menjawab dan mempersilahkan Ridwan masuk. "Tidak, aku disini saja, apa kata tetangga seorang pria masuk ke rumah seorang janda baru."


Gevanya menghela napas dan tetap berada dalam posisinya, namun Ridwan mengajaknya duduk di teras rumah, hari sudah gelap. "Kau sudah sholat maghrib?"


Gevanya menggeleng, dan dia sadar seharian ini dia meninggalkan sholat lima waktunya atas kejadian ini.


"Gevanya, kau bisa sedih tapi jangan sampai membuat lupa pada kewajibanmu, sekarang aku tanya kenapa kau tidak datang?" Ridwan melepas kacamatanya kemudian kembali mengajukan pertanyaan.


Teman se pekerjaan nya sebagai dokter menatap Gevanya dalam membuat Gevanya terdiam sesaat. "Aku gak kuat, aku mau disini aja menikmati sisa puing-puing bangunan cinta aku yang udah roboh."


"Dan kau sendiri yang membuatnya roboh," balas Ridwan menatap tajam istri sahabatnya itu. "Kau sudah melakukan kesalahan fatal tanpa memperbaikinya dan Arga sudah pergi."


"Kau hanya membuatku bertambah buruk Wan," Gevanya hendak berdiri meninggalkan Ridwan namun Ridwan segera bersuara.


"Kenapa? Kau tidak mau mengakui bahwa kau hanya meninggikan egomu disini?" Kalimat tersebut membuat Gevanya berdiri kaku. "Kau kesepian? Dan seberapapun kau akan menangis Arga tidak akan kembali."


"Berhenti menikmati penyesalan dan tangisanmu karena itu tidak akan membuat Arga kembali," lanjut Ridwan.


Sebuah pernyataan menohok, Gevanya tidak membantah karena dirinya memang sepenuhnya bersalah dalam hal ini, Ridwan memakai kembali kacamatanya dan berdiri, dia menatap Gevanya dalam dan membuat Gevanya menunduk.


"Sebagai seorang teman aku hanya ingin yang terbaik, berhenti larut dalam kesedihanmu, lanjutkan hidupmu, dan semuanya akan baik-baik saja,"


"Bagaimana bisa semuanya baik-baik saja disaat kau lihat sendiri Bang Arga pergi meninggalkanku?" Suara Gevanya terdengar lemah.


"Dan kau menyesalinya? Kau Bodoh Gevanya," Ridwan berjalan meninggalkan Gevanya disana. "Sekarang nikmati kesedihan mu karena kau harus melanjutkan hidupmu, Assalamu'alaikum."


Gevanya menatap kepergian Ridwan masuk ke mobilnya dan meninggalkan kediaman Rumah Arga, Gevanya tidak mau memikirkan ini dulu, dia berjalan ke kamar dan kembali duduk di tepi ranjang bersandar dan merebahkan tubuhnya.


"Aku kangen Bang Arga," Gevanya perlahan tertidur di ranjang tersebut dan entah berapa lama dia tertidur hanya dirinya yang tahu.


Gevanya terbangun dengan kepala sakit, namun dia bukan dikamar Arga, dia ada diruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang khas, Gevanya memegang kepalanya yang sedikit sakit dan mendapati wajah Arga didepannya.


"Selamat pagi, Kesayangan Arga,"


Suara itu?


Gevanya langsung bangkit berdiri walaupun kepalanya berat, ditangannya terdapat infus yang terpasang, membuat Arga yang ada disampingnya panik.


"Ada apa dek? Kamu baru sadar dari koma kenapa panik begini?"


"Koma? Bang Arga masih hidup?" tanya Gevanya meraih wajah Arga dan menatapnya dalam. "Bang Arga?"


"Saking menolaknya cinta Abang kamu menginginkan Abang meninggal yah?" Arga menatap memelas kepada Gevanya.


Gevanya merasakan pusing di kepala nya namun dia tidak menghiraukannya dia langsung memeluk tubuh Arga erat dan membuat Arga membalas pelukannya. "Jangan tinggalin aku!"


"Harusnya Abang yang bilang gini, jangan tinggalin Abang," balas Arga melepas pelukannya dan mengapit dagu Gevanya dengan telunjuk dan jempolnya.


"Pasti aku mimpi?"


Belum habis kekeliruan Gevanya. Arga sudah mencium bibirnya pelan, sangat pelan, sehingga Gevanya bisa merasakan bahwa itu nyata ciuman pertama dari Arga untuknya.


"Hm!"


Arga mencubit pipi Gevanya sedikit keras yang membuat Gevanya mengadu. "Sakit?"


Gevanya mengangguk.


"Berarti bukan mimpi,"


"BANG ARGA!"





