
Satu minggu kemudian....
"Nay?" Sapa Bu Asih saat melihat putri sulungnya keluar dari dalam kamar. Raut wajah Bu Asih tampak memancarkan kesedihan di pagi hari ini.
"Ibu?" Nayla tersenyum dan menutup pintu kamarnya.
"Hari ini ibu masak nasi goreng?" Tanya Nayla dengan wajah yang ceria. Ia memang sangat menyukai nasi goreng buatan ibunya.
"Kamu ingin makan yang lain?" Tanya Bu Asih.
"Tentu saja Nay ingin makan nasi goreng buatan ibu," Nayla langsung duduk di kursi makan.
"Makanlah, Nak!" Bu Asih yang duduk di sebelah Nayla mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kak?" Panggil Dwi yang belum juga menyentuh nasi goreng di piringnya.
"Hhmmm?" Nayla bergumam. Ia mulai menyendokan nasi goreng itu dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
"Kalian kenapa?" Tanya Nayla yang melihat ibu dan adik-adiknya belum juga menikmati sarapan paginya.
"Kak Nay sudah tahu kak Rey mau nikah sama kak Luna?" Tanya Dwi dengan raut wajah yang muram.
"Uhuk!" Nayla langsung tersedak.
"Hati-hati, Nay!" Bu Asih langsung memberikan segelas air untuk Nayla. Nayla pun meminumnya hingga tandas.
"Kamu tahu dari mana?" Nayla menatap adiknya itu.
"Tadi ada seseorang yang mengantarkan undangan ke rumah kita. Ibu sangat kaget ketika membaca nama Reyhan dan Luna," Bu Asih berbicara dengan getir. Ia merasa sangat tahu bagaimana perasaan Nayla sekarang.
"Kita di undang?" Nayla memaksakan senyumnya.
"Mengapa kamu tidak cerita kepada ibu?" Lontar Bu Asih.
"Kakak baik-baik aja kan?" Tanya Bayu, adik kedua dari Nayla.
__ADS_1
"Kakak, baik-baik saja. Kalian ini kenapa sih?" Nayla memaksakan tawanya, walaupun kini cairan bening sudah menganak sungai di kedua pelupuk matanya.
"Kamu mau datang, Nak?" Tanya Bu Asih dengan prihatin.
"Tentu saja, Bu. Bahkan Nayla dipercaya jadi MUAnya Luna dan Reyhan," tandas Nayla masih dengan senyum palsunya.
"Kakak?" Lirih Dwi.
"Kamu yakin mampu?" Bu Asih terlihat jauh lebih khawatir.
"Nayla ke kamar dulu ya Bu? Ponsel Nay ketinggalan," Nayla dengan cepat berdiri dari duduknya. Ia sudah tidak bisa menahan lagi air matanya. Nayla masih sangat merasakan sakit bila diungkit mengenai Reyhan.
Nayla pun masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di atas kasur dan mulai menangis lagi.
"Bodoh! Nay, kenapa kamu masih saja bersedih?" Nayla menampar pelan pipinya.
"Ibu, Dwi dan Bayu jangan sampai melihatku rapuh seperti ini!" Tangan Nayla mengambil tisu untuk mengeringkan air matanya.
"Nay?" Bu Asih masuk ke dalam kamar putri yang berperan sebagai tulang punggung keluarga itu.
"Menangislah, Nak! Jika itu membuatmu lebih lega," kata Bu Asih sembari menangis.
Nayla pun berdiri dan menatap ibunya. Kini pertahanannya roboh sudah.
"Ibu!!" Nayla memeluk dan menangis di pelukan ibunya. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekalutan hatinya.
"Ibu, mengapa Nay harus mengalami ini semua? Nay cinta Rey!" Nayla menangis sesenggukan.
"Apa Nayla terlalu lemah, Bu? Apa wajar Nayla masih belum bisa move on?" Tanya Nayla lagi.
