
"Win, kita yakin mau makan di kafe ini?" Tanya Andien yang menatap Winnie memarkirkan mobilnya di halaman kafe yang instagramable.
Andien teringat dengan kejadian semalam di mana Winnie memaksa untuk dilayani, sedangkan kafe sudah tutup. Hal itu, membuat Andien dan teman-teman yang lainnya merasa malu dengan sikap Winnie. Sedangkan Winnie, sejak malam itu, ia sudah tahu bahwa Nayla bekerja di cafe ini.
"Ya, ayo kita makan di sini! Kafe ini lagi viral. Aku pengen nyoba seenak apa," jawab Winnie seraya membuka sabuk pengamannya.
Mereka berjalan beriringan dan memasuki Kafe yang penuh dengan dekorasi kekinian itu. Aditya menatap Winnie dan ke empat temannya dengan malas. Ia sudah tahu bahwa Winnie adalah adik dari mantan kekasih Nayla. Ia yakin gadis itu akan membuat masalah di kafenya. Namun, Aditya berusaha bersikap profesional dan positif thinking.
"Silahkan dilihat menunya!" Aditya memberikan menu kepada lima gadis itu. Tak lupa, ia memberikan lima buah kertas kecil yang berwarna-warni. Tujuannya adalah pelanggan bisa menulis menu yang dipilihnya dikertas itu beserta tingkat level kepedasannya. Kertas itu juga menulis nama pembeli atau nama beken pembeli.
"Ingat ya seblaknya jangan pakai gula!" Peringat Winnie dengan ketus.
"Baik," Aditya membawa pesanan Winnie dan teman-temannya. Kemudian, ia segera pergi ke dapur memberikan catatannya pada Nayla.
"Win, kamu jangan judes-judes sama aa waitersnya! Nanti naksir," temannya yang bernama Icha memperingatkan yang diiringi gelak tawa teman-temannya.
"Duh gak lah, gak level naksir pelayan," Winnie mengibaskan tangannya cepat.
"Bener Win? Tapi diliat-liat mas-mas itu ganteng banget," respon Yuni, teman Winnie satunya lagi.
20 menit kemudian Aditya membawa nampan yang berisi pesanan ke lima gadis itu. Pemuda itu menata semua makanan dan minuman di meja Winnie.
"Silahkan dinikmati! Ini seblak yang tanpa gula," Adit menyimpan seblak tanpa gula tepat di hadapan Winnie, lalu ia segera pergi berlalu.
"Kayanya enak nih!" Andien tak sabar untuk mencicipi seblak pesanannya.
Winnie segera mengambil sendok, ia mencicipi seblak itu. Belum semua tertelan, Winnie segera memukulkan sendok ke mangkuknya.
"Pelayan!!" Teriak Winnie membuat semua temannya kaget.
Aditya yang sedang melayani pembeli lain segera mendatangi meja Winnie. Semua mata pembeli pun menatap ke arah gadis itu. Mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Saya kan pesan seblak tidak pakai gula, kok ini pakai. Ini kerasa banget gulanya," Winnie berkacak pinggang, entahlah apa yang membuatnya sangat tempramen hari ini.
__ADS_1
"Tapi maaf, seblak pesanan kamu gak pakai gula kok, saya sudah pastikan," Aditya membela diri. Kini ia sudah tahu motif Winnie datang ke kafenya.
"Halah pembelaan, gak worth it banget ini kafe. Aku pengen liat siapa sih kokinya? Makanan kaya gini kok bisa rame?" Sewot Winnie berang.
"Win, sabar! Jangan bikin kita malu! Udah yuk pulang aja! Kita cari kafe lagi," Andien berdiri untuk menengahi.
"Gak bisa, Ndien. Ini kafe gak worth it. Kita udah nunggu lama-lama, eh malah mengecewakan. Aku tadi pesan nulis gede banget lho, gak pake gula. Ini kerasa pake mana manis banget. Aku gak mau tahu, aku pengen kamu manggil kokinya ke sini. Aku pengen lihat siapa yang masak makanan seancur ini. Kalau nggak, aku viralin kafe ini," Winnie semakin mencak-mencak.
"Saya kokinya, ada masalah apa ya?" Nayla datang ke meja Winnie begitu mendengar keributan terjadi.
"Oh pantes makanan ini gak enak, tahunya kokinya seorang pelakor!!" Winnie mengangkat dagu, memberikan tatapan yang penuh dengan kebencian.
Mendengar perkataan Winnie, semua memandang Nayla dengan tatapan sinis. Mereka saling berbisik-bisik seolah ingin tahu siapa sang koki yang ada di hadapan mereka. Tak sedikit diantara mereka merekam kejadian tersebut.
"Kamu pesan gak pakai gula kan? Saya gak ngasih gula kok. Kamu datang ke sini cuma mau nyari gara-gara kan?" Nayla membalas tatapan Winnie yang angkuh.
