Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
S2. Menemui Bianca


__ADS_3

Ridwan menggenggam ponselnya erat, dia tidak ingin melepaskan momen ini, dia memikirkan jernih perkataan Anjani tadi padanya.


"Bianca, sudah keterlaluan."


Ridwan membuka laci mejanya, kemudian menaruh ponselnya didalam sana sebelum mengambil kacamatanya dan memakainya.


Ridwan berdiri dan memperbaiki posisi jas putihnya, ia berjalan keluar dari ruangannya melewati koridor menuju ruangan Bianca, disaat dia berjalan dia melihat Adam dan Arga tengah berdua di tepi koridor.


Kali ini Ridwan tidak tertarik dengan pembicaraan kedua sahabatnya itu, padahal sebelumnya mereka bertiga adalah sahabat yang selalu berkumpul.


"Wan!"


"Jangan dulu, aku ada urusan, mau ngajak ghibah, Akhi! Masih siang udah ngasih malaikat pencatat amal buruk kerjaan aja," jawab Ridwan menolak panggilan Adam.


"Sembarangan!"


Ridwan lanjut berjalan tidak memperdulikan kedua sahabatnya itu, tujuannya adalah ruangan Bianca, sesampainya di depan ruangan Bianca, dia segera masuk tanpa mengetuk nya dan mendapati Bianca tengah duduk di kursinya.


"Ridwan, ada apa?" tanya Bianca tersenyum melihat kedatangan Ridwan.


"Mau ngambil dana bansos."


Ridwan mengambil kursi dan duduk didepan Bianca sehingga kini jarak mereka hanya terpisah oleh meja. "Aku mau nanya sama kamu, kamu jawab jujur."

__ADS_1


Kali ini tatapan Ridwan sudah masuk ke tatapan intimidasi keseriusan yang membuat Bianca menelan ludah sejenak, tatapan itu bisa membuat orang kaku, Bianca pernah melihat Ridwan memberikan tatapan tersebut kepada Loki malam itu.


"A-ada apa?"


"Kau menemui Anjani, pagi ini?" tanya Ridwan dengan nada suara pelan.


"I-iya, memangnya kenapa?" Bianca balik bertanya yang membuat Ridwan mengertak kedua baris giginya.


"Apa maksud ucapanmu, bahkan Anjani merebut ku darimu, memangnya kita pernah memiliki hubungan selama ini?" tanya Ridwan to the point.


Bianca terdiam.


"A-aku."


Bianca kembali terdiam dia kaku.


"Bersamamu lagi, memangnya kita memiliki hubungan apa, bukannya kau yang meninggalkanku malam itu dan memilih bersama Loki, dan kau mengungkapkan bahwa aku hanyalah sahabatmu, bukan siapa-siapamu, jadi kau menyuruhku bertingkah layaknya sahabat," jelas Ridwan. "Dan itulah yang kulakukan, jadi bertingkah lah layaknya sahabat juga padaku, jangan berharap yang spesial."


"T-tapi."


"Coba aku tanya padamu, benar atau tidak, kau yang lebih memilih bersama Loki, dan mengabaikan semua nasehatku?"


"Ridwan, dengarkan aku-"

__ADS_1


"BENAR ATAU TIDAK?"


Nada suara Ridwan meninggi memotong ucapan Bianca yang membuat Bianca menundukkan kepalanya dan mengangguk perlahan.


"Jadi kau sendiri yang membuat alasan kenapa aku berubah, dan kau bisa lupa dengan alasan yang kau buat itu?"


Ridwan berdiri dari duduknya dan hendak pergi sebelum Bianca menahannya, Ridwan berbalik menatap Bianca.


"Aku ingin kita seperti dulu, akrab kembali," Bianca menatap Ridwan.


"Ada beberapa hal yang tidak bisa kembali, salah satunya sikap ketika hal yang telah orang berikan kepadamu malah kau sia-siakan, aku tidak tahu apakah aku masih bisa bersikap sama, yang jelas aku sudah sangat tidak peduli bahkan mati rasa tentang ini."


"Pertama, aku hanya sahabatmu, kedua, kita tidak memiliki hubungan apapun, ketiga, kita tidak pernah membuat janji, dan terakhir, bersikaplah seperti sahabat pada umumnya," lanjut Ridwan berjalan ke arah Bianca dan menaruh kedua tangannya diatas meja. "Kau mengerti?"


Bianca mengangguk perlahan, kata-kata Ridwan benar-benar melukai hatinya, Ridwan tersenyum kemudian keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Bianca disana.





TBC

__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


__ADS_2