Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Studio Foto


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Aditya saat keluarga Reyhan sudah berlalu. Semua kerumunan yang menonton pun sudah membubarkan diri.


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang dan membelaku," Nayla menatap Aditya dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan sedih, Nay!" Nia mengelus bahu karyawannya untuk menguatkan. Ia amat kasihan sekali dengan Nayla yang dipermalukan oleh Reyhan dan keluarganya.


"Nayla tidak apa-apa, Bu. Terima kasih Ibu sudah datang dan menyuruh Aditya bersikap seperti tadi," Nayla tersenyum lembut.


"Nay, ibu tidak menyuruh Adit bersikap kaya tadi. Sepertinya dia memang tidak terima calon kekasihnya diperlakukan kaya tadi!" Nia tersenyum menggoda putranya.


"Mama apa sih?" Aditya tampak malu-malu.


"Bu, terima kasih sudah datang di wisuda Nayla," bua Asih berucap dengan tulus.


"Sama-sama, Bu. Semoga ilmu yang didapatkan Nayla berkah ya? Selamat menempuh hidup baru!" Nia tersenyum bergantian menatap Nayla dan bu Asih.


"Terima kasih, Bu," Nayla memeluk Nia. Sudah banyak kebaikan yang dilakukan oleh bosnya itu.


"Ya sudah, ayo kita foto wisuda! Nayla harus mengabadikan momen hari ini!" Ajak Aditya kepada ibunya dan keluarga Nayla.


"Asik foto studio!" Adik-adik Nayla yang baru berkumpul ke arah mereka bersorak.


"Kayanya gak usah deh, Dit! Pakai ponsel aja udah cukup!" Nayla menolak karena dirinya tidka punya budget untuk foto studio.


"Aku yang bayar ya, Nay. Hari ini hari spesial karyawanku," Aditya beralasan.


"Iya. Kalau gitu hari ini, ibu yang teraktir kalian makan ya? Sebagai hadiah buat kelulusan Nayla. Nayla kan karyawan ibu," Nia menambahi.

__ADS_1


Sebenarnya Aditya dan Nia tidak ingin menyebut embel-embel karyawan kepada gadis cantik yang tengah wisuda itu. Akan tetapi, Nayla pasti menolak jika Nia dan Aditya tidak memberikan alasan mengapa mereka hendak membayarkan biaya foto studio dan makan-makan.


"Asiik makan makan!" Dwi dan Bayu bersorak senang. Pasalnya mereka sangat jarang makan di luar.


"Ibu, Adit, makasih atas semuanya ya? Semoga Allah menggantikan rejeki kalian berkali-kali lipat!" Nayla untuk kesekian kalinya terharu dengan tindakan ibu dan anak yang begitu baik kepadanya.


"Terima kasih Bu Nia, Pak Adit!" Bu Asih berucap dengan mata yang mengembun.


"Aamiin. Iya sama-sama. Ya sudah, ayo kita berangkat! Semua naik mobil aku ya?" Ucap Aditya. Ia berjalan ke arah parkiran yang tak jauh dari sana. Nayla dan keluarganya pun mengikuti.


"Nay, kamu duduk di depan aja ya?" Ucap Nia pada gadis yang amat ia sukai itu.


"Ibu duduk di mana?" Nayla merasa tidak enak.


"Ibu duduk di belakang bersama bu Asih," timpal Nia dengan senyum ramahnya.


"Makasih ya, Dit!" Nayla dengan gugup masuk ke dalam mobil. Entahlah hatinya kini sangat deg-degan bila berdekatan dengan Aditya.


Bu Asih, Nia dan kedua adik Nayla pun masuk ke dalam mobil. Aditya langsung melajukan mobil SUV nya. Tujuannya adalah studio foto yang terkenal bagus di kota Bandung. Setengah jam mengemudi, Aditya pun memarkirkan mobilnya di halaman studio foto itu. Nayla menghela nafasnya berat ketika ia mengenali sebuah mobil terparkir di sana.


"Itu mobilnya kak Reyhan kan, Kak?" Dwi mengenali mobil mantan kekasih kakaknya itu.


"Dit, bisa gak kita pindah aja ke studio foto yang lain?" Nayla menoleh kepada pria yang sedang melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


"Nay, studio foto ini bagus dan hari ini di mana-mana pasti studio foto penuh karena wisuda kamu berbarengan sama wisuda kampus sebelah juga," Aditya memberikan alasan.


"Kasihan Nak Adit, Nay. Kita udah sampai sini masa pergi lagi. Cuekin aja lah keluarga mengerikan itu!" Cicit Bu Asih.

__ADS_1


"Iya, Nay. Cuekin aja keluarga ngeselin itu!" Nia mendukung.


"Baik, Bu," Nayla akhirnya menyetujui. Lagi pula Nayla harus bersikap biasa saja kepada mereka. Toh Nayla tidak mempunyai salah kepada mereka. Harusnya keluarga Reyhan yang malu bertemu dengannya.


Nayla, Aditya dan yang lain pun turun dari mobil. Mereka langsung masuk ke dalam studio foto yang terkenal di kota Bandung itu. Reyhan dan keluarganya yang sedang terduduk pun terkejut dengan kedatangan Nayla dan keluarganya.


"Kalian ngikutin kita?" Luna berdiri dari duduknya. Ia menunjuk Nayla dengan jari telunjuknya.


"Bener. Pasti orang-orang ini ngikutin kita!" Rika berdiri dan berkacak pinggang.


"Emangnya studio ini milik kalian? Atau studio ini udah di booking penuh sama kalian?" Nayla bertanya dengan wajah polosnya. Hal itu membuat Aditya tertawa kecil.


"Nay?" Reyhan berdiri dari duduknya dan menatap Nayla dengan sayu. Impiannya kandas sudah. Dulu Reyhan berharap akan foto studio bersama Nayla dan keluarga jika gadis itu wisuda.


"Tolong paket wisuda untuk saya dan keluarga pacar saya!" Aditya memesan dengan suara keras. Hati Reyhan begitu tersayat mendengar penuturan laki-laki jangkung itu.


"Paket wisuda yang paket berapa ya, Kak?" Tanya orang di bagian pendaftaran.


"Paket yang paling mahal yang mana ya?" Aditya tampak ingin tahu.


"Paket platinum yang paling mahal, kak!" Ucap wanita bagian pendaftaran itu.


"Baiklah. Aku ambil itu," Aditya mengeluarkan dompetnya.


"Semuanya satu juta tujuh ratus ribu ya, Kak?" Pendaftaran merinci.


Keluarga Reyhan yang mendengar pun semakin panas. Lagi-lagi Nayla mendapatkan pria kaya di sampingnya. Winie yang sedari sampai di studio foto itu hanya diam. Ia tidak menyangka jika pria tampan itu berasal dari keluarga kaya raya.

__ADS_1


"Kamu bisa kan rebut pria ini dari si miskin Nayla?" Rika berbisik pada putrinya itu.


__ADS_2