Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Perjanjian


__ADS_3

Keluarga Reyhan dan Luna segera mempersiapkan segala keperluan untuk pernikahan putra dan putrinya. Mereka mulai mencari-cari vendor, WO dan hal lainnya untuk pernikahan Reyhan dan Luna.


"Ma, apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Reyhan kepada ibunya saat mendengar jika pernikahannya akan digelar tiga minggu lagi.


"Tidak, Rey. Semakin cepat semakin baik. Kalau di lama-lama tidak baik," Rika melihat-lihat katalog pernikahan.


"Ma, setidaknya beri Rey dulu waktu untuk melupakan Nayla," Reyhan tampak frustasi.


"Rey, kamu masih saja memikirkan gadis itu," Rika menutup katalognya.


"Rey, dengarkan mama! Kamu akan lupa dengan Nayla seiring dengan berjalannya waktu. Mama yakin kamu akan jauh lebih cinta kepada Luna setelah menikah. Cinta akan hadir karena terbiasa," lanjut Rika.


"Mamamu benar, Rey. Jangan menunda sesuatu yang sifatnya baik! Nikah itu adalah ibadah," Handi muncul tiba-tiba dan memberikan dukungan kepada istrinya.


"Cinta kalian akan tumbuh setelah pernikahan, apalagi kalian nanti akan bersama sepanjang waktu," lanjut Handi lagi.


"Tuh, kak Rey! Dengerin mama dan papa!" Sahut Winie yang sedari tadi ikut melihat-lihat katalog pernikahan.


"Terserah kalian saja!" Reyhan memilih untuk mengalah dan masuk ke dalam kamarnya.


Reyhan menyandarkan tubuhnya di atas kursi yang ada di dalam kamarnya. Tangannya mengambil bingkai foto yang terpajang di atas laci kamarnya.


"Nay?" Reyhan mengelus wajah Nayla yang sedang tersenyum di foto.


"Maafkan aku karena telah menjadi pria pengecut dan menyerah akan hubungan kita! Maafkan aku sudah menyakitimu!" Air mata menitik dari mata Reyhan.


"Tapi aku berjanji, Nay. Setelah menikahi Luna, aku akan mencari alasan yang bagus untuk menceraikan Luna dan kembali sama kamu. Hanya kamu perempuan yang aku cintai. Aku tahu kamu sakit, tapi aku jauh lebih sakit, Nay. Aku sakit karena harus melepas kamu dan menikahi wanita yang tidak aku cintai," Reyhan mengusap sudut matanya yang berair.


"Aku akan menikahi Luna, lalu mencari cara menceraikannya dan kembali bersama kamu. Aku tidak akan pernah rela ada pria lain yang mendampingimu. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," Reyhan menyimpan bingkai foto itu di tempatnya semula.


Reyhan pun mengambil ponselnya, ia menelfon Luna dan meminta untuk bertemu dengan calon istrinya itu.


"Mau ke mana kamu, Rey?" Tanya Rika dengan ketus saat melihat putranya mengambil kunci mobil.


"Jangan bilang mau ketemu mantan kekasih kakak yang kere itu!" Celoteh Winie sambil memainkan sendok yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu, Win!" Reyhan menatap Winie dengan tajam, seolah tidak terima dengan sebutan yang disematkan adiknya untuk Nayla.


"Rey, kamu akan menemui Nayla lagi? Rey, kamu kan sudah setuju, sebaiknya-"


"Aku mau bertemu Luna, Pa!" Reyhan memotong ucapan ayahnya.


"Ketemu Luna? Mengapa tidak bilang dari tadi sih?" Wajah Rika berbinar saat mendengar nama Luna disebut.


"Mau kencan ya, kak?" Winie ikut-ikutan riang.


"Rey mau membicarakan pernikahan sama Nayla, emm maksudnya Luna," jawab Reyhan.


"Sebentar!" Rika mendekati putranya.


"Yang rapi dong rambutnya kalau mau ketemu Luna," Rika merapikan rambut putranya yang sedikit berantakan.


"Sudahlah, Ma! Rey pergi," Reyhan melengos pergi meninggalkan keluarganya yang tengah makan malam.


"Akhirnya Luna bakal jadi mantu kita Pa," seru Rika dengan riang gembira.


