
"Abang bukan Kak Arsyad dek, memang mudah mengatakan untuk berdamai dengan keadaan, bahkan ketika kata ikhlas itu hadir secara terpaksa, Abang jadi bingung sendiri."
Kalimat Arga membuat Gevanya diam. Mau bagaimanapun juga ucapan tidaklah semudah perbuatan jadi berat rasanya apalagi bagi Arga yang menjalani.
"Aku tanya sama Abang, Abang bahagia gak sebelum tahu kalau Mama Via bukan Mama kandung Abang?"
Arga terdiam atas pertanyaan istrinya yang membuat dia menghela napas berujung mendesah perlahan sebelum menjawab semuanya.
"Mama Via baik, dia tidak memperlihatkan bahwa Abang adalah anak tiri, bagaimanapun juga Mama Via sudah seperti ibu kandung bagi Abang," jawab Arga menatap Gevanya.
Gevanya tersenyum, dia mengode suaminya untuk membuka mulutnya kemudian kembali menyuapi kue ke mulut Arga.
"Abang sebenarnya udah tahu jawabannya tapi Abang gak peka aja," Gevanya berucap.
Ucapan dengan artian apa itu, Arga jadi bingung sendiri jadinya akan arti dari ucapan Gevanya padanya.
"Apa maksudnya, dek?" tanya Arga yang membuat Gevanya tersenyum manis.
"Bahagia kita gak dicari tapi harus kita sadari, bagaimana bisa kita mendefinisikan bahagia kalau kita sendiri gak sadar akan arti bahagia itu."
Jleb!
Pelan, santai, sederhana dan tidak pernah diksi namun kenapa ucapan Gevanya seolah menikam Arga begitu dalam setidaknya untuk saat ini.
__ADS_1
Sementara itu masih di halaman parkir, Arsyad, Ridwan dan Anjani kini masih dalam posisi yang sama.
"Aku maunya makan malam berdua sama kamu aja sayang," Arsyad mengedipkan mata kepada Anjani.
Melihat itu membuat Ridwan menatap jijik. "Sayang. Endasmu!"
"Sirik aja," sengit Arsyad tidak terima.
Anjani pusing sendiri, entah ada dosa apa dia sehingga harus dipertemukan dengan Arsyad dan Ridwan setidaknya di malam yang damai ini.
"Stop! Aku lapar mau makan, aku gak mau ikut salah satunya, kalau kalian gak mau mending aku makan sendiri."
Anjani hendak pergi, namun segera ditahan oleh Ridwan dan Arsyad, Ridwan menghela napas sebelum berkata. "Oke, aku mau makan malam bertiga."
Anjani mengangkat jempol, ia kemudian masuk ke mobil Arsyad lebih tepatnya di kursi tengah, Ridwan ingin menyusul Anjani sebelum Arsyad menarik kerah kemejanya.
"Curug! Kamu nyetir." Arsyad menjejalkan kunci mobil kepada Ridwan.
"Enak aja! Ogah!" tolak Ridwan tidak terima, Arsyad tersenyum smirk yang membuat perasaan Ridwan tidak enak.
"Kalau kamu tidak mau, yaudah gausah ikut," Arsyad melipat kedua tangannya kemudian berjalan pergi sebelum Ridwan menarik tangannya.
Arsyad yang ditarik seketika jatuh tapi Ridwan langsung menangkapnya sehingga terjadi adegan yang selalu ada di sinetron.
__ADS_1
"Dih astagfirullah najis!" Ridwan melepas tangannya yang membuat Arsyad seketika jatuh ke tanah.
"Kenapa di lepas?" protes Arsyad yang merasakan sakit akibat terjatuh.
Ridwan tidak menggubris dia segera masuk ke mobil Arsyad mengambil tempat di kursi pengemudi, Arsyad juga masuk ke dalam mobilnya dan duduk tepat di samping Anjani.
"Calon istri Abang mau makan dimana, kan sekarang kita udah punya supir pribadi," tanya Arsyad menyindir Ridwan yang tampak sebagai sopir bagi majikannya.
"Dimana aja boleh," Anjani fokus memainkan ponselnya sampai tidak sadar ada intrik yang terjadi di antara dua pria tersebut.
Ridwan langsung menjalankan mobil tersebut dengan keadaan misuh-misuh sementara Arsyad tersenyum penuh kemenangan.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1