
Semua yang ada di ruangan tengah kediaman Arga sedang menunggu hasil dari Gevanya yang sudah melakukan testpack, perasaan deg-degan campur penasaran membayangi Arga, Arsyad dan Anjani.
"A-aku-"
"Benar-benar menggantung, kau mau aku santet?" Arsyad berdecak kesal.
Anjani sontak menatap tajam kepada Arsyad. "Diam ih Om, Gevanya jadi gabisa ngomong."
"Habis dia lambat ngomongnya," kesal Arsyad.
"A-aku, hamil."
"Hah?"
Mereka semua terdiam untuk beberapa saat, Gevanya mengeluarkan testpack yang dia sembunyikan kemudian menyerahkannya kepada Arga.
Arga menatap Testpack tersebut dan merasa tidak percaya. "A-apa mungkin."
"T-tapi aku sudah kesulitan membuahi semenjak perawatan medis yang aku jalani." lanjut Arga.
"Allah itu baik Ga, kalau Allah ingin menitipkan anak kepada kalian, apapun keadaannya kun fayakun semuanya akan terjadi, kenapa kamu malah meragukan Allah," jelas Anjani yang membuat Arga mengangguk.
"Duh sholehahnya, bidadari surga Abang," Arsyad benar dijleb-jlebin Anjani sekarang dan rasa ingin memiliki itu sangat meningkat.
Arga menatap Gevanya berkaca-kaca. Tidak pernah dalam benak mereka akan mendapatkan keturunan bahkan semuanya tanpa di rencanakan, Allah tahu apa isi hati mereka.
Gevanya berjalan ke arah Arga kemudian memeluk suaminya itu, mereka berdua larut dalam tangis kebahagiaan yang membuat Anjani dan Arsyad mengharu biru melihatnya.
"Makasih," bisik Arga dalam kepada Gevanya.
Gevanya menatap Arga. "Aku yang makasih, Bang."
__ADS_1
Gevanya berdiri, Arga mendekatkan dirinya ke perut Gevanya kemudian menciumnya pelan sembari mengusapnya. "Babah udah lama nungguin kamu sayang, terimakasih udah hadir, Babah bakal nungguin kamu lahir."
"Babah? Jadi ingat Mas Adam, dipanggil Babah Adam kan sama anaknya?"
Gevanya menatap Arga dalam, Arga meraih tangan Gevanya sehingga Gevanya terjatuh ke pangkuannya. "Soalnya Adam pernah bilang kalau aku dan Ridwan punya anak kami harus dipanggil Babah."
"Lucu, aku suka."
Gevanya tersenyum pelan yang membuat Arga mencubit hidungnya. "Abang janji. Abang bakal ngejagain kalian berdua dengan baik dan Abang bakal lebih semangat buat sembuh."
Arsyad dan Anjani yang melihat momen romantis itu menjadi baper sendiri terutama Arsyad yang sudah tidak sabar eng in eng perasaan dengan Anjani.
"An, kayaknya kita harus pamit deh, mereka berdua butuh privasi, iya kan?" Arsyad bicara yang membuat Anjani mengangguk.
"Bener, kayaknya aku juga harus balik ke rumah sakit," jawab Anjani berdiri kemudian berjalan ke arah Gevanya dan memeluknya. "Selamat yah, beb!"
Arsyad memeluk Arga. "Selamat dek!"
Mendengar itu membuat Arsyad memasukkan kepalanya mengintip kedalam rumah Arga. "Doain yah!"
Gevanya dan Arga tersenyum. "Aamiin!"
Anjani berjalan ke mobil Arsyad karena memang dirinya datang bersama Arsyad. "Om, ayok!"
"Bentar, sayang!"
"Ih sayang apaan!"
"Yaudah baby."
"Ga suka."
__ADS_1
"Iya, istriku!"
Denyut jantungku berdebar
Seakan dunia ini kita yang punya
Disaat Arsyad hendak naik ringtone dari ponselnya berdering yang membuat Arsyad merogoh sakunya mengambil ponsel dan mendapati nama "Makhluk Gaib" disana.
"Ada apa Wan?" tanya Arsyad.
"Aku udah nembak Bianca, berarti mulai detik ini kita gak saingan lagi," jawab Ridwan terkekeh.
"Gak asik, kamu curi start."
"Hahaha, gak peduli, segitu aja!" Ridwan mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
Arsyad memasukkan kembali ponselnya kemudian memikirkan cara bagaimana Anjani menjadi istrinya. "Pokoknya aku harus ngelamar Anjani kalau dia nolak aku sogok ortunya pake martabak!"
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
Akunya akhirnya terjawab :)
__ADS_1