
Nayla meminta izin untuk tidak masuk kerja. Matanya kini sudah sangat bengkak karena semalaman menangis. Sebenarnya ini tanggal merah, tetapi WO tempat Nayla bekerja tidak meliburkan karyawannya karena ada beberapa pasang pengantin yang akan melakukan fitting baju pengantin. Teman-temannya heran karena tidak biasanya Nayla meminta izin tidak bekerja. Mereka sangat tahu Nayla adalah karyawan yang paling rajin.
Nayla turun dari kasurnya, kemudian ia membuka lemari pakaiannya. Nayla mengambil semua hadiah yang pernah Reyhan berikan padanya. Nayla memasukan semua barang-barang itu ke dalam kotak. Nayla pun menoleh ke arah foto dirinya bersama Rey yang terpajang di atas nakas. Nayla mengambil foto itu, ia pun menangis kembali.
"Rey, aku tidak pernah merasa sesakit ini. Mengapa kita harus bertemu jika akhirnya seperti ini?" Air mata menetes ke arah foto itu.
"Aku tidak boleh seperti ini terus," Nayla menghapus air matanya kemudian ia memasukan foto itu ke dalam kotak. Nayla membawa kotak itu ke halaman belakang rumahnya, kemudian ia memasukan kotak itu ke dalam tong sampah yang ada.
"Aku harus menghibur diriku," Nayla masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia segera mandi dan bersiap untuk pergi.
"Nay, sarapan dulu!" Bu Asih menatap putrinya yang baru keluar dari kamar.
Bu Asih tahu Nayla sedang memiliki masalah, bu Asih tahu semenjak Nayla pulang ke rumah dengan berurai air mata, tetapi ia belum mau untuk bertanya. Bu Asih ingin Nayla tenang terlebih dahulu.
"Nayla sarapan di jalan saja, Bu. Nayla pergi," Nayla meninggalkan bu Asih. Ia pun tidak menatap ibunya, karena takut ketahuan sudah menangis semalaman.
Siang ini Nayla menaiki bus, bermaksud akan pergi ke Alun-alun Bandung untuk menenangkan pikirannya. Pengakuan Luna dan Reyhan sungguh mengejutkan dirinya, hatinya begitu terluka saat mendengar perjodohan antara kekasih dan sahabatnya.
Nayla menyenderkan kepalanya di kursi penumpang, ia menatap ke luar bus lewat kaca jendela. Nayla memperhatikan kota Bandung dengan segala keramaiannya. Tangannya yang mungil mengambil headset di dalam tas gendongnya, ia kemudian memasangkan headset itu di kedua telinganya. Nayla mendengarkan lagu yang biasa ia dengarkan jika tengah galau.
"Rey, mengapa hubungan kita berakhir dengan cara seperti ini? Mengapa ini masih sangat menyakitkan?" Lirih Nayla dalam hatinya.
Nayla begitu menikmati semua lagu yang bergema di headsetnya hingga ia tidak menyadari bus telah sampai di halte Alun-Alun Bandung. Nayla melihat semua orang begitu memadati lapangan Alun-Alun Bandung, mungkin karena hari ini tanggal merah. Jadi sebagian besar warga Bandung memilih untuk berlibur. banyak anak kecil yang bermain bola, ada juga muda-mudi yang asyik berfoto di tengah lapang. Biasanya jika Nayla sedih, Nayla akan duduk di tengah lapangan Alun-Alun, atau menaiki bus Bandros. Namun jika suasana ramai seperti ini, Nayla membatalkan semua rencananya.
Nayla memilih menyebrangi jalan dan berjalan menuju Jalan Braga, Jalan yang bergaya Eropa ini adalah jalan favorit di Bandung karena gayanya yang khas ala-ala Eropa kuno. Nayla membeli satu es krim dari pedagang kaki lima, ia kemudian mendudukan dirinya di kursi yang sudah disediakan di Jalan Braga.
Nayla membeli es krim rasa Greentea, rasa es krim favoritnya. Namun kali ini Nayla tidak berselera untuk memakan es krim itu. Pikirannya melayang saat ia mendengar pengakuan Reyhan dan Luna yang membuat hatinya hancur. Tak terasa bulir air mata merembes begitu saja tanpa ia bisa kendalikan, bahkan es krim yang ada ditangannya pun mencair. Nayla menangis sesenggukan menumpahkan segala kesedihannya.
Sementara itu.
Aditya mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati, mobilnya membelah jalan Braga. Ia baru saja pulang mengantar ibunya ke butik langganannya yang ada di Jalan Braga.
Aditya bersenandung kecil, hari ini matahari bersinar sangat cerah. Rencananya ia akan pergi ke tempat Gym. Sudah lama sekali Aditya tidak pergi ke sana karena kesibukannya bekerja.
__ADS_1
Namun saat mengendarai mobilnya, Aditya melihat seorang gadis cukup familiar sedang duduk di kursi sambil menangis. Banyak pejalan kaki lain yang menatap gadis itu dengan keheranan sekaligus iba namun mereka tidak berani untuk mengganggu gadis itu.
"Sepertinya aku sering melihat wajahnya," Aditya tampak mengingat-ngingat wajah gadis itu, dan ia langsung teringat dengan gadis yang mendadani ibunya.