"Tidak ada yang salah, Nak. Kamu dan Reyhan sudah berhubungan selama bertahun-tahun. Melupan seseorang yang sudah hadir di hidup kita selama bertahun-tahun tidak semudah membalikan kedua telapak tangan. Ibu tahu Rey adalah cinta pertama kamu. Rey juga satu-satunya yang pernah dibawa ke sini," Bu Asih tampak menenangkan.
"Tapi kesedihan kamu ini tidak boleh berlarut. Rey sudah menemukan kebahagiaannya. Dia akan bahagia dengan orang lain. Begitu pun dengan kamu, Nak. Mulai lupakan Rey dan tata masa depanmu! Ibu yakin ada pemuda yang jauh lebih baik untukmu," tutur Bu Asih lagi.
"Nay hanya sakit bu. Terlebih Rey menikah dengan Luna," Nayla masih terus memeluk ibunya.
__ADS_1
"Jadi, Rey meninggalkan kamu untuk Luna? Apa Rey berselingkuh dengan Luna di belakangmu, Nak?"
"Tidak, Bu. Mereka dijodohkan. Rey akhirnya mutusin Nay karena lebih memilih keluarganya," Nayla menarik dirinya.
"Mungkin ini yang terbaik sebagai garis hidupmu, Nay. Kita sudah tahu bagaimana perlakuan keluarga Rey sama kamu. Ibu ingin kamu mendapatkan laki-laki yang keluarganya pun menyayangimu," Bu Asih mengeringkan air mata Nayla dengan jemarinya.
"Ibu tahu kamu terluka, tetapi hidup harus terus berjalan. Mulailah lupakan Rey! Ada ibu dan adik-adikmu yang selalu ingin melihatmu bahagia, bukan bersedih."
"Iya, Bu. Nayla pasti akan segera melupakan Rey," Nayla mulai bisa tersenyum lagi.
"Ya sudah, Nak. Bukankah hari ini kamu bekerja?" Tanya Bu Asih lagi.
"Iya. Kalau begitu, Nay pergi kerja dulu ya Bu?"
"Tadi sarapan kamu tidak habis, Nay. Habiskan dulu ya?"
"Engga, Bu. Nayla nanti beli aja di dekat galeri. Nay, pergi ya Bu?" Nayla mengambil tangan wanita yang sudah melahirkannya itu dan menciumnya. Nayla segera mengambil tas kerjanya dan keluar dari kamar miliknya.
Bu Asih pun mengantar Nayla dan adik-adiknya sampai halaman depan.
"Kalian belajar yang rajin ya?" Pesan Bu Asih kepada Dwi dan Bayu yang akan berangkat ke sekolah.
Nayla, Dwi dan Bayu pun berjalan bersama untuk sampai di halte depan. Nayla melirik ke arah ibu-ibu yang tengah berkerumun membeli sayur. Mereka semua kini tengah menatap Nayla.
"Denger denger anaknya Bu Asih udah putus ya sama cowo yang suka bawa mobil itu," bisik satu ibu yang merupakan biang ghibah di kampung mereka.
"Pacarnya si Nayla yang sering dibawa ke rumah itu?" Jawab ibu-ibu lainnya yang sedang memilih sayuran hijau.
"Iya. Mungkin ga direstuin. Mana mau sih orang tajir kaya gitu besanan sama Bu Asih. Udah mah sakit-sakitan, janda anak tiga lagi. Ya pasti gak level lah," seloroh ibu-ibu yang sedang memilih ikan asin.
"Makanya Bu. Bilangin ke anak-anak kita, kalau belum pasti dinikahin, pacarnya jangan dibawa dulu ke rumah! Gak jadi dinikahin kan malu," jawab si ibu pemulai ghibah.
Nayla pun mendengus kesal karena walaupun mereka berbicara pelan, tapi masih terdengar oleh telinga Nayla.
"Sudah, kak. Gak perlu didengerin," Dwi menggandeng tangan Nayla agar mempercepat langkahnya meninggalkan kerumunan ibu-ibu yang selalu bergosip itu.
__ADS_1