TBC


Assalamualaikum


Jangan lupa Like

__ADS_1


Kalian sih ga percaya sama Author udah janji juga, Author ngambek!


Assalamualaikum buat yang kepo sama cerita Anak Bang Arga dan Gevanya, bisalah mampir kesini yah~


MENJADI IBU SUSU ANAK MANTAN SUAMIKU


Author Ridz.


"Tidak harus bertanggung jawab, Kak."


"Saya bukan tipikal pria yang mudah melupakan hal sebesar ini, saya akan tetap menikahi kamu, tapi saya mohon kamu mengerti pernikahan kita hanya pernikahan siri sampai saya siap memperkenalkan kamu kepada kedua orang tua saya," jelas Darion.


"Lantas, apa arti pernikahan kita itu kalau ditutupi?" tanya Aida.


Buat apa mereka menikah jika hanya ingin melakukan formalitas dan pengampunan dosa dari hal yang mereka lakukan semalam.


"Saya, tidak tahu pasti, tapi saya mohon menikahlah dengan saya," jawab Darion menatap dalam Aida.


Aida mendelik. "Kita baru bertemu semalam, rasanya menikah terlalu cepat, lagipula aku seorang wanita malam, rasanya kejadian ini sudah biasa."


•••


Aida mengira dirinya akan menemukan jalan pulang dari pekerjaan terlarangnya setelah menikah sosok Darion.


Tapi dia salah sangka, ternyata keputusan tersebut membuatnya terjebak dalam posisi yang baru dimana dia akhirnya harus menerima pahitnya perceraian.





Kejadian semalam masih berbekas di kepala Darion, dia sadar dia mabuk berat kemudian diantar oleh seorang wanita malam kesini, dan dia malah melakukan hal yang sangat haram yaitu berzina.


"Tunggu! Tunggu saya disini! Kamu jangan kemana-mana."


Darion meraih dompetnya yang ada di atas nakas kemudian berjalan keluar dari dalam kamar, sedangkan wanita tadi masih merasakan ketakutan, ingin rasanya dia kabur sekarang, karena dia takut akan di polisikan karena dituduh menjebak Darion.


Wanita itu yang tak lain adalah Aida, mulai menangis, niatnya hanya menolong Darion bukan menjadi pelampiasan hasrat Darion.


Aida mencari pakaiannya yang entah sudah berceceran dimana, dia hendak memakainya tapi tak lama kemudian suara pintu terbuka membuat Aida langsung bergerak membungkus tubuhnya kembali dengan selimut.


Itu Darion.


Aida itu melirik Darion, canggung rasanya, padahal semalam Darion sudah melihat tubuhnya tanpa sehelai benang, tapi dari garis wajahnya saja, Aida tahu ini pengalaman pertama Darion.


"Maaf," Darion berjalan ke arah balkon dan meninggalkan Aida di kamar.


Darion paham dengan arti pergerakan mata Aida yang menandakan dirinya malu, Darion sempat terkekeh geli dalam hati, padahal Aida kan wanita malam.


Aida meraih paper bag yang dibawa Darion tadi dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.


Bekas pergumulan semalam masih ada, bahkan Darion mengeluarkan semua benihnya di dalam tubuh Aida tanpa pengaman sedikitpun.


Setelah memakai bajunya, Aida berjalan keluar dari kamar mandi dengan rambut digerai, dia berjalan menemui Darion yang kini sudah terduduk di tepi ranjang.


"K-kak?"


Darion mengangkat kepalanya. "Siapa namamu?"


"A-Aida."


Aida menunduk, sedangkan Darion mengambil sebuah paper bag lagi di atas nakas kemudian mengeluarkan isinya dan berjalan ke arah Aida, itu sebuah kerudung.


Darion membentangkannya dan menaruhnya di kepala Aida dan menutupinya. "Saya Darion, kamu bisa memanggil saya Ion."


Aida menatap wajah Darion, belum pernah dia bertemu pria setulus dan sebaik Darion, dia kira dirinya akan di maki karena dinilai sengaja membawa Darion ke hotel.


"Saya menyesal melakukan hal itu semalam, saya benar-benar merasa bersalah atas kejadian itu dan saya siap menikahi kamu untuk menebus kesalahan saya," Darion meraih tangan Aida.


"Menikah?"


Darion mengangguk. "Setelahnya kita akan melakukan pertaubatan nasuha atas Zina yang sudah kita lakukan."


Aida mendelik Darion sih enak cuma sekali, lah Aida dia sudah melakukan Zina beberapa kali, ah tidak, tapi berkali-kali, setidaknya beginilah isi hati Aida sekarang.


"Tidak harus bertanggung jawab, Kak."


