
Kali ini melanjutkan BAB 37 yah mungkin cukup sampai situ sudut pandang Arga hehehe.
Selamat membaca.
•
"Kamu kok bangun?" Arga menguap perlahan.
Jam menunjukkan pukul dua malam, saat Arga melirik arloji di pergelangan tangannya, ia menatap Gevanya yang duduk dari posisinya di ranjang.
Memang Gevanya belum boleh pulang karena menurut Ridwan dia harus melakukan perawatan intensif lebih lanjut.
"Bang Arga juga bangun?" Gevanya mendelik menatap Arga kemudian membantu Arga untuk duduk diatas ranjang dari kursi rodanya.
Arga menidurkan kepalanya di paha Arga kemudian menatap wajah istrinya itu dari bawah. "Mau sepertiga malam, tapi kok Abang nyaman gini yah."
Gevanya mengusap rambut Arga dan mencubit hidung Arga. "Sama, jamaah aja kalau gitu, Abang jadi imamnya."
"Kamu kan lagi sakit, sayang, emang kuat?"
"Masa sholat aja gabisa, lagipula aku udah agak mendingan kok gak uring-uringan lagi," jawab Gevanya.
"Uring-uringan nya kalau ditinggalin sama Abang yah?"
"Mana ada!"
"Buktinya pas awal-awal sebelum sadar kamu ngigau, Bang Arga jangan tinggalin aku," Arga meledek yang membuat wajah Gevanya memerah.
"Apaansih Bang! Gak lucu tahu gak," Gevanya melipat kedua tangannya.
Arga bangkit kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan video yang sempat direkam Arga saat itu.
__ADS_1
Gevanya mendesis karena memang itu dirinya yang sedang mengigau karena takut kehilangan Arga. "Sempat-sempatnya direkam."
Arga tertawa puas kemudian mencubit pipi istrinya itu. "Ngapain malu? Abang seneng kok, berarti kamu benar cinta sama Abang."
Gevanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu Arga. "Jangan tinggalin aku."
"Gak akan sayang,"
"Kalau semisal Abang tinggalin aku, alasan Abang apa saat itu?" Pertanyaan Gevanya tidak masuk di logika pada pukul dua malam saat ini.
"Kepincut wanita lain mungkin?" jawab Arga santai.
"Abang ada niat selingkuh?" Gevanya melepas pelukannya dan menatap Arga tajam.
"Mungkin?" Dengan tanpa dosa dan beban Arga mengucapkan itu yang membuat Gevanya kesal bukan main.
Gevanya mencubit pinggang suaminya keras yang membuat Arga mengadu. "Dasar kulkas!"
"Janji? Kita mau ketemu berapa kali?"
"Dua kali?" jawab Arga menebak.
"Sekali di dunia," Gevanya menyodorkan kelingkingnya kepada Arga.
Arga membalas menautkan kelingkingnya juga. "Dan sekali lagi disurga."
Arga memeluk istrinya itu, niat untuk melakukan sepertiga malam sepertinya harus tertunda sejenak karena Gevanya kembali kambuh yaitu tidak ingin melepaskan Arga.
Sementara itu dikoridor memandang melalui jendela transparan, Loki duduk diatas kursi rodanya, yah dia masih menjalani perawatan bersama Bianca karena memang kecelakaan bersama Gevanya dulu membuat dia kehilangan fungsi kedua kakinya.
"Bagaimana? Sakit?"
__ADS_1
Wajah tengil Ridwan sang Dokter segala scene itu menghiasi pemandangan Loki, Ridwan yang memang bertugas sampai pagi melihat Loki memperhatikan kedalam ruangan rawat Gevanya sehingga membuat Ridwan menotice sosok Loki.
"Pergi sana, ini bukan urusanmu," ketus Loki membuang muka dan enggan memperlihatkan wajah cemburunya dihadapan Ridwan.
Ridwan mendelik. "Pirgi sini ini bikin irisinmi."
Terdengar meledek, wajah Loki memerah dan Ridwan langsung meraih kepala Loki dan menatapnya sesaat sebelum dia tertawa puas. "Wajahmu berkata kalau kau cemburu."
"Bukan urusanmu!"
"Oh iya? Bukankah kau yang meninggalkan Gevanya, kenapa sekarang kau cemburu?" Ridwan melipat kedua tangannya.
Loki mengepalkan kedua tangannya. "Diam!"
"Sepertinya aku harus merekomdasikan bagian konsumsi menambahkan menu rumah sakit baru, Sop Ludah sendiri mungkin?"
Loki kesal, ia melancarkan bogeman ke arah wajah Ridwan yang sedang mengsejajarkan tubuhnya dengan Loki.
Bugh! Ridwan menahan serangan Loki da tersenyum jahat. "Jangan pernah main tangan, Loki."
•
•
•
TBC
Assalamualaikum.
Jangan Lupa Like
__ADS_1
Si Ridwan tengil banget sehhhh