Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
S2. Huru-Hara Hati Ridwan


__ADS_3

Beberapa bulan semenjak kejadian dimana Arga sudah mengetahui fakta yang berlaku, tidak ada perubahan mendalam bagi kehidupan Arga, hubungan dirinya dan ayahnya masih renggang karena dia belum bisa menerima fakta dan kenyataan yang berlaku.


Huek!


Suara orang mual justru terdengar bariton, dimana suara tersebut adalah suara Arga, Gevanya beberapa hari ini di sibukkan dengan Arga yang mual dan muntah namun hanya mengeluarkan cairan bening.


"Kita ke rumah sakit yah Bang?" Gevanya mengelus bahu Arga yang lemas.


Arga menggeleng. "Gausah dek, ini cuma masuk angin karena begadang ngerjain laporan keuangan usaha yang Abang jalankan."


"Tapi, kalau gak diperiksa nanti Abang makin lemas, atau aku hubungi Ridwan yah, biar datang kesini," ujar Gevanya.


"Kan kamu juga dokter dek, kenapa gak kamu aja," jawab Arga yang membuat Gevanya menghela napas.


"Aku spesialis penyakit dalam, bukan dokter umum, kalau dokter umum itu Ridwan sama Mas Adam, yaudah aku telpon Ridwan dulu yah," Gevanya berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil ponselnya.


Sementara itu Ridwan sedang berada di kantin rumah sakit, tentunya tidak sendirian dia makan siang tapi tidak berdua namun bertiga.


Ada Arsyad ditengah-tengah Anjani dan Ridwan, bayangan Ridwan untuk makan siang berdua hancur sudah.


"Ngapain sih disini?" protes Ridwan pada Arsyad.


"Lah suka-suka saya."


Ridwan mendengus sebal, ia kemudian mulai mengunyah makanannya sampai tak lama kemudian suara telepon membuat Ridwan meraih saku celananya dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo?"


"Assalamualaikum, Wan?"


"Waalaikumsalam, iya Ge, kenapa?" tanya Ridwan masih mengunyah makanannya.


"Bang Arga, lagi sakit kamu bisa gak ke rumah buat periksa dia?" jawab Gevanya yang membuat Ridwan mendengus napas sebal.


"Manja amat tuh manusia, suruh ke rumah sakit lah," Ridwan tidak terima.


"Bang Arga gak mau. Buruan lah kesini," Gevanya bersikeras yang membuat Ridwan menyerah.


"Yaudah tunggu, bilangin sama Arga, kalau kek gini terus lama-lama aku unbestie dia," jawab Ridwan mematikan sambungan telepon.


Ridwan langsung berdiri dan meninggalkan Anjani bersama Arsyad, Anjani mengangkat kepala dan menatap Ridwan. "Mau kemana Wan?"


Ridwan menunjuk Arsyad yang membuat Arsyad tersedak kentang yang dia makan, setelahnya Ridwan berlalu begitu saja meninggalkan mereka semua.


Ridwan terlebih dahulu berjalan menuju ruangannya untuk mengambil beberapa alat medis kemudian kembali berjalan ke koridor hingga dia tidak sengaja berpapasan dengan Bianca.


"Wan?"


"Iya?" Ridwan menatap Bianca.


"Mau kemana?" tanya Bianca sekedar berbasa-basi.

__ADS_1


Ridwan menghela napas panjang, tidak seharusnya dia bersikap dingin lagi pada Bianca. "Mau ke rumah Arga, napa mau ikut?"


"Hehe, gak, emang Arga kenapa?"


"Sakit dia, keselek cinta Gevanya kali," jawab Ridwan mengerdikkan bahu.


Bianca tersenyum, entah kenapa hatinya menghangat atas sikap Ridwan padanya, Bianca kemudian menatap Ridwan. "Setelah dari sana, makan siang yuk."


"Hm, aku udah makan sih, tapi kalau kamu yang bayar, oke!"


Serius? Bianca tidak menyangka bahwa Ridwan sudah kembali seperti dulu, sebenarnya Ridwan sendiri bingung, dia masih cinta dengan Bianca setelah kalimatnya waktu itu, jujur dia ingin jujur bahwa dia menjadikan Anjani sebagai pelarian.


Tapi setelah kehadiran Arsyad, justru Ridwan semakin kehilangan hasratnya untuk menjalin hubungan Anjani.


Terkadang Ridwan bingung sendiri, ini ibarat kata hati Ridwan sedang mengalami huru-hara.





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2