Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
BAB 38. Sudut Pandang Arga


__ADS_3

[Sudut Pandang Arga]


Sebelum lanjut membaca ini bukan lanjutan Bab kemarin tapi Bab khusus berisi Sudut Pandang Arga selama Gevanya Koma takutnya pada Gagal Paham.


Selamat Membaca.


Aku kini berada di mobil disamping Papa, memenuhi perjalanan menuju rumah Papa dan Mama rasanya berat berpisah dengan Gevanya walaupun nanti sore kami akan melakukan Akad Nikah ulang, agar dia menjadi Istri yang halal aku sentuh.


Ustad Zaky sudah kami antar ke rumahnya.


Disaat aku tengah berpikir dan bertaut dengan pemikiran ku, suara Papa Ardan membuatku menolah ke arahnya yang sedang menyetir.


"Kayaknya kamu bahagia banget bakal Akad ulang dengan Gevanya, gak sabar mau buat Arga junior yah?" Papa Ardan tersenyum padaku.


Entah ada pikiran apa orang tua satu ini bertanya seperti itu sekarang, aku hanya membalas dengan senyum datar biasa, senyum yang selalu melengkapi wajahku dihadapan orang lain.


"Ga? Sebenarnya kamu bahagia tidak nikah sama Gevanya?"


Bahagia? Kenapa Papa menanyakan hal seperti ini ditengah situasi seperti ini pula, aku harus menjawab apa sekarang?


"Aku bahagia, Pa, Gevanya itu istri yang baik," jawabku seadanya.


"Kalian berdua memang cocok, sama-sama suka berbohong, awal pernikahan kalian tidak baik-baik saja kan? Papa dan Pak Raden sudah tahu,"


Ah! Jadi selama ini mereka sudah tahu. Aku tersenyum kecil, menggaruk tengkukku. "Pada awalnya tapi semua sudah berbeda."


"Kau takut kehilangannya?"


"Mungkin?"


"Berarti kau mencintainya, Arga,"

__ADS_1


"Bisa jadi,"


Obrolan macam apa ini, aku serasa di intimidasi dengan pertanyaan Papa, Papa menghentikan laju mobil kemudian menggenggam pundak-ku tersenyum pelan.


Ah! Senyum itu adalah senyum biasa bagi orang lain tapi itu adalah senyum psikopat bagi kami anak-anaknya.


"Jadi sekarang Anak Papa ingin berjuang mendapatkan cinta istrinya?"


Aku ingin menghilang dari hadapan Papaku sekarang.


"Begitulah Pa, karena aku sadar aku mencintainya," Terdengar retoris tapi aku mengucapkannya dengan tulus.


"Semua orang punya kesempatan Arga," Papa menatap kedepan. "Maafkan Papa, karena Papa memaksamu menikah dengan Gevanya, tapi Papa yakin dia adalah istri terbaik."


"Dia memang terbaik Pa, justru aku ingin berterima kasih, karena dia cinta pertamaku,"


Kali ini aku jujur.


Aku tidak mendengar siapa yang menelepon ada apa gerangan, tapu raut wajah Papa seketika berubah menjadi sulit ditebak.


Setelah menelepon Papa meraih bahuku, aku mendelik, ada apa sebenarnya yang terjadi.


Papa menghela napas. "Gevanya dan Pak Raden kecelakaan."


"Hah?"




__ADS_1


Kini aku berada di sebuah ruangan, kecelakaan fatal yang dialami Gevanya membuat dia mendapatkan luka parah dibagian kepalanya.


Ah! Ya Allah apa lagi ini?


"Ge? Bangun," Aku meraih tangan Gevanya.


Masih hangat, rasa takut kehilangan kembali muncul, kenapa harus sekarang, tak lama kemudian Papa Ardan datang membawa kotak dan secarik kotak yang aku titipkan pada Mama Via.


Aku mengambil kotak tersebut dan menaruhnya di nakas, itu adalah ungkapan perasaan yang ingin aku sampaikan setelah akad nanti bahwa Gevanya sebenarnya adalah cinta pertamaku.


"Ge, bangun, jangan buat Abang khawatir,"


"Gevanya sedang berada dalam masa Koma akibat kecelakaan ini," Suara Ridwan membuatku menoleh.


"Sampai kapan?"


"Entah? Sehari, dua hari? Seminggu, sebulan atau setahun, tidak yang tahu," jawab Ridwan yang seperti merobohkan pertahanan hatiku saja.


Perlahan air mataku jatuh, masa bodo dengan pendapat orang lain melihat sosokku yang dikenal kulkas menangis, aku hanya ingin kesayanganku bangun sekarang.





TBC.


Assalamualaikum


Mau dilanjut sudut pandang Arga selama Gevanya koma sampai habisx atau kita lanjutin episode yang kemarin aja. menuju akad nikah Arga dan Gevanya

__ADS_1


__ADS_2