"Itu karyawan mama," Aditya berbicara sendiri. Ia langsung menepikan mobilnya di hadapan Nayla yang tengah menangis sesenggukan.
Aditya mendekati kursi yang tengah di duduki Nayla, ia mencolek bahu Nayla. Namun gadis itu malah menunduk ia tak mau mengangkat wajahnya.
"Hey wanita! Ini tempat umum. Apa kamu tidak malu menangis di jalan umum seperti ini?" Omel Aditya tiba-tiba.
Nayla mengangkat wajahnya. Ketika melihat Aditya, Nayla semakin mengencangkan tangisnya. Membuat semua orang di sana menatap Aditya dengan tatapan tak suka. Mereka mengira Adityalah penyebab Nayla menangis.
"Jangan begitu atuh, Jang! Kasian si enengnya. Masa pacar di bikin nangis," seru seorang tukang parkir toko kue khas Belanda.
"Harusnya kalau ada masalah rumah tangga bisa dibicarakan baik-baik ya!" Cibir dua orang pengunjung yang sedang berjalan kaki.
Aditya langsung gelagapan melihat semua orang menatapnya dengan sinis. Ia menempelkan telunjuknya di bibir Nayla, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Sssst. Mengapa kau sangat berisik? Berhentilah menangis! Lihat semua orang menatap kita!!" Cerocos Aditya jengkel.
"Pasti masalah gadis ini sangatlah berat. Mengapa iya menangis separah itu?" Batin Aditya, ia memilih tak melajukan mobilnya, ia menunggu tangis Nayla reda.
"Maaf pak Adit, aku.. " Nayla tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tangisnya pecah lagi. Membuat Aditya merasa iba dengannya, matanya juga sudah bengkak karena terlalu lama menangis. Memang dari kemarin Nayla hanya menangis.
"Tidak apa-apa. Menangis lah yang puas! Namun sesudah ini bangkitlah lagi! Hiduplah walaupun hidupmu itu tak berguna!" Aditya bertepuk tangan. Membuat Nayla berhenti menangis.
"Jadi, aku ini tidak berguna?" Nayla menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan, bukan. Maksudku," Aditya tampak berpikir.
"Ah, sudahlah aku bingung menjelaskannya," Aditya mengibaskan tangannya, ia kemudian memberikan air mineral botol pada Nayla. Nayla menerimanya, ia langsung meneguk air mineral itu hingga tersisa setengah.
"Bar-bar sekali wanita ini!" Ejek Aditya dalam hatinya.
__ADS_1
"Kami tidak kerja?" Tanya Aditya.
Nayla hanya menggelengkan kepalanya.
"Di mana rumahmu? Aku antarkan kamu pulang," Aditya berkata dengan lembut, ia segera melajukan mobil sport kesayangannya.
"Aku belum mau pulang, ibu pasti khawatir melihatku seperti ini. Tidak apa-apa turunkan aku sekarang saja, Pak! Aku bisa naik bus," pinta Nayla dengan sopan, ia memaksakan senyumnya.
"Kamu kira aku ini pria macam apa yang menurunkan wanita di tengah jalan?" Seloroh Aditya merasa tersinggung.
"Maaf!" Nayla bingung harus berkata apa lagi.
Mereka kini saling diam, seakan fokus dengan pikiran mereka masing-masing. Aditya tidak berusaha menanyakan mengapa Nayla bisa ada di Braga atau menangis sendirian. Aditya memang bukan tipe seseorang yang ingin tahu urusan orang lain. Ia tidak ingin bertanya, namun jika Nayla bercerita ia siap mendengarkan.
"Pak, aku ingin rujak!" Rengek Nayla. Ia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil begitu melewati pedagang kaki lima yang menjual Rujak di sekitar wilayah pasar baru.
Aditya menepikan mobilnya, ia segera memesan 2 porsi rujak dengan bumbu yang lumayan pedas. Aditya duduk di kursi yang menghadap ke trotoar. Nayla mengikutinya, ia pun duduk di sebelah Aditya.
"Ini rujakmu!" Aditya mendekatkan rujak yang sudah ia beli ke hadapan Nayla.
"Terima kasih, Pak. Berapa harganya? Aku belum bayar," tukas Nayla. Ia berusaha mengambil dompet dari dalam tas gendongnya. .
"Tidak perlu, ambillah!"
"Terima kasih, Pak."
"Jangan panggil aku Pak! Biasa saja. Kita seumuran kan?" Aditya bertanya, dengan cepat Nayla menganggukan kepalanya.
Mereka mulai menyantap Rujak dalam keheningan. Sesekali Aditya menatap Nayla yang tengah asik memakan rujak miliknya.
"Mengapa gadis itu sangatlah tenang ? Tidak ada sisa-sisa tangisannya seperti tadi. Apa dia berkepribadian ganda?" Batin Aditya berusaha menerka.
"Sudah makannya? aku kenyang, ayo kita pulang!" Nayla tersenyum ke arah Aditya, membuat pria itu gelagapan.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita pulang!"
Mereka meninggalkan kawasan pasar baru yang sangat ramai, burung-burung terbang kembali ke sarangnya, diiringi munculnya langit berwarna oranye Pertanda sore akan menjelang.