
"Mengapa kalian tidak boleh berhubungan, Nabi SAW bersabda: "Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan, maka dari itu kalian haruslah menikah ulang," lanjut Ustad Zaky menjelaskan. "Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, isteriku ini seorang yang suka berzina. Beliau menjawab, Ceraikan dia, dan orang tersebut berkata, tapi aku takut memberatkan diriku dan Rasulullah menjawab, Kalau begitu mut`ahilah dia."
"Mut'ahilah?" Arga mengernyit belum paham.
"Mut'ahillah, atau Nikah mut'ah adalah nikah atau perkawinan yang dilakukan antara laki-laki dan wanita dengan akad dan jangka waktu tertentu," jawab Ustad Zaky. "Tapi karena kondisinya kalau akan menikah ulang kalian menikah biasa saja hanya sekadar untuk menghalalkan yang haram."
Gevanya mendelik, dia menatap Arga sejenak, dia ingin berbicara empat mata dengan Arga sekarang.
"Papa, Ayah, Ustad, aku izin bicara dengan Bang Arga sebentar boleh?" Gevanya memohon izin.
Ketiga mengangguk, membuat Gevanya mendorong kursi roda Arga masuk ke dalam kamar, sesampainya didalam kamar Arga langsung menatap lekat Gevanya yang tampaknya sedikit tertekan.
"Kalau kita sampai dinikahkan ulang, iti berarti tidak ada peluang untuk kita melanjutkan perjanjian ini Bang," Gevanya menatap Arga dalam.
"Yah bagus, berarti itu adalah isyarat dari Allah bahwa kamu benar-benar sudah ditakdirkan menjadi istri Abang selamanya," jawab Arga yang membuat Gevanya berdecak kesal.
"Ini tidak benar, ketika Abang halal menyentuh ku, apa yang akan Abang lakukan nanti?"
__ADS_1
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Arga menarik tangan Gevanya dan menggenggamnya erat, dia berbisik pelan dengan deru napas penuh penekanan. "Abang akan meminta hak seorang suami dan memberikan kamu Arga junior."
Deg!
"Kita nikah mut'ah saja, kita akan menentukan perjanjian sampai kapan jangka waktu pernikahan kita," Gevanya menatap Arga saat melepaskan diri nya dari genggaman tangan Arga.
"Lalu bagaimana dengan Ayah Raden? Kamu mau Ayah drop karena ternyata pernikahan putrinya tidak baik-baik saja? Aku berusaha bersikap baik tapi kenapa kau begitu sulit diajak bekerjasama?" Arga menatap Gevanya dengan tatapan tajam kali ini.
"Karena ini tidak benar!"
Kali ini dia tidak ingin di bantah apa lagi untuk memperjuangkan pernikahannya sendiri. "Ge? Abang yakin, jika dua orang sudah ditakdirkan untuk bersama, maka dari sudut bumi manapun mereka berasal pastilah mereka akan bertemu. Seperti abang dengan mu."
"Jika dua orang ditakdirkan bersama? Apakah ini bagian dari takdirku?" Kalimat Arga barusan terngiang di kepala Gevanya seperti sebuah tamparan telak untuk Gevanya yang selama ini bingung dengan perasaannya.
"Tidak ada perjanjian lagi diantara kita, yang ada hanya Abang, Kamu dan Hati kamu untuk Abang," Arga menggerakkan roda kursinya keluar dari kamar disusul Gevanya yang kali ini terdiam.
Papa Ardan, Ayah Raden dan Ustad Zaky sudah menunggu diluar, mereka tersenyum saat Arga dan Gevanya kembali berada di hadapan mereka.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Mau tidak mau kalian harus menikah ulang," Ayah Raden buka suara.
Arga mengangguk, dia melirik Gevanya dengan ekor matanya. "Aku dan Gevanya akan melakukan akad ulang."
Mendengar itu Gevanya pasrah untuk kesekian kalinya dia mengangguk pada akhir pembicaraan tanpa ada perlawanan.
•
•
•
TBC
Jangan Lupa Like
Assalamualaikum.
__ADS_1