Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
S2. Hamil Kartu AS


__ADS_3

"Arga dalam keadaan baik-baik saja, tidak usah takut dia cuma demam minum antimo juga sembuh," jawab Ridwan setelah memeriksakan kondisi Arga.


Gevanya mendelik, ia.melipat kedua tangannya kemudian menatap Ridwan malas. "Paracetamol Wan!"


"Nah, itu tahu, aku kan tamu disini, buatin minum dong, Tuan Ridwan haus," jawab Ridwan yang membuat Gevanya hanya bisa menghela napas.


Gevanya berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Ridwan, sementara itu Ridwan memilih menunggu di sofa samping Arga.


"Bagaimana Wan, pilih siapa, Anjani atau Bianca?" tanya Arga tiba-tiba yang membuat Ridwan ingin sekali memberi pukulan telak kepada sahabatnya itu.


"Apaansih ngaco!" kesal Ridwan yang membuat Arga terkekeh.


Arga hanya menghela napas panjang kemudian menatap Ridwan dalam. "Aku pernah loh Wan, hampir kehilangan Gevanya hanya karena terlambat mengungkapkan perasaan, jangan sampai kau berada di posisi yang sama.'


"Ga denger."


/Plak/


Arga memberi geplakan tepat di kepala Ridwan yang membuat Ridwan mengadu. "Napa di geplak sih?"


"Dikasih tahu yang benar, bukannya denger malah protes," kesal Arga yang membuat Ridwan terkekeh tanpa dosa.


"Iya, iya aku denger,"


"Tentukan perasaan kamu dari sekarang Wan, jangan sampai menyesal, karena kesempatan itu tidak datang dua kali, ketika kau sudah punya kesempatan dan kesempatan itu pergi, kau tidak akan bisa mendapatkannya untuk yang kedua kalinya, jadi kuatkan dirimu," jelas Arga yang membuat Ridwan mengangguk.


Ada benarnya juga, Ridwan sebenarnya masih sangat mencintai Bianca, tapi dia terlalu menaikkan gengsinya untuk mengakui hal tersebut, dihadapan Bianca.

__ADS_1


Tak lama setelah mereka berdua duduk disana, tiba-tiba saja suara ketukan pintu membuat Ridwan terpaksa membuka pintu tersebut karena Gevanya ada di dapur.


"Kalian, ngapain?" tanya Ridwan melihat kedatangan Anjani dan Arsyad.


"Mau lihat adekku lah," Arsyad melenggang masuk dengan sebuah rantang ditangannya.


Setelah menemukan Arga, Arsyad langsung duduk di sampingnya dan menaruh rantang tersebut di pangkuan Arga.


"Apa ini kak?" tanya Arga pada Arsyad.


"Sate jengkol!" jawab Arsyad santai.


"Pft! Orang demam di kasih sate jengkol, emang sarap nih orang," Ridwan menahan tawanya mati-matian yang membuat Arsyad mendelik tajam kepadanya.


"Ga, kamu gapapa kan?" tanya Arsyad pada Arga.


"Cuma demam biasa kak, tapi agak mual dan lemas dikit," jawab Arga yang membuat Arsyad mengerutkan keningnya.


"Sembarangan! Dia itu cowok!" Ridwan protes.


"Siapa tahu kayak di novel-novel hamil kartu As,.kalian dokter masa gak tahu?" Arsyad menuding kepada Anjani dan Ridwan.


"Kartu As?" Anjani dan Ridwan saling melempar pandangan.


"Hamil simpati kali?" Anjani berusaha meralat.


"Nah iya itu, cuma keserempet dikit," Arsyad berdesis tanpa dosa.

__ADS_1


Sementara Ridwan yang sudah kadung emosi ingin sekali membogem wajah kembaran sahabatnya itu yang selalu menjadi biang masalah.


"Tapi ada benarnya juga, kayaknya kita harus periksa Gevanya deh siapa tahu dia hamil, atau Arga aja sapa tahu Arga hamil."


Pernyataan Anjani benar-benar membuat Ridwan frustrasi, bagaimana bisa Anjani ketularan Arsyad begini.


"Nah bener,"


"Nih Ga! Testpack, buruan pake," ujar Anjani memberikan testpack kepada Arga yang dia keluarkan dari tasnya.


"Fix, Anjani menolak sadar!" Ridwan frustrasi, dia berdiri dan ingin kembali saja ke rumah sakit.


"Mau kemana Wan!" tanya Arga.


"Mau ungkapin perasaan aku sama Bianca aja lah," jawab Ridwan.


"Kalau dia nolak?"


"Aku seret ke KUA!" jawab Ridwan menghilang dari pandangan mereka semua.





TBC

__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


__ADS_2