Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
BAB 33. Harusnya Tak Begini


__ADS_3

Mengetahui kabar Arga kecelakaan membuat Gevanya dan Ayah Raden bergegas ke rumah sakit dimana Arga dan Papa Ardan dilarikan.


Sesampainya disana sudah ada Mama Via yang tampak sedih, Gevanya langsung meraih tangan mertuanya dan menggenggamnya erat.


"Dimana Bang Arga?" tanya Gevanya dalam.


Sebuah pertanyaan bernada pilu berbalut kekhawatiran, entah bagaimana skenario hidup Gevanya begitu rumit, apa karena pekerjaannya seorang Dokter sehingga dia harus berurusan dengan rumah sakit, rumah sakit dan rumah sakit lagi.


Mama Via menggelengkan kepalanya dia tidak sanggup menjawab pertanyaan Gevanya, Gevanya yang masih menanti jawaban dari segala pertanyaannya menaikkan tangannya ke bahu Mama Via dan menanyakan hal tersebut sekali lagi.


"Dimana Bang Arga?" tanya Gevanya.


Kali ini suaranya melemah, sangat lemah bahkan hampir tidak terdengar atau Gevanya lebih tepatnya disebut mencicit daripada bertanya.


Kaki Gevanya serasa lemas, cukup! Ekspresi itu sudah sangat menggambarkan apa yang dikhawatirkan Gevanya, apakah semua perasaan overthinking itu nyata?


Atau memang ini sebatas ilusi Gevanya sendiri, Ridwan dan Bianca yang menangani Papa Ardan dan Arga tampak keluar dengan membawa seorang pasien yang Gevanya tahu itu Papa Ardan.


"Maaf Ge, Om Ardan dan Ustad, harus kami pindahkan ke ruangan rawat ICU untuk perawatan lebih lanjut," Bianca menjawab pertanyaan Gevanya dan berjalan bersama beberapa tenaga medis lain membawa brankar berisi Papa Ardan dan Ustad Zaky.


"Tapi bagaimana dengan Bang Arga?" Pertanyaan itu kembali terulang jelas sangat terulang di kepala Gevanya.


"Kecelakaan fatal ini membuat mobil yang dikendarai Om Ardan terbalik, dan Arga dia sudah meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, jenazahnya ada di ruang jenazah," Ridwan menjawab dengan sejujur-jujur nya.

__ADS_1


Deg!


Gevanya langsung jatuh ke lantai, kenapa takdir begitu jahat padanya disaat dirinya sudah mendapat pencerahan untuk menerima segalanya, mengungkapkan perasaannya namun kenapa semua begitu sulit.


Gevanya menatap Ayahnya dan menggelengkan kepalanya. "Ini mimpi kan Yah? Ini pasti mimpi."


Gevanya berusaha membangunkan dirinya dari mimpi namun entah kenapa semua ini seolah nyata dan benar-benar nyata.


"BANG ARGA!"


Tangis Gevanya luruh jatuh saat Ayah Raden memeluknya, Gevanya lemas dia tidak tahu harus bereaksi apa selain menangis sekarang.


Gevanya meminta kepada Ayahnya untuk mengantarkan dirinya menuju ruang jenazah, mereka berdua berjalan ke ruang jenazah, meninggalkan Bu Via yang masih terpukul disana.


Didepannya sudah ada sebuah tubuh tertutup kain putih, membuat Gevanya menutup mulutnya dengan tangan berusaha meredam isakan tangisnya.


"Bang Arga?"


Tangan Gevanya menjulur kedepan, dia meraih ujung kain tersebut dan menyingkapnya ... Deg!


Gevanya lemas, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain air mata yang jatuh, takdir begitu jahat, sosok tubuh tak bernyawa itu memanglah Arga suaminya.


"Bang Arga jahat, Abang bilang mau berjuang tapi kenapa Abang ninggalin aku?" Gevanya meraih tangan Arga.

__ADS_1


Dingin.


Bahkan wajah Arga sudah sangat dingin saat Gevanya menyentuhnya. "Abang pergi tanpa mendengarkan ini dariku, aku cinta sama Abang, Abang cinta pertama aku, tapi kenapa Abang ninggalin aku?"


"Aku udah berjanji sama diri aku, setelah akad ulang kita aku akan menjelaskan sejujurnya, tapi kenapa Abang pergi?"


"Abang jahat," Gevanya memeluk tubuh dingin dan kaku Arga.


Kenapa semua begitu jahat padanya.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa like


Janji gak bakal sad ending, kalian harus percaya janji Author.

__ADS_1


__ADS_2