"Heh, pelakor! Dulu kamu morotin kakak aku habis-habisan. Sekarang kamu udah bikin kakak ku dan istrinya pisah ranjang. Pas banget ya ternyata kamu kerja di sini. Dan pas banget kamu jadi koki. Pantas saja makanannya sangat tidak enak," maki Winnie yang sudah penuh dengan emosi yang siap diledakan.
"Aku tahu kamu ke sini cuma buat nyari masalah, dan satu lagi aku bukan pelakor. Kamu gak inget orang tua kamu yang misahin aku dengan kakak mu dan menjodohkan nya dengan perempuan lain? Kok kamu jadi playing victim ya?" Nayla sudah merasa sangat kesal, ia bertekad untuk menjadi gadis yang lebih kuat. Ia akan membela dirinya dari keluarga Reyhan.
"Pidanakan?" Winnie tersenyum merendahkan. Di matanya Adit hanya pelayan biasa yang tidak memiliki power apa-apa.
'Siapa yang mencari keributan? Saya ke sini buat makan. Eh udah di sini dikasih hidangan yang ga jelas rasanya," Winnie tetap kukuh dengan pendiriannya. Sedangkan ke empat temannya memegangi lengan Winnie, mereka sudah sangat malu karena jadi pusat perhatian.
"Tolong dong diantara kalian ada yang mau coba gak seblak yang ada di mangkuk gadis ini? Yang mau coba, saya gratiskan semua menu yang ada di sini!" Adit memberikan solusi.
"Menggratiskan? Jangan sok kaya deh!" Winnie belum menyadari jika Adit pemilik Cafe.
Seorang pria mengangkat tangannya, ia kemudian mendekati meja Winnie dengan embawa sendok baru. Pria itu mencicipi makanan yang ada di mangkok Winnie.
"Gak manis kok, ini pedas banget. Yakin banget gak ada gulanya," ucap pria itu yakin.
"See?" Adit berkacak pinggang menatap wajah Winnie yang pias.
__ADS_1
Whuuuu.
Semua pembeli menyoraki Winnie, gadis itu meninggalkan kafe dengan perasaan yang dongkol. Ke empat temannya mengekorinya dari belakang. Winnie harus melakukan aksi balas dendam, ia sangat tidak terima dengan apa yang terjadi kepadanya barusan.
"Semua gara-gara si gadis miskin itu!" Umpat Winnie dalam hatinya.
"Kamu gak apa-apa kan, Nay?" Tanya Adit dengan raut wajah yang prihatin. Mereka baru saja tutup kafe, kini mereka berdua sedang duduk sambil menghitung uang yang mereka peroleh hari ini.
"Gak kok, Dit. Tenang aja!" Nayla memaksakan senyumnya.
"Ya sudah, ayo kita pulang! Aku antar ya?"
"Aku bisa pulang sendiri, Dit," tolak Nayla dengan halus.
"Ini hujan, Nay. Ayo aku antar!" Aditya bersikukuh.
Mereka berjalan beriringan, kini mereka sudah berada di dalam mobil. Hujan semakin deras, Adit mengurangi kecepatan mobilnya. Hening di dalam mobil, Aditya menatap Nayla yang sedang termenung. Ia tahu Nayla sangat terpukul dengan insiden tadi sore.
"Makasih sudah belain aku tadi, Dit!" Nayla memecahkan keheningan.
"Sama-sama," Aditya menatap Nayla. Gadis itu tersenyum membuatnya salah tingkah.
"Semua keluarga Reyhan membenciku karena aku miskin, Dit. Jadi miskin itu tidak adil, selalu dipandang rendah dan dibenci orang," Nayla memulai bercerita tanpa diminta.
"Kamu salah, Nay. Bukan kamu miskin. Tapi pada dasarnya mereka tidak bisa menghargai sesama. Allah menyayangi kamu, ia melepaskan kamu dari mantan kamu itu. Aku gak bisa bayangin gimana kalau kamu jadi nikah. Pasti kamu tertekan punya mertua dan ipar yang model begitu," Adit terkekeh, ia menahan tawa sampai bahunya berguncang.
"Kok kamu ketawa, Dit? Apa yang lucu?" Nayla merasa bingung dengan pria yang duduk di sampingnya.
"Kalau kamu jadi nikah sama mantan kamu itu. Siap-Siap kamu makan ati, Nay. Dijulidin tiap waktu. Mau Keramas harus sembunyi-sembunyi. Anaknya lebih condong dan mihak ke kamu, dianggap anak durhaka lebih milih istri ketimbang ibu. Nanti kalau kalian punya anak, yang baiknya disamain sama anaknya, yang jeleknya disamain sama kamu," jelas Aditya panjang lebar.
"Ya ampun Dit, kok kamu bisa tahu drama mertua menantu?" Nayla ikut tertawa.
"Ya tau lah. Aku suka nonton konten viral kaya gitu."
__ADS_1
Mereka akhirnya tertawa bersama. Adit menatap Nayla dengan perasaan bahagia. Kini Adit tahu bahwa saat ini ia mulai menaruh hati pada gadis itu.