Istriku Haram Disentuh

Istriku Haram Disentuh
S2. Definisi Mahram


__ADS_3

"Aku butuh waktu, memikirkan ini semua, sulit bagiku berdamai dengan keadaan kak," Arga menatap Arsyad sekilas.


Arsyad menghela napas panjang, dia memegang kedua bahu adiknya dan menatapnya pelan. "Itu adalah hak kamu, kamu yang merasakannya, kakak juga awalnya berat berdamai dengan keadaan, namun semua harus di lakukan, kita tidak harus bertahan dalam segala statemant yang ada."


"Berat untuk ikhlas kak," jawab Arga menatap ke arah lain.


"Kita tidak bicara tentang Ikhlas, karena sesungguhnya Ikhlas itu adalah perasaan yang dipaksa dan berakhir terbiasa, jadi biasakan dirimu, kamu tahu dimana bisa menemukan Kakak," Arsyad berdiri kemudian tersenyum pada suaminya.


Arsyad berbalik ke arah Gevanya yang menunggunya dari kejauhan. "Ge! Ambil nih si Argo katanya dia lapar, sebelum dia ngunyahin kursi rodanya mending kamu kasih nasi, aku pergi dulu yah."


Arsyad meninggalkan Arga dan Gevanya disana berdua setelah berbicara empat mata dengan Arga.




Anjani keluar dari mobilnya membawa sebuah bungkusan di tangannya. "Dasar pria aneh, masa kemeja gini aja gabisa di laundry harus dicuci tangan, benar gak sih ini apartemennya?"


Anjani berada di depan sebuah apartemen membawa kemeja Arsyad setelah pulang dari rumah sakit, bermodal alamat yang diberikan Arsyad, akhirnya Anjani nekat.


Anjani berjalan menuju apartemen tersebut dan mencari unit apartemen milk Arsyad dengan langkah pelan, disaat Anjani mencari tiba-tiba suara memanggil namanya.


"Maling!" teriak Arsyad yang membuat Anjani membalikkan badannya.


/Bug/

__ADS_1


Anjani melempar bungkusan tersebut tepat di wajah Arsyad yang kini berdiri di belakangnya dengan tanpa dosa. "Sembarangan, anda."


"Kamu kan dokter gadungan yang tadi, numpahin kopi, ngapain?" tanya Arsyad pada Anjani. "Manjakani kan?"


"Anjani, Om!" ralat Anjani yang membuat Arsyad mengelus kepalanya pelan.


"Iya Rinjani."


"Anjani!"


"Ribet banget sih, mending kita masuk ke kamar apartemen saya dulu," ajak Arsyad yang membuat Anjani menggeleng. "Kenapa?"


"Dih, pake nanya, bukan mahramlah," jawab Anjani pada Arsyad.


"Ini pasti kode, kamu mau saya halalin?" Arsyad menaik turunkan alisnya yang membuat Anjani menatap mual.


"Setelah dihalalin emang kenapa?" tanya Anjani yang membuat Arsyad melipat kedua tangannya.


"Kamu aku nikahin, dan kita jadi mahram deh," jawab Arsyad.


"Suami istri itu tetep aja hukumnya bukan mahram, Om," jawab Anjani yang nyaman memanggil Arsyad dengan sebutan Om.


"Loh, kok?"


Arsyad menatap Anjani bingung, pemikiran dari mana yang didapat Anjani tentang suami dan istri bukanlah Mahram.

__ADS_1


"Kalau pacaran kan bukan mahram, nah berarti nanti kalau nikah, mahram saya adalah kamu kan?" Arsyad mengernyit


"Salah itu, Om, Mahram Om itu cuma Ibu, Tante dan anak Om nanti, istri Om bukan mahram," jelas Anjani menjabarkan apa yang dia tahu.


"Kok bisa?" tanya Arsyad antusias.


"Om tahu gak definisi Mahram?"


Arsyad menggeleng yang membuat Anjani menghela napas panjang.


"Definisi Mahram itu adalah wanita yang haram Om nikahi, begitupun sebaliknya kepada pihak wanita, jadi Om yang mahram bagi Om itu, Ibu, Tante dan anak, nah istri bukan mahram Om, walaupun menikah tetep tidak akan menjadi mahram Om, istri Om nanti namanya Ajnabiyah, alias perempuan dari status orang lain, bukan mahram Om," jelas Anjani.


Mendengar penjelasan tersebut membuat Arsyad mengangguk, dia baru tahu sekarang, kemudian tersenyum smirk. "Jadi calon istri, Abang yah."


Anjani mengernyit jijik jadinya.





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2