
"Yang sabar yah Ge, semua ini sudah jalan Allah,"
Ucapan itu terdengar silih berganti dalam diri Gevanya tapi Gevanya tidak menghiraukannya, Gevanya masih mematung kaku di depan sebuah makam yang bertuliskan nama Refal Argantara, suaminya.
Seusai dikebumikan. Cukup banyak perasaan begitu pahit menghinggapi diri Gevanya, mungkin kini dirinya sudah dalam kondisi menuju depresi jika saja dia tidak mengingat Allah.
"Apakah Bang Arga sekarang sudah bersama Agnes?" gumam Gevanya menyentuh nisan Arga.
Air matanya kembali jatuh, sudah hilang harapannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya, jika saja Arga dihadapannya sekarang Gevanya akan memeluknya erat dan enggan melepaskannya karena takut Gevanya akan pergi lagi.
Jika saja Arga ada dihadapannya sekarang, Gevanya akan berteriak kencang bahwa dirinya mencintai Arga dan Arga adalah cinta pertamanya.
"Kenapa harus aku?" Gevanya menangis tak karuan.
Derap langkah pelayat perlahan meninggalkan area pemakaman tersebut, sementara disana tersisa Gevanya, Ridwan, Bianca, Ayah Raden dan Mama Via.
"Kalian pulang aja, aku mau di sini dulu," Gevanya menolak untuk ikut pulang sekarang.
Dirinya merasa gagal menepati janji yang dia sudah utarakan dengan hatinya sendiri, janji untuk membuat Arga sembuh tapi kenapa Arga pergi sebelum janji itu dia tunaikan.
__ADS_1
"Abang bilang bakal berjuang, kok ninggalin, katanya bakal milikin aku selamanya kok pergi nya sendirian, Abang sama sekali gak berubah, masih jahat hanya bedanya sekarang Abang manis dan perhatian," Kata demi kata Gevanya terucap dengan lirih.
"Ge? Pulang yuk, Kasihan Arga kalau kamu tangisin terus," Ayah Raden berusaha meraih Gevanya namun Gevanya menolak.
"Kalian gak mengerti perasaan aku! Kalian gak paham bagaimana jadi aku! Aku itu perempuan bodoh! Aku menolak cinta suamiku sendiri disaat aku ingin menerimanya suamiku malah pergi!"
Suara lantang Gevanya terdengar menderu. "Kenapa kalian diam? Aku pantas dimaki, aku pantas dicaci, jika ada yang pantas mendapat julukan penjahat disini itu adalah aku!"
Gevanya berdiri, wajahnya yang basah dibalik hijab putihnya yang merekah membuat semuanya menatap iba kepada wanita satu ini.
"Kalau ada yang menghina ku sebagai wanita plin plan, bodoh, dan sebagainya silakan, aku memang bodoh disini, aku terlalu memikirkan masa lalu sampai aku lupa bahwa masa depanku adalah Bang Arga dan masa depanku itu sekarang sudah gak ada!" teriak Gevanya di kala sore itu.
Ayah Ardan berusaha menenangkan Gevanya dan memberikannya dorongan semangat, Mama Via yang sedari tadi diam berjalan ke arah Gevanya.
Dia memberikan seuntai kalung berkepala cincin, yang Gevanya tahu itu adalah cincin pernikahan mereka. "Arga tidak pernah memperlihatkan ini, tapi kurasa kau harus menyimpannya."
Gevanya menerima kalung itu. "Bang Arga tidak pernah memakai cincin pernikahan kita karena dia tidak menerima ku sebagai istri awalnya, tapi kenapa dia malah menjadikannya kalung dan menyembunyikannya padaku?"
"Karena Arga mencintaimu Gevanya," Suara Ayah Raden menambah kesedihan Gevanya yang sudah sangat mendalam.
__ADS_1
Mama Via mengeluarkan sesuatu lagi, sebuah kunci dan secarik kotak dengan kertas.
"Arga menitipkan ini pada Mama, dia bilang dia akan mengambilnya pada waktu yang tepat, tapi Mama rasa dia tidak akan mengambilnya lagi, maka dari itu kau saja yang menyimpannya."
Gevanya menerima kotak dan kunci tersebut, Apa artinya Gevanya pun tidak tahu. "Seberapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku Bang?"
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
Janji kok author Janji gak bakal sad ending dan semuanya akan baik-baik aja.
__ADS_1