
"Kamu melihatku seperti melihat setan. Cepat masuk!" Perintah Aditya dengan wajah yang dingin.
"Mengapa kamu bisa ada di sini?" Nayla masih heran karena kemunculan Aditya yang tiba-tiba.
Tubuh Nayla sudah basah kuyup karena kehujanan. Gadis itu tak bergeming dari posisinya sekarang. Nayla saat ini ingin sendiri. Ia ingin menangis saja di bawah guyuran hujan, agar semua orang tak ada yang tahu bahwa ia sedang menitikan air mata.
Aditya segera keluar dari dalam mobilnya, ia menarik tangan Nayla dan sedikit memaksa gadis itu untuk memasuki mobilnya.
"Suruh masuk aja susah banget!" Gerutu Aditya dengan raut wajah yang jengkel.
Kini Aditya dan Nayla sudah berada di dalam mobil. Aditya menatap Nayla yang menundukan wajahnya. Seluruh bajunya basah dan tubuhnya menggigil. Aditya tahu bahwa gadis yang ada di sampingnya ini tengah menangis.
"Hapus air matamu! Jangan menangis! Aku tidak suka gadis yang cengeng!" Adit melempar sekotak tisu ke pangkuan Nayla.
"Aku tidak perlu disukai olehmu," Nayla mengambil tisu itu dan mengelap air matanya, matanya terlihat sembab. Aditya merasa kasihan pada gadis yang ada di sampingnya. Ia menatap Nayla yang masih menggigil kedinginan.
Aditya mengambil kemeja dan sweater yang tergantung di bagian belakang mobilnya. Memang Aditya selalu membawa baju cadangan sebagai baju ganti apabila dalam kondisi darurat.
"Pakailah!" Perintah Aditya seraya menyodorkan kaos dan sweater miliknya pada Nayla.
"Tapi tidak mungkin aku berganti baju di sini," tolak Nayla dengan bingung.
"Pindah ke kursi belakang! Cepatlah aku ingin segera pulang!" Aditya berdecak pelan.
"Kamu bawel sekali!" Nayla terdengar mengomel. Ia menaruh tisu di dashboard mobil. Lalu pindah ke kursi bagian belakang dan mengganti bajunya.
"Jangan mengintip! Awas kalau mengintip, aku adukan pada Bu Nia!" Ancam Nayla dengan wajah yang dibuat galak.
Aditya terkekeh. Setelah kepergian Olivia baru kali ini ia merasa gemas dengan tingkah seorang gadis.
__ADS_1
"Iya cepatlah!"
Aditya memusatkan pandangannya ke arah luar jendela. Ia melihat sebuah mobil yang terparkir dekat gerbang rumah Reyhan. Aditya melihat dua wanita di dalamnya. Dua wanita itu tengah memperhatikan mobil yang ia tumpangi. Beruntung Aditya memasang kaca jendela mobil dengan kaca berwarna gelap, sehingga mereka tidak melihat Nayla yang sedang berganti baju.
"Siapa mereka? Gumam Aditya berusaha menerka.
Aditya membunyikan klakson, tak berapa lama mobil itu segera pergi meninggalkan kawasan perumahan elite itu. Seakan tahu bahwa Adit sudah menyadari kehadiran mereka.
"Mengapa kamu membunyikan klakson? Aku kaget. Kamu mau aku mati muda?" Seloroh Nayla dari belakang.
"Masih mending aku bunyikan klakson mobil. Bagaimana kalau aku bunyikan klakson tronton?" Jawab Aditya dengan santai.
Tak ada sahutan dari belakang membuat Aditya penasaran. Ia menggeser kaca spionnya sedikit ke arah kursi belakang. Di sana Nayla sedang mengancingkan kemeja miliknya. Terlihat sedikit dada atas Nayla sehingga mengeksplor tulang selangkanya.
Aditya buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia takut Nayla mengetahui dirinya yang sedang mengintip. Begitu selesai, Nayla segera duduk di kursi depan, ia juga memakai sweater milik Aditya.
"Mengapa kamu bisa di sini? " Tanya Nayla saat Aditya melajukan mobilnya meninggalkan perumahan kawasan Bandung timur itu.
