Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
S2. Menaruh Rasa Percaya


__ADS_3

"Emang kamu gamau punya anak?"


Pertanyaan Arga membuat Gevanya mengangkat kepalanya, dia menggeleng dan menatap suaminya.


"Semua orang pasti pengen punya anak, aku juga, tapi kan tidak semua apa yang kita inginkan bisa kita dapatkan, berdoa dan berikhtiar aja, Insha Allah."


Arga menunduk atas pernyataan optimis dari istrinya, ketika istrinya bisa menerima dirinya dengan apa adanya dan bersikap optimis kenapa dirinya harus merasa patah dan insecure atas kabar ini.


"Allah tuh baik, baik banget, Allah gak sedang ngasih kita kesusahan, Allah mengerti kita dan paling dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita," Gevanya berusaha menyemangati suaminya. "Ayok terapi! Masa mau nyerah sekarang sih?"


Arga mengangguk dan tersenyum, dia kembali mendapat dorongan semangat dari dalam dirinya untuk kembali semangat menghadapi semua ini dan semuanya pasti akan baik-baik saja.


Gevanya meraih kursi roda Arga dan mendorongnya keluar dari ruangannya menuju koridor rumah sakit, Arga sudah menjalani terapi okupasi tahap pertama sehingga kini Gevanya ingin membantunya belajar berjalan.


"Kita mau ngapain?" tanya Arga pada Gevanya.


Gevanya tersenyum. "Mau ngebedah, Abang."


Gevanya terkekeh dan mrncubit pelan pipi Arga, Arga hanya pasrah, cukup lama Gevanya akhirnya tersadar bahwa dia melupakan sesuatu di ruangannya.


"Bang, Aku balik dulu yah, Abang tunggu disini bentar aja."


Arga berdeham dengan isyarat mengiyakan ucapan Gevanya, Gevanya berjalan kembali menuju ruangannya meninggalkan Arga disana.


"Arga!"

__ADS_1


Suara Adam membuat Arga berbalik dan mendapati sahabatnya itu ada dibelakangnya tengah menggendong Akta pertama dari istrinya.


Seantero rumah sakit sudah tahu bahwa Adam memang membawa anak ke rumah sakit karena Dikta, istrinya baru saja melahirkan.


"Masih aja bawa anak Dam?"


"Iya, gak ada yang jagain, eh Ar, kamu kenapa kok lesu begini?" tanya Adam balik.


"Tidak apa-apa Dam."


"Jangan berbohong Arga, wajahmu sudah kutebak, pasti karena efek pil yang akan kau konsumsi dalam masa pemulihan kan?" tebak Adam yang membuat Arga menatapnya serius.


"Bagaimana bisa kau tahu?" tanya Arga yang membuat Adam terkekeh.


"Aku yang bantu Gevanya selama masa pemulihan kamu, jadi bagian obatan itu aku sudah hapal, gausah takut apalagi ragu, semua sudah ada yang atur. Kalau rejeki seberapa banyakpun kamu mengkonsumsi obatan ini, kamu bakal tetap punya anak, tetap ikhtiar aja."


Arga terdiam perlahan, ia mendengar cerita bahwa banyak orang yang mengonsumsi obatan seperti ini dan kuasa Allah mereka tidak mengalami dampak apa-apa, haruskah Arga optimis sekarang.


"Hanya dua puluh persen Dam, hanya sedikit dari seratus persen itu."


"Dan bisa saja kamu bagian dari dua puluh persen itu," jawab Adam menunjuk Arga.


"Kenapa kau bisa begitu yakin sih Dam dengan segala kemungkinan?"


"Karena aku menaruh kepercayaan ku bukan pada manusia tapi pada Allah, karena Allah lah yang sebaik-baik nya tempat kita titipkan rasa percaya dan akan mendapatkan balasan lebih baik," jawab Adam.

__ADS_1


Deg!


"Kalau kamu ragu, berarti kamu meragukan kehendak Allah?"


Kenapa Arga begitu bodoh dia memiliki Allah yang maha segalanya dan dia masih ragu untuk itu.


Arga tersenyum kepada Adam, Adam membalas senyuman itu kemudian mengambil Akta dari pangkuan Arga.


"Terima kasih."


"Memang aku memberikan mu apa?"


"Tidak ada."


Keduanya tertawa renyah sebelum Gevanya datang dan merasa bingung dengan pembicaraan kedua sahabat itu.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like

__ADS_1


__ADS_2