
Melihat Reyhan pingsan, ke dua adik Nayla mengangkat tubuh Reyhan. Mereka lalu merebahkan tubuh Reyhan di sofa. Bu Asih mengoleskan minyak angin di hidung dan di pelipis lelaki jangkung itu, sementara Nayla hanya menatap Reyhan yang sedang tak sadarkan diri. Ia tak membantu sama sekali saat tubuh mantan kekasihnya itu ambruk.
"Nak Rey, bangunlah!" Bu Asih menepuk pelan pipi Reyhan.
Tak lama Reyhan membuka matanya, ia menyapu sekeliling arah dan tatapannya menatap gadis yang sangat ia rindukan.
"Nay?" lirih Reyhan dengan sedih.
"Kamu ini apa-apaan, Rey? Kamu selalu saja merepotkan keluargaku. Ayo sekarang kamu pulang! Ini sudah malam," omel Nayla seakan tak peduli melihat kondisi Reyhan yang lemah.
"Kepalaku sangat pusing, Nay!" Reyhan memijat pelipisnya.
"Aku tidak peduli. Pulanglah!"
"Aku benar-benar tidak kuat, Nay!"
Nayla hendak menarik tangan Reyhan untuk keluar, namun Bu Asih mencegahnya. "Nay ini sudah malam, mana turun hujan. Biarkan dulu Nak Reyhan di sini sampai tubuhnya kuat untuk menyetir mobil."
"Biarkan saja dia pulang, Bu. Nanti kalau tetangga tahu, kita yang habis dijadikan bahan ghibah. Ibu kan tahu sifat tetangga kita ajaib," Nayla mencebikan bibirnya. Ia merasa tak setuju dengan pendapat sang ibunda.
"Kasihan kak Rey. Biarkan saja dia menginap di sini kak!" Kini Bayu yang bersuara.
"Iya, biarkan aku menginap di sini, Nay. Aku tidak kuat pulang. Kamu ingin aku celaka?" Reyhan berkata dengan lemas.
"Kalau begitu, telfonlah dulu Nak Luna! Kabari dia!" Perintah Bu Asih dengan bijaksana.
Reyhan pun mengambil ponselnya dan mengabari Luna jika ia tidak akan pulang.
"Sudah, Bu," ucap Reyhan dengan senang. Ia pikir bisa dekat lagi dengan Nayla.
__ADS_1
Nayla memutar bola matanya, ia lalu masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, Nayla keluar lagi membawa bantal dan selimut kesayangannya
"Ya sudah. Reyhan boleh menginap di sini, tetapi Nayla akan menginap di Rumah Wa Darya ya Bu?" Nayla memberikan usulnya.
Wa Darya adalah paman Nayla, ia adalah kakak dari Bu Asih. Wa Darya juga mempunyai anak yang seumuran Nayla, Nelly namanya.
"Baiklah kalau begitu," Bu Asih akhirnya menyetujui. Itu adalah pilihan yang tepat agar Nayla dan Reyhan tidak berada dalam atap yang sama.
Sementara Reyhan menatap nanar wajah Nayla, hatinya mencelos. Mengapa Nayla sudah sangat berubah? Bahkan ia sama sekali tak peduli pada kondisinya. Ke mana Nayla yang dulu yang selalu peduli padanya? Namun Reyhan tak akan menyerah begitu saja, ia akan berusaha mendapatkan Nayla kembali apapun caranya.
Sepeninggal Nayla, Bu Asih dan Bayu memapah Reyhan menuju kamar Nayla. Reyhan baru pertama kali memasuki kamar wanita yang sangat ia cintai itu. Kamarnya tak besar, namun sangat rapi. Bayu membantu Reyhan untuk berbaring di kasur mungil Nayla Reyhan menatap semua sisi kamar Nayla, berharap akan menemukan fotonya bersama Nayla. Namun lagi lagi hatinya kembali kecewa, karena tak menemukan apa yang ia maksud.
"Apakah kamu sudah melupakan aku, Nay?"
"Nak Rey, istirahatlah dulu! Mudah mudahan besok pagi kondisinya vit lagi," Bu Asih berkata dengan lembut
"Terima kasih ya, Bu. Dan maaf karena Rey sudah mengecewakan anak ibu. Maafkan Rey yang selalu merepotkan keluarga ibu!" Reyhan menundukan kepalanya.
"Bagaimana bisa Rey berbahagia, Bu? Sementara Rey selalu saja menderita saat jauh dari putri ibu. Rey menyesal, andai Rey waktu itu tidak menyetujui pernikahan ini. Andai waktu itu Rey kabur saja dari pada kehilangan Nayla," Reyhan menumpahkan segala isi hatinya, termasuk penyesalannya menikahi Luna. Ia sangat menyesal karena sudah menerima perjodohan ini.