Nayla tak lekas menjawab, ia menundukan wajahnya. Suara yang ia dengar tadi seketika terngiang-ngiang di telinganya. Hatinya merasa sangat sakit sekali.
"Apa kamu baik-baik saja?" Aditya tampak khawatir karena Nayla tak menjawab perkataannya. Adit segera menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi dan jarang dilalui kendaraan.
"Hei wanita, kamu baik-baik saja?"
Nayla menggeleng, tangannya mengambil tisu di dashboard mobil.
"Apa yang terjadi di sana ? Apa yang kau lihat?" Aditya sangat penasaran, biasanya ia akan sangat apatis dan tak peduli dengan urusan orang lain. Namun dengan Nayla, ia merasa sangat penasaran dengan kisah gadis itu.
"Apa dengan berbagi cerita, hatiku bisa membaik?" Gumam Nayla nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Entahlah, tapi siapa tahu bebanmu berkurang."
"Sepertinya ibu Reyhan dan adiknya merencanakan ini semua. Mereka ingin aku melihat semuanya," Nayla mulai bercerita, lirih suaranya terdengar membuat Adit semakin iba.
"Melihat apa? Apa yang kamu lihat di sana?" Aditya mendesak. Ia mengerutkan keningnya heran. Semakin penasaran dengan kelanjutan cerita yang ingin ia dengar
"Mereka menyuruhku untuk naik ke kamar Reyhan dan memberikan file itu langsung pada istrinya. Tapi ketika aku sampai di pintu, aku mendengar suara yang menjijikan," suara Nayla tampak bergetar, air matanya menitik. Ia kemudian mengambil tisu lagi dan menyeka air matanya.
Aditya mengerti kemana arah pembicaraan Nayla. Sesaat hening di antara mereka.
"Apa kamu masih menyukai pria itu? Mengapa kamu bisa menangis seperti ini?" Aditya bertanya langsung pada intinya.
"Aku dan dia berpacaran sudah lama sekali. Gadis mana yang tak sedih jika pria yang bertahun- tahun menemani hari-harinya memutuskannya begitu saja? Setelah itu, ia menikah dengan sahabatku. Dan lucunya aku ditunjuk sebagai MUA yang menangani mereka? Tak cukup sampai disitu. Setelah luka itu pudar, aku mulai menata hatiku, aku memulai hidup yang baru. Namun lagi-lagi aku harus bersinggungan lagi dengan mereka. Tepat di depan kamar mereka, aku mendengar sendiri mereka sedang memadu kasih. Wajarkah aku menangis, Dit?" Nayla mulai bercerita dengan suara yang parau, Nayla mulai menumpahkan tangisnya.
"Aku manusia biasa, Dit. Aku juga punya hati. Walaupun aku sudah melupakan Reyhan, namun masih ada sedikit ruang hatiku yang masih terpaut dengannya. Aku tidak munafik. Namun aku mencoba untuk tidak bersinggungan lagi dengannya," lanjutnya lagi dengan suara yang masih bergetar.
"Kamu tidak salah kok. Menangis lah hingga kamu lelah! Sampai nanti kamu mentertawakan diri kamu sendiri karena sudah menangisi pria sepertinya," Aditya mulai menghibur Nayla. Aditya bisa menyimpulkan bahwa Nayla adalah gadis baik-baik.
"Aku menunggu saat itu tiba," Nayla tak mampu melanjutkan ceritanya, hatinya sudah terlalu sesak untuk mengingat semua kejadian yang menimpanya.
"Sudah sedihnya? Ayo kita ngopi!"
Aditya lantas melajukan mobilnya. Ia menepikan mobilnya dekat gerobak bajigur. Aditya dan Nayla keluar dari mobil. Mereka memesan dua gelas bajigur. Tak lama dua gelas bajigur yang panas terhidang, mereka menyeruput bajigur itu sedikit demi sedikit.
"Terima kasih kamj selalu membantuku," Nayla tersenyum tulus.
"Lupakan!"
Aditya menatap Nayla yang sedang tersenyum menatapnya. Ia merasa salah tingkah dan gugup.
__ADS_1
"Mengapa aku deg-degan seperti ini?"