
Arga yang menggenggam erat tangan Gevanya kembali menangis membuat air matanya jatuh tepat ditangan istrinya itu, tak lama kemudian tangan Gevanya mulai bergerak perlahan membuat Gevanya membulatkan mata sempurna.
"Ge?"
Gevanya perlahan membuka matanya kemudian melenguh perlahan merasakan sakit di bagian lengannya.
Melihat itu Arga segera menggerakkan roda kursinya menuju bel panggilan untuk tenaga medis, Arga menekan bel tersebut dengan cepat yang membuat Bianca yang menangani Gevanya segera datang.
"Cepat periksa!" titah Arga tersenyum bahagia melihat Gevanya sadar.
Bianca mengangguk kemudian memeriksakan kondisi Gevanya setelah selesai periksa Bianca mendapat kesimpulan bahwa Gevanya sedang dalam kondisi baik-baik saja.
"Dia sudah baik-baik saja hanya perlu istirahat," Bianca mengharapkan badannya ke Arga.
"Apakah tidak ada proses kuretasem" tanya Arga yang mengetahui bahwa Gevanya sudah mengalami keguguran
Arga memelankan suaranya karena merasa Gevanya belum sepenuhnya sadar dan menyimak obrolan mereka.
"Kuretase?" Gevanya yang sudah sadar lirih menatap Arga yang tengah mengobrol dengan Bianca. "Kenapa aku harus menjalani kuretase?"
Pikiran Gevanya melebar kemana-mana dia meraba perutnya sendiri dan merasa bahwa sesuatu yang tidak baik tengah menimpa kandungannya.
__ADS_1
"Tidak perlu, keguguran Gevanya itu keguguran total karena usia kandungannya masih muda sehingga tidak jaringan rahim yang harus di keluarkan, dia hanya perlu istirahat," Bianca menjelaskan.
Arga mengangkat alisnya. "Maksudnya?"
"Keguguran bisa dibagi menjadi dua henis, yakni keguguran tanpa kuretase dan yang harus menjalani kuretase. Kuretase pada kasus keguguran adalah suatu prosedur yang dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan sisa jaringan janin yang masih tertinggal di dalam rahim supaya perdarahan bisa berhenti," jelas Bianca kembali. "Dan Gevanya hanya keguguran tanpa kuretase."
"Jadi aku keguguran?" Suara Gevanya meninggi, Arga dan Bianca membalikkan badannya menatap Gevanya.
Tatapan nanar Gevanya membuat semuanya berubah dingin, terlebih malam itu suasana rumah sakit sangat dingin.
Bola mata Bianca bergerak kesana kemari tidak siap menatap Gevanya yang menanti penjelasan di atas ranjang pasiennya.
"Ca! Aku keguguran?" Gevanya bertanya sekali lagi kepada Bianca yang membuat Bianca menundukkan kepalanya. "Jawab Ca!"
Bianca berjalan keluar dari ruangan Gevanya meninggalkan Arga dan Gevanya berdua di ruangan itu.
Hening sesaat, Gevanya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi, dia mengusap perutnya sendiri dan perlahan menangis.
"A-anak aku mana?" Tangis Gevanya luruh dia akhirnya pecah dalam tangisan kini suara isakan tangis Gevanya memenuhi ruangan itu.
Arga yang melihatnya merasa tidak tega dan harus bagaimana, dia menggerakkan kursi rodanya ke ranjang Gevanya kemudian berdiri perlahan-lahan untuk duduk di tepi ranjang Gevanya.
__ADS_1
"Anak aku mana!" Gevanya depresi dia benar-benar frustrasi.
Walaupun Loki tidak mengakui anak itu dan anak itu hasil diluar nikah, tapi hati siapa yang tidak hancur harus kehilangan kandungan yang bahkan belum genap satu bulan, walaupun begitu hati Gevanya tetap saja hancur.
"Anak aku mana Bang?"
Arga menggeleng kemudian menarik Gevanya ke dalam pelukannya dan mengusap puncak kepala Gevanya yang terbalut hijab dan menciumnya perlahan.
"Kamu yang kuat, yah, ada Abang disini," Arga memeluk erat Gevanya.
Gevanya perlahan sesenggukan dalam pelukan Arga, dirinya merasa semuanya benar-benar berakhir.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like