
"Kamu ada masalah apasih sama Bianca, sampai dia marah-marah sama aku?" Anjani masuk ke ruangan Ridwan yang tengah berkutat dengan ponselnya.
Ridwan menurunkan ponselnya dan mengangkat kepalanya menatap Anjani yang sudah mengambil posisi duduk pada kursi didepannya.
"Bianca?" tanya Ridwan memiringkan kepalanya. "Dia kenapa?"
"Ini semua karena kamu, ngaku-ngaku jadi pacarku dia salah paham, kayaknya dia suka sama kamu."
"Aku gak suka sama dia, gimana dong?" Ridwan kembali fokus memainkan ponselnya dan mengabaikan kehadiran Anjani.
Melihat itu sontak Anjani kesal, dia mengambil ponsel yang ditangan Ridwan dan menatap Ridwan serius.
"Aku butuh penjelasan."
"Penjelasan bagaimana sih, Coba terangkan?" jawab Ridwan memangku dagunya dengan kedua tangan.
"Yah, tentang Bianca."
"Bianca yah, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia, kalau dia merasa kamu merebut aku dari dia, menurutku aku tidak peduli, karena aku bukan milik siapa-siapa kan?"
"Kau bukan tipikal pria romantis rupanya, hanya sebegitu penjelasanmu."
Ridwan terkekeh kemudian menghela napas panjang. "Terus, aku harus bagaimana?"
"Sudahlah, Wan, sudah bicara denganmu," Anjani berdiri kemudian kembali memberikan ponsel Ridwan. "Nih ambil."
Ridwan menerima ponselnya kemudian mempersilakan Anjani keluar dari ruangannya, Anjani hanya berdecak tidak puas dengan penjelasan minimalis Ridwan yang terkesan tidak mau memperpanjang masalah padahal disini dia tersangka utama nya.
__ADS_1
•
•
•
Gevanya tengah duduk di ruangannya di rumah sakit tersebut karena Arga akan segera melanjutkan terapi lumpuhnya yang sempat terhenti.
Gevanya membaca beberapa hasil yang membuat dia mendelik. "Semoga tidak apa-apa."
Arga yang menyadari keresahan istrinya menggerakkan kursi rodanya ke arah Gevanya dan menanyakan hal yang membuat hati istrinya resah.
"Ada apa, dek?"
"Hm, Bang aku bakal menyampaikan sesuatu, jadi selama terapi ini Abang akan mengonsumsi Obat antihipertensi untuk mempertahankan sistem tekanan dadah Abang, tapi dampaknya itu-"
"Kenapa dek?"
Gevanya menghela napas, entah bagaimana dia menjelaskannya. "Mengonsumsi Obat antihipertensi ini berdampak banyak, Obat-obatan seperti ini digunakan untuk mengontrol tekanan darah, seperti beta-blocker dan diuretik dapat menyebabkan hm ... Impotensi."
Deg.
Mendengar kata Impotensi membuat Arga terdiam sesaat yang membuat Gevanya menunduk tidak berani menatap Arga.
"Jadi kita bakal kesulitan punya keturunan?" tanya Arga meraih wajah Gevanya kemudian mengangkatnya.
Gevanya mengangguk perlahan. "Tapi kita masih bisa mengusahakannya."
__ADS_1
"Lebih baik Abang tidak usah menjalani terapi ini," jawab Arga yang membuat Gevanya menggeleng.
"Abang harus sembuh, apapun itu Abang harus sembuh, semuanya akan baik-baik aja, its oke?"
Arga terdiam matanya memerah seperti menahan tangis menerima fakta ini. "Abang gak berguna yah, Abang cuma bisa ngerepotin kamu."
Mendengar itu membuat Gevanya meraih wajah Arga dan menatapnya dalam tangkupan tangannya. "Semuanya akan baik-baik aja. Jangan ngomong gitu, Abang itu spesial."
"Maaf."
"Ngapain minta maaf, ini kan bukan kemauan Abang, bismilah, insha Allah kalau rejekinya kita pasti bakal punya keturunan, yang penting sekarang Abang sembuh dulu."
Gevanya menggenggam erat tangan Arga dan menatap kedua manik mata sempurna nya. "Ingat kan? Doa yang di lambung kan dalam sepertiga malam, tidak akan pernah berakhir percuma."
"Allah tidak pernah menguji kita melebihi batas kemampuan kita, tentang bahagia, bahagia itu bukan kita yang cari tapi harus kita sadari."
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1