
Plak!
Anjani langsung memberikan pukulan dikepala Ridwan yang membuat Ridwan segera melepas gandengan tangannya kepada Anjani.
"Apaansih An? Kok aku digeplak?" protes Ridwan mengelus kepalanya.
"Biarin! Yang gandeng aku siapa, daritadi kita di liatin sama orang-orang dikira pacaran nanti," jawab Anjani.
"Lah gapapa kali, kalau kita pacaran beneran gapapa kan?" Ridwan menaik turunkan alisnya.
Anjani menghela napas dan menepuk jidat nya. "Lah si kocak!"
"Salahnya dimana?"
"Pertama kamu nyentuh aku, kita bukan mahram akhi, kedua astagfirullah akhi pacaran itu penuh maksiat," jelas Anjani.
"Iya aku tahu, lagipula aku bercanda kok," jawab Ridwan menatap malas Anjani.
"Jadi kalau gak sama aku, kamu mau pacaran sama siapa huh?" Anjani menatap Ridwan.
"Siapa aja yang penting cewek,"
Plak /Anjani menggeplak kepala Ridwan/
Ridwan kembali mengelus kepalanya yang habis di geplak Anjani. "Kamu tahu gak Wan? Semua orang itu pengen punya cita-cita matinya khusnul khatimah, akupun begitu, dan Pacaran ini membuat kita jauh dari jalan Allah dan justru membuat kita semakin dekat dengan kemaksiatan."
"Kalau gak pacaran gimana kita bisa tahu kalau dia jodoh kita, kamu lucu nih," Ridwan menatap tajam Anjani.
__ADS_1
"Eh Akhi!" Anjani balik menatap Ridwan. "Ribuan tahun sebelum kita diciptakan Allah sudah menyiapkan siapa jodoh kita,"
"Tahu rumus ini gak? Sedekat apapun kita kalau kata Allah tidak berjodoh, maka kita tidak akan bersama, tapi kalau sejauh apapun kita, tidak mengenal, tidak saling mengetahui dan dekat, tapi kalau kata Allah kita berjodoh, Kun Fayakun, Allah pasti akan menyatukan kita," lanjut Anjani.
"Terus?"
"Lebih baik saling menjaga kehormatan, kamu jaga kehormatan kamu, dan aku juga sama, kalau sudah jodoh pasti bakalan bersatu kalau gak yah pasti bakal dapat yang lebih baik," jawab Anjani kembali.
Ridwan menganggukkan kepalanya atas ucapan Anjani, dia kemudian berjalan kedepan dan mengambil seutas tali. "Tangan kamu sini."
"Buat apa?"
"Sini aja, nanti kamu tahu," Ridwan memaksa Anjani.
Anjani kemudian menjulurkan tangannya yang membuat Ridwan segera mengikat sebelah tangan Anjani. "Nah kalau gini aku bisa bawa kamu tanpa menyentuh kan."
"Gak harus gini Wan!"
"Kalau gak gini kamu kabur, kita gajadi makan siang nanti, nanti kalau aku sentuh kamu bilang bukan mahram," jelas Ridwan.
Anjani memerah malu sekarang, dia menutup wajahnya dengan map yang dia pake mengeplak kepala Ridwan tadi, dia sangat malu dilihat orang lain di sepanjang koridor.
Sementara itu Ridwan hanya memasang wajah tembok dan tidak peduli akan pandangan sekitar.
"Cie, ngapain tuh?" Suara Adam membuat Ridwan menatap ke sumber suara tersebut.
Adam berdiri menertawakan tingkah kedua temannya itu sembari menggendong Akta karena memang Adam sering membawa Akta pergi bekerja.
__ADS_1
"Diem ah! Bapak Rumah Tangga!" jawab Ridwan berjalan meninggalkan sahabatnya itu sembari tetap menarik tali yang terpasang di tangan Anjani.
"Ridwan, lepasin!"
"Gak!"
"Ridwan!"
"Jawab dulu pertanyaan aku, baru aku lepasin," Ridwan menghentikan langkahnya dan menatap kepada Anjani.
"Apa?"
"Orang apa yang selalu datang kerumah sakit?" tanya Ridwan.
"Orang sakit?" Anjani berpikir dua kali atas pertanyaan ini.
Ridwan mendelik dengan senyuman jahat. "Salah! Jawabannya Dokter."
Ridwan kembali menarik tali yang terpasang di tangan Anjani dan kali ini Anjani hanya bisa pasrah.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum jangan Lupa Like