
"Pokoknya kalian harus bantuin aku!"
Arga, Gevanya, Bianca, dan Ridwan tengah berkumpul di ruang tengah kediaman Arsyad yang secara paksa mengumpulkan mereka semua tanpa keterangan yang jelas.
"Bantuin apa sih nyet, yang jelas dong!" kesal Ridwan melipat kedua tangannya.
Mendengar itu membuat Bianca mencubit pinggang Ridwan yang membuat Ridwan mengeluh. "Aw! Sakit sayang."
"Ga boleh gitu ih."
"Mampus!" ledek Arsyad yang melihat Ridwan dimarahi oleh Bianca.
"Kakak mau bicarain apa sih, sampai harus ngumpulin kita kayak begini?" tanya Arga kali ini.
"Jadi gini, aku mau lamar Anjani, rasanya kalau kelamaan aku takut di embat orang, kalian tahu kan Anjani itu kayak ikan asin, gampang diembat, mana kriteria dia yang penting mau lagi, kalau di seret sama Om-Om duluan aku kan potek."
Mendengar penjelasan Arsyad membuat ke empat orang ini melongo, kenapa Arsyad harus begitu sulit kalau hanya ingin sekedar melamar.
"Terus kami harus ngapain?" tanya Arga yang membuat Arsyad menyuruh mereka mendekat.
Setelah semuanya mendekat, Arsyad mulai membicarakan idenya, setelah membicarakan ide tersebut Ridwan seketika tersentak dengan mata mendelik.
"Wah, gila sih!"
•
•
__ADS_1
•
Ridwan, Bianca, Arga dan Gevanya kini tengah berada di rumah sakit mereka terduduk di koridor dengan menunggu Anjani lewat disana.
Sampai tak lama kemudian Anjani tampak berjalan dari arah lain rumah sakit ini, Arsyad yang sudah siap siaga dari tadi langsung mengeluarkan cincin dari sakunya.
Sesuai rencana keempat orang lainnya langsung menghadang Anjani yang membuat Anjani mendelik kebingungan. "Kalian kenapa sih?"
Arsyad langsung maju, tanpa menjawab pertanyaan Anjani, Arsyad langsung bersimpuh di hadapan Anjani dan menyodorkan cincin tersebut.
"An! Aku tahu ini terlalu cepat, kamu mau gak jadi istriku?" tanya Arsyad. "Kalau kamu nolak aku janji, aku bakal berhenti gangguin kamu."
"Astaga lamaran macam apa ini!" bisik Ridwan yang merasa suasana begitu hambar.
"Udah Wan! Kan ini rencananya," jawab Bianca menyuruh Ridwan diam.
Anjani terdiam sejenak, dia bingung memutuskan sedangkan dia sendiri ragu dengan perasaannya. "Om itu baik, perhatian dan selalu ada di samping ku, tapi maaf yah Om aku belum bisa."
Anjani bingung. "Maaf yah Om, untuk saat ini aku gak bisa, ada banyak pertimbangan yang aku pikirkan."
Arsyad lemas begitu keempat lainnya, mereka semua akhirnya menyerah dan membiarkan Anjani pergi dari sana meninggalkan mereka semua.
"Yah, rencananya gagal."
•
•
__ADS_1
•
Anjani baru saja selesai dengan jam prakteknya, dia berjalan di parkiran rumah sakit menuju mobilnya sendiri karena dia sudah tidak sabar untuk mengistirahatkan diri.
"Apa keputusanku salah menolak Om Arsyad, padahal si Om itu tulus, tapi kan sekarang bukan waktunya, aku perlu fokus dengan pekerjaan aku." Monolog Anjani kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Anjani menaruh tas-nya di jok samping dan mengecek Ponselnya, biasanya akan banyak spam aneh dari Arsyad namun kali ini tidak ada satupun.
"Apa Om Arsyad marah?"
Anjani tidak ingin memikirkan ini, sekarang dia menyalakan mesin mobilnya kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah sakit, disaat Anjani tengah mengemudi, suara dering dari ponselnya membuat Anjani segera memasang headset dan mengangkat telepon tersebut dengan keadaan menyetir.
"Halo Ge? Ada apa?" tanya Anjani.
"Kak Arsyad kecelakan!"
"Apa?" Sontak Anjani mengerem mendadak yang membuat dia terlonjak kedepan dengan perasaan kaget.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
Bang Arsyad kenapa sih? Othor perasaan ga jauh" yah kecelakaan mulu wkwkwkw