"Saya bukan tipikal pria yang mudah melupakan hal sebesar ini, saya akan tetap menikahi kamu, tapi saya mohon kamu mengerti pernikahan kita hanya pernikahan siri sampai saya siap memperkenalkan kamu kepada kedua orang tua saya," jelas Darion.


"Lantas, apa arti pernikahan kita itu kalau ditutupi?" tanya Aida.


Buat apa mereka menikah jika hanya ingin melakukan formalitas dan pengampunan dosa dari hal yang mereka lakukan semalam.

__ADS_1


"Saya, tidak tahu pasti, tapi saya mohon menikahlah dengan saya," jawab Darion menatap dalam Aida.


Aida mendelik. "Kita baru bertemu semalam, rasanya menikah terlalu cepat, lagipula aku seorang wanita malam, rasanya kejadian ini sudah biasa."


"Tapi, tidak dengan saya," Darion menjeda.


Aida berpikir sejenak atas tawaran itu, dia tidak tahu harus berbuat seperti apa, tapi Aida ingin lepas dari dunia wanita malam juga


"Aku terikat kontrak dengan seorang mucikari, menikah begitu saja tidaklah mudah, aku sendiri ingin lepas, tapi aku tidak punya cukup uang untuk menebus diriku sendiri," Aida merunduk menyesali keputusannya menjadi wanita malam dua tahun yang lalu.


Darion berpikir sejenak, dia tampak memikirkan solusi untuk masalah ini. "Bawa saya bertemu dengan mucikari itu, saya akan menebus kamu."


"T-tidak perlu."


"Saya serius."


Aida terdiam beberapa saat, jika memang Darion adalah jalan Allah untuk melepaskannya dari belenggu dunia malam, apakah harus dia menerima tawaran itu.


Setelah berpikir dua kali atas tawaran tersebut, Aida menganggukkan kepalanya dan bersedia membawa Darion bertemu dengan mucikari tersebut.


•••


Kini Darion dan Aida sudah berada di rumah mucikari tempat Aida mengikat kontrak, disana banyak sekali wanita malam yang bersiap untuk mencari mangsa nanti malam.


Darion melirik jam yang masih menunjukkan pukul delapan pagi, Aida berjalan masuk dan mencari mucikari yang dia maksud.


"Mami?"


Aida nampak memanggil nama mucikari yang dia maksud, tapi tidak ada sahutan melainkan hanya seorang wanita yang keluar dari sana.


"Nyari Mami, Da?" tanya wanita tersebut. "Tadi Mami keluar."


"Kemana?"


"Ada apa sayang, kamu nyari Mami?" Suara seorang wanita paruhbaya membuat Aida berbalik.


"Mami Susan dari mana aja, aku dari tadi nyariin Mami," Aida berjalan ke arah mucikari tersebut.


"Ada apa?"


"Aku mau keluar dari agency wanita malam Mami."


"APA!"


Mami Susan tampak terkejut, sehingga membuat wanita malam lain menaruh pusat perhatian kepada Aida dan Mami Susan, tidak terlalu lama bagi Mami Susan terkejut karena setelahnya dia sudah merubah ekspresinya seperti biasa.


"Boleh, tapi kamu harus membayar tebus kontraknya seratus lima puluh juta." Aida terkejut kenapa bisa sebanyak itu.


"Saya yang akan membayarnya," sela Darion tiba-tiba yang membuat Mami Susan membalikkan badannya.


"Siapa kamu?" tanya Mami Susan pada Darion.


"Saya akan menebus, Aida!"


"Seratus lima puluh juta, kamu sanggup?" Mami Susan tersenyum licik.


"Saya akan membayarnya sekarang," jawab Darion.


Mami Susan tersenyum senang, dia memberikan nomor rekeningnya kepada Darion yang membuat Darion langsung mengakses mobile banking miliknya.


"Bagaimana, cukup?" tanya Darion setelah mentransfer uang yang di maksud.


Mami Susan tersenyum puas, dia memerintahkan seorang pria mengambil Map kontrak para wanita malam disana, Mami Susan menerima Map tersebut dan mencari nama Aida.


"Adinda Nurfaida Anhar, selamat kamu sudah keluar dari Agency, Mami," Mami Susan merobek kertas tersebut.


Darion yang melihat itu tidak ingin berlama-lama, dia langsung menarik tangan Aida dan membawanya pergi dari sana.


"Kak, terimakasih."


"Saya sudah berjanji akan menebus kamu, kita akan menikah siri siang ini, saya akan ke rumah saya dulu menyiapkan beberapa hal dan alasan kepada orang tua saya."


"Kenapa kak Ion tidak jujur saya kepada kedua orang tua kak Ion, kalau kak Ion ingin menikahi aku."


"Ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan begitu saja Aida, saya berjanji akan bertanggung jawab dan kamu harus memegang janji saya," jawab Darion pada Aida.





__ADS_1


__ADS_2