Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
BAB 45. Menuju Akad


__ADS_3

"Kalian udah bisa pulang," Ridwan mencatat sesuatu di papan map yang dia bawa.


Mendengar itu membuat Gevanya dan Arga tersenyum, mereka berdua sudah mengemasi barang mereka dan hari ini adalah hari mereka bisa keluar dari rumah sakit ini.


"Akhirnya aku tidak lagi melihat wajahmu," Arga tersenyum lega kepada Ridwan.


"Jadi maksudmu? Wajahku kenapa hah?" tanya Ridwan kesal yang membuat Arga tidak memperdulikannya.


Arga memilih mengambil fokus menatap wajah istrinya, Gevanya sementara Ridwan hanya bisa menjadi nyamuk diantara mereka.


"Aku gak sabar banget buat akad ulang kita sore ini, sayang," Arga mengelus wajah Gevanya dan mencium pipinya.


"Bucin teros!"


"Apaansih Perjaka Tua!" balas Arga tanpa menoleh ke arah Ridwan.


Memang mereka berdua akan menjalani akad ulang sore ini atas keputusan kedua belah pihak keluarga, karena memang Arga sudah tidak tahan untuk menjadikan istrinya itu halal untuk disentuh.


"Wan? Kamu, Anjani, Adam, Bianca, Dikta sama Aurel datang kan?" tanya Gevanya menatap Ridwan yang membuat Ridwan melepas kacamatanya dan mengangguk.


"Jadi, nanti sku jemput mereka semua."


"Pake ambulans yah," Gevanya berbinar kemudian membuat Ridwan mendelik.


"Gak salah? Mau ke akad nikah pake ambulans? Woi yang ada diketawain," sewot Ridwan menolak.


Mendengar itu membuat ekspresi Gevanya berubah sedih yang membuat Gevanya menatap Arga. "Bang? Ridwan gak mau nurut."

__ADS_1


Arga menatap tajam Ridwan. "Ridwan ayoklah."


"Gak! Gak mau, aku ada mobil cakep masa naik ambulans," tolak Ridwan membuang mukanya.


"Ridwan," Gevanya menatap dengan mata berkaca kepada Ridwan.


"Gak!"


"Ini tuh aku lagi ngidam," jawab Gevanya yang membuat Ridwan menatap serius istri sahabatnya itu.


"Kamu gak lagi hamil Ge!"


"Kan ngidam gak untuk orang hamil aja, mau yah," Gevanya memohon.


"Gak! Dibilang gak yah gak. Prik banget sih naik ambulans," jawab Ridwan yang membuat Arga menggerakkan kursi rodanya ke arah Ridwan.


Ridwan enggan menatap wajah Arga yang keliatan memelas, Arga meraih tangan Ridwan. "Mau yah, Wan."


"Gak!"


"Masalahnya Pak! Saya yang tidak mau!" jawab Ridwan bersikap formal.


Arga tidak kehabisan ide, ia kemudian menggenggam kencang tangan Ridwan yang membuat Ridwan meringis.


"Kalau kau gak mau, balikin uang dua puluh juta yang kau pinjam bulan lalu, sini," ancam Arga yang membuat Ridwan mendelik.


"Wah mana bisa main ngancam-ancam gini!" Ridwan menolak.

__ADS_1


"Dua puluh juta, atau naik ambulans?"


"Yaudah aku mau! Prik banget sih jadi pasangan suami istri, heran SAYA!" Ridwan berjalan kesal meninggalkan keduanya di ruangan itu.


Setelah kepergian Ridwan, Arga kembali menggerakkan kursi rodanya ke samping ranjang Gevanya dan melakukan tos dengan istrinya itu.


"Makasih Bang!" jawab Gevanya memeluk Arga.


"Apasih yang gak buat kamu, sayang," jawab Arga membalas pelukan Gevanya.


Keduanya saling melakukan pelukan disana sembari mengumbar ke romantis, sebelum Gevanya melepas pelukannya dan meraih tas mereka, Gevanya menaruh tas tersebut dan menaruhnya di pangkuan Arga.


Gevanya mendorong kursi roda Arga keluar dari ruangan rawatnya, dan berjalan melewati koridor menuju luar rumah sakit.


Namun belum sempat mereka melewati koridor, suara seseorang memanggil membuat Gevanya berbalik.


"Loki?"


Gevanya dan Arga melempar tatapan bingung atas kondisi Loki saat ini..





TBC

__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


__ADS_2