"Itu bacalah!" Reyhan melempar secarcik kertas di hadapan Luna. Mereka kini sedang ada di salah satu cafe yang ada di kota Bandung. Reyhan memang mengajak Luna untuk bertemu dan membahas rencana pernikahan mereka.


"Ini apa, Rey?" Luna mengambil secarcik kertas yang dilemparkan oleh Reyhan.


"Ini kesepakatan kita selama menikah nanti. Setelah aku menemukan cara, aku akan menceraikanmu, Lun," ucap Reyhan dengan dingin.


Luna pun membaca satu persatu tulisan yang diajukan oleh Reyhan.


"Kita tidak boleh bersentuhan fisik? Tidak boleh mengurus urusan masing-masing dan tidak boleh melarang jika satu sama lain dekat dengan lawan jenis?" Luna membaca beberapa poin penting.


"Iya. Tapi kau tidak perlu khawatir! Aku akan menunaikan tugasku sebagai suami dengan memberikanmu nafkah berupa uang. Aku akan mencukupi segala kebutuhanmu. Tapi untuk nafkah batin, aku tidak bisa melakukannya. Dan setelah menikah, aku akan terus mendekati dan mendapatkan hati Nayla lagi. Aku ingin dia menungguku untuk bercerai denganmu. Apakah kamj setuju?" Tanya Reyhan dengan tatapan mengintimidasi.


"Tentu saja, Rey. Aku pun mencintai kekasihku. Aku mengizinkanmu mengejar atau berpacaran dengan Nayla lagi, asal kamu pun tidak melarangku untuk berhubungan dengan Reza," Luna memberikan kertas itu kembali kepada Reyhan.


"Tentu saja. Aku tidak peduli denganmu. Aku tidak peduli kamu akan berhubungan dengan pria manapun," tandas Reyhan.

__ADS_1


Hati Luna merasa tercabik mendengar ucapan pria yang ada di hadapannya itu. Tetapi, ia pun masih ingin menikmati masa mudanya. Luna harap dengan perjanjian ini tidak membatasi pergaulannya bersama kekasih dan teman-temannya.


"Sudah? Ini saja?" Luna kini bersuara.


"Tanda tangani pernjanjian itu!" Tegas Reyhan.


"Ini materainya," Reyhan mengeluarkan materai dari tasnya.


Luna pun dengan cepat menanda tangani kertas perjanjian itu. Sementara itu, Reyhan tersenyum puas melihat tanda tangan yang sudah Luna bubuhkan.


"Kau sangat mencintai Nayla?" Luna mendongkakan kepalanya dan memandang Reyhan.


"Tidak ada yang pernah aku cintai sedalam aku mencintai Nayla. Kau pun tahu itu. Aku sudah tergila-gila padanya dari dulu," jawab Reyhan.


Luna pun tersenyum kecut, merasa nasib baik tak berpihak padanya. Ya, Luna merasa dirinya menjadi gadis yang malang karena harus menikahi pria yang sangat mencintai sahabatnya.


"Kamu masih mencoba mengontak Nayla?" Tanya Luna lagi.


"Iya, tapi dia memblokir nomorku. Tapi kamu tenang saja! Aku masih mempunyai cara lain untuk mendekati Nayla."


"Bagaimana denganmu? Apa kalian sudah berkomunikasi lagi?" Reyhan tampak ingin tahu.


"Nomorku pun diblokir oleh Nayla," jawab Luna.


"Aku baru mengenal sisi lain dari Nayla. Ternyata dia tipe orang yang tidak ingin berhubungan lagi bila menyangkut tentang laki-laki. Dia sedikit naif," Luna berbicara dengan kesal.


"Kamu salah, Lun! Nayla bukan gadis seperti itu. Dia bersikap seperti itu hanya untuk menyembuhkan lukanya dan yang pasti untuk melupakanku," Reyhan berkata dengan sendu.


"Apakah jika kamu berada di posisi Nayla. Misal Nayla menikah dengan kekasihmu, kamu masih ingin berhubungan dengannya lagi?" Reyhan balik bertanya.


"Tentu saja aku tidak akan mau untuk berhubungan dengannya lagi," tegas Luna.


"Kamu pun sudah tahu jawabannya, tetapi mengapa menyimpulkan hal yang tidak tidak tentang Nayla?" Ketus Reyhan.


Luna pun diam ketika mendengar ucapan Reyhan, ia merasa tertampar atas ucapannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2