Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Rancaupas


__ADS_3

Kabut tebal tampak menyelimuti area Ranca Upas sebagai salah satu tempat perkemahan terkenal di daerah Bandung. Luna, Reyhan, dan Tim WO sudah sampai di Ranca Upas untuk sesi foto prewedding hari ini. Para fotografer pun langsung bersiap untuk melakukan acara pemotretan. Tema prewedding Luna dan Reyhan adalah Back to nature.


Luna memakai setelan rok tutu serta sweater knit berwarna abu yang menutup leher. Sweater ini cocok sekali dengan udara Ranca Upas yang sangat dingin. Untuk riasannya Nayla membaurkan hiasan make up Flawless di wajah Luna. Sementara rambut panjang Luna digerai dan di Curly dibagian ujung rambut membuat Luna semakin cantik. Reyhan memakai sweater abu yang senada dengan Luna.


Para fotografer memberi arahan pada Reyhan dan Luna, mereka sangat terlihat kaku sekali. Sesi ke satu dilakukan di tempat penangkaran rusa.


"Nona, anda bawa wortelnya dan dekatkan di mulut rusanya, dan anda tuan peluk calon istri anda dari belakang! Lalu tatapan kalian menatap rusanya sambil senyum lebar ya?" Fotografer mengarahkan mereka untuk memberi makan rusa.


Luna dan Reyhan mengikuti arahan fotografer, Reyhan memeluk Luna dengan sangat kaku. Sesekali tatapannya menatap Nayla yang sedang memperhatikan dirinya dan Luna dengan serius.


"Nay, andai saja acara pemotretan ini aku lakukan bersamamu. Pasti aku menjadi pria yang paling beruntung di dunia," batin Reyhan. Hatinya seolah bergejolak dengan kenyataan yang ada di depan matanya.


"Bagus sekali! Sekarang Tuan dan Nona saling berpegangan tangan di antara kabut di belakang ya? Kalian mengobrol saja dan jangan lupa sambil tersenyum!" Fotografer memberikan arahannya lagi.


"Baik," jawab Luna dengan ceria. Luna langsung memegang tangan Reyhan, ia seakan lupa ada Nayla yang memperhatikan mereka. Entah mengapa perasaan Luna terasa membaik saat ini.


"Bagus sekali, kalian hebat!" Puji asisten fotografer yang merasa puas dengan hasil foto mereka.

__ADS_1


Sesi pemotretan berakhir, Nayla langsung mendatangi Luna. Ia segera merias wajah Luna yang mulai berkeringat. Luna menatap wajah sendu Nayla, hatinya merasa tak enak. Ia segera menggenggam lengan Nayla.


"Nay, aku berjanji setelah ini aku akan mencari cara untuk berpisah dengan Reyhan. Kau tenang saja, Nay!" Tekad Luna seolah ingin meyakinkan Nayla.


Nayla tersenyum tipis, ia menatap manik mata sahabatnya itu. Tidak ada kebohongan di dalamnya.


"Sudahlah, aku sudah tidak mengharapkan Reyhan, Lun. Setelah kalian menikah nanti, berbahagialah! Aku akan belajar melepaskan Reyhan. Hidup bahagia lah kalian sampai menua bersama!" Nayla tersenyum, tangannya merapikan rambut Luna yang tersibak angin.


"Nay, kau memang sahabat terbaikku!" Luna menghambur memeluk Nayla.


"Aku selalu bermimpi untuk hidup bersama pria yang aku cinta, Nay. Tapi aku tak bisa untuk memulai kehidupan penuh cinta bersama Reyhan. Karena Reyhan menutup hatinya untuk siapa pun. Dan perjanjian antara aku dengan dia seolah mengikatku untuk tidak melangkah lebih jauh," batin Luna sendu, ia memeluk Nayla lebih erat. Entah apa yang dirasakan Luna kini. Ia merasa kesepian dan hampa.


Fotografer mengarahkan Luna dan Reyhan untuk duduk di hadapan api unggun, Reyhan memainkan gitar dan Luna tertawa mencolek hidung Reyhan. Lagi-lagi Nayla hanya bisa menonton adegan itu dengan hati yang sesak.


"Mengapa ini semua terasa sangat menyakitkan?"


Tim fotografer terus saja melakukan pemotretan dengan banyak jepretan yang menghasilkan gambar begitu epik. Memang WO ini sangat terkenal untuk menghasilkan hasil foto prewed yang berkualitas.

__ADS_1


Kini pemotretan telah berakhir, semua tim WO segera membereskan peralatan mereka tak terkecuali dengan Nayla. Nayla pun terlihat merapikan tas yang berisi make up. Ia mendorong-dorong koper yang lebih besar untuk dimasukan ke dalam bagasi mobil.


"Biar aku saja, Nay. Kamu pasti lelah!" Reyhan tiba-tiba muncul dan mengambil alih koper yang Nayla bawa. Reyhan seolah tidak mempedulikan kehadiran Luna yang berjalan di belakangnya.


"Tidak usah, Rey. Ini tidak berat. Kamu jaga saja Luna! Ini sudah malam," ketus Nayla dengan sorot mata tak suka.


"Nay, aku cuma khawatirin kamu. Seharian ini kamu udah bekerja keras. Please izinin aku buat naik-naikin koper ini aja! Setelah itu, aku janji bakal langsung pulang," Reyhan masih bersikeras.


Nayla hanya mendecakan lidahnya dengan kesal, Nayla memang sangat tahu jika Reyhan keras kepala dan selalu memaksa. Ia tak menggubris perkataan Reyhan. Tanpa basa basi, Reyhan segera menaikan koper make up yang dibawa Nayla ke dalam bagasi mobil.


"Terima kasih. Lun, aku pulang dulu!" Kata Nayla dingin, ia langsung menaiki mobil tim WO tanpa menoleh Reyhan


"Hati-hati, Nay!" Luna merasa senang karena Nayla sudah ingin berbicara dengannya.


Sementara Reyhan menatap mobil yang ditumpangi Nayla dengan tatapan sedih. Ia ingin sekali berteriak dan menjambak rambutnya sendiri. Sungguh saat ini ia sangat frustasi dengan keadaan yang menderanya.


"Hari ini kamu tidak mempedulikan ku Nay. Tapi aku berjanji aku akan mendapatkan kamu lagi. Apapun caranya!" Janji Reyhan dalam hatinya.

__ADS_1


Sementara Luna hanya menatap punggung Reyhan dengan sedih, kini hari-harinya akan dihabiskan dengan hidup bersama pria yang tak pernah menginginkannya.


__ADS_2