"Mungkin ini takdir dari Allah, Nak. Kita tidak tahu dengan siapa kita dijodohkan, dan mungkin jodohmu adalah Luna. Mulailah membuka hatimu untuk Luna! Lepaskanlah Nayla, Nak! Dengan Nak Rey mengejar Nayla kembali, pasti Nayla yang akan mendapatkan masalah dari Bu Rika dan Bu Anita."
Sementara Reyhan hanya tertegun mendengar ucapan Bu Asih. Bagaimana bisa ia melupakan Nayla? Reyhan suddah pernah mencobanya namun tak bisa, ia benar-benar tak bisa berpaling dari Nayla. Reyhan akan menemukan cara bagaimana ia mendekati Nayla lagi tanpa Rika dan Anita tahu. Setelah itu Reyhan akan menceraikan Luna.
"Ya sudah tidurlah, Nak! Ini sudah malam."
"Terima kasih, Bu."
Bu Asih mematikan lampu, ia dan Bayu meninggalkan Reyhan yang masih termenung meratapi nasibnya. Reyhan mengambil bingkai kecil yang berisi foto saat Nayla masih SMP, ia memeluk bingkai itu hingga tertidur.
__ADS_1
Paginya...
Ibu-ibu yang belanja sayur mulai berdesas-desus menatap mobil yang terparkir di halaman rumah Nayla. Mereka sangat mengenali mobil itu. Mereka tahu mobil itu adalah mobil mantan kekasih Nayla yang sudah menikah. Nayla baru saja pulang dari rumah Wa Darya sambil menenteng bantal dan selimutnya. Ia melewati tukang sayur yang sedang dikerumuni oleh ibu-ibu berdaster.
"Bu, apa di kampung kita boleh ya mengizinkan laki-laki menginap di rumah seorang perempuan? Apalagi laki-laki itu sudah beristri," ucap salah seorang ibu-ibu yang sengaja meninggikan suaranya saat Nayla melewati mereka.
"Iya nih, Bu. Untuk keperluan apa sampai menginap segala ya? Apalagi udah beristri. Duh pelakor dong namanya!" Timpal Ibu satunya lagi yang berdaster hijau.
"Sayang kali Bu, pria yang tajit melintir dilepasin begitu aja. Duitnya ilang dong. Ga papa jadi simpenan yang penting duit ngalir kan ya?" Kini ibu-ibu berdaster merah memberikan argumennya.
Wajah Nayla sudah merah padam, ia lalu berjalan menghampiri kerumunan ibu-ibu itu.
"Saya baru pulang dari rumah Wa Darya. Jadi, saya ga serumah sama mantan kekasih saya. Nah satu lagi, pria itu pingsan di depan rumah saya. Apa keluarga saya tidak menolong? Mulutnya pake buat makan aja ya, Bu? Biar badan kalian berisi ga kerempeng kaya gitu. Mulut kok di pake ghibah, kasian!! Pantes tubuhnya gak ada dagingnya!!" Cerocos Nayla yang sudah sangat emosi.
Sementara mang tukang sayur hanya melongo menatap Nayla. Ia baru melihat kemarahan Nayla, karena biasanya Nayla akan diam saja jika digosipkan oleh para tetangganya.
"Yu Bu ah kita pulang aja!" Ajak ibu-ibu tadi
"Ya kalian pulang saja! Suami dan anak kalian udah kelaparan tuh. Istrinya asyik ghibah di
mari! " Omel Nayla lagi.
Ibu-ibu itu hanya memutar kedua bola matanya, mereka ingin melawan tapi mereka seakan kehilangan kata melihat Nayla yang emosi. Akhirnya mereka membubarkan diri. Nayla berjalan kembali dan segera memasuki rumahnya. Ia menatap Reyhan yang baru saja selesai sarapan.
"Cepat kamu pulang, Rey! Gara-gara kamu, ibu-ibu di sini menggosipkan aku pelakor!!" Dada Nayla naik turun karena menahan amarah.
"Kak, sabar!" Dwi menggenggam lengan Nayla
"Nay, maafkan aku. Aku gak bermaksud kaya gitu. Ya sudah aku pulang dulu!" Reyhan bangkit dari duduknya. Namun Nayla tak bergeming, ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu itu dengan sangat keras hingga membuat Reyhan terlonjak.
__ADS_1
"Nay apakah tidak ada ruang dihatimu untukku? Mengapa kamu sangat berubah?"