Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
BAB 37. Ayok Akad


__ADS_3

Menatap wajah Arga membuat Gevanya menangis sejadi-jadinya, Arga benar-benar dihadapannya, sedang menatapnya sendu dengan tatapan tidak percaya.


"Abang beneran masih hidup kan?" Gevanya mencoba memastikan, dia menatap Arga lekat.


Arga tersenyum, kemudian mengusap pelan wajah Gevanya. "Setelah pergi bersama Ayah Raden kamu yang kecelakaan terus koma selama seminggu, Abang nungguin terus, sampai gagal Akad Ulang kita."


"Ayok Akad! Aku mau Akad sama Abang," Gevanya bersemangat yang membuat Arga terkekeh.


"Ga sekarang sayang, kamu harus sembuh dan benar-benar pulih dulu, untuk jadi Istri yang Halal Abang sentuh," jawab Arga yang membuat Gevanya memeluk erat Arga sekali lagi.


Ditengah pelukan itu, Gevanya langsung flashback kejadian tersebut, ternyata mobil yang ia tumpangi dan Ayah Raden kecelakaan parah bukan terperanjat ke pinggir jalan melainkan melewati pembatas jalan.


Dan ternyata semua kejadian di alami Gevanya adalah bagian dari sebuah Lucid Dream, dimana dirinya mengalami mimpi disaat dirinya Koma, dimana pada kehidupan nyata dia belum mengungkapkan sebuah perasaan sehingga dia memimpikan orang yang ingin dia sampaikan meninggal, dan itu adalah Arga.


Lalu? Cinta Pertama? Kotak? Surat? Apakah itu hanya mimpi Gevanya?


Gevanya menatap ke arah nakas, terlihat sebuah kotak dan secarik kertas yang sama dengan dalam mimpinya.


"Ini buat kamu," Arga memberikan kotak tersebut. "Rencananya akan Abang berikan setelah Akad ulang kita, silakan dibuka."


Gevanya menggeleng, dia langsung memeluk erat Arga dan membenamkan kepalanya di dada Arga. "Aku udah tahu apa isinya."


"Sekarang aku yang mau jujur," lanjut Gevanya yang membuat Arga melepas pelukan tersebut.


"Apa?"


"Bang Arga adalah cinta pertama aku,"


Deg!


Arga mengernyit, apakah yang dia dengar adalah sebuah perkataan bualan atau memang itu terdengar sebuah candaan.


"Apa?" Arga mengulang tak percaya.

__ADS_1


"BANG ARGA CINTA PERTAMA AKU!" Gevanya berteriak lantang.


Senyum mengambang dari Arga langsung nampak yang membuat Gevanya membuang muka karena malu.


"Kok dibuang mukanya? Sayang dong," Arga meraih pipi Gevanya kemudian mengelusnya.


"Aku malu,"


"Kok malu?"


"Ga enak ih,"


"Ga enak kasih kucing sana,"


"BANG ARGA IH!"


Gevanya memeluk Arga kembali, membuat Arga mengelus puncak kepala istrinya itu, pelukan Gevanya seolah enggan melepas Arga.


"Jangan tinggalin aku,"


"Aku bakal nangis, depresi dan gak bisa hidup tanpa ada Abang,"


"Kamu mimpi apa sih selama koma, kok berubah pikiran gini,"


"Gaada, cuma pengen aja," Gevanya berbohong. "Buat apa aku memikirkan masa lalu kalau masa depanku adalah Bang Arga."


Arga tersenyum kemudian mencubit gemas istrinya itu. "Lepasin dulu dong."


"Gak!"


"Kamu kok jadi manja Ge?"


Gevanya tidak menjawab sampai suara pintu terdengar terbuka dimana yang masuk adalah Ridwan dan Ayah Raden.

__ADS_1


"Ge? Kamu udah sadar nak? Maafin Ayah yah," Ayah Raden tersenyum senang sekaligus terharu melihat putrinya itu.


"Ayah gapapa kan?"


"Gapapa cuma patah tangan aja dikit,"


"Cuma, dong," Ridwan menimpali. "The power of Bapack-Bapack."


Ayah Raden menatap tajam Ridwan, Ridwan yang ditatap langsung salah tingkah.


PLAK! Sebuah tamparan ringan tapi mengejutkan diberikan Gevanya kepada Ridwan.


"Lah kok?" protes Ridwan.


"Kamu ngeselin di mimpi aku soalnya," jawab Gevanya tanpa merasa berdosa.


"Udahlah, capek, sini aku periksa dulu, kondisi kamu udah sehat apa belum," Ridwan ingin memeriksa Gevanya namun Gevanya enggan melepaskan pelukannya dari Arga.


"Lepas dulu dek," Arga membujuk Gevanya namun Gevanya menolak.


"Ini sebenarnya ada apa sih?" Ridwan pusing sendiri. "Lepas dulu Ge mau sembuh gak? Bandel banget anak si Raden."


"Hei!" Ayah Raden berdehem.


"Pensiun ajalah aku jadi dokter, Punya pasien kok bucin teros!" Ridwan keluar dari ruangan itu dengan raut wajah kesel.





TBC

__ADS_1


Assalamualaikum


Edisi masih ngambek, semalam di omelin Readers jadi satu bab aja.k


__ADS_2