Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Reyhan Pingsan


__ADS_3

Semenjak menikahi Luna, Reyhan sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Nayla. Nayla terus memblokir nomor yang Reyhan gunakan untuk menghubunginya.


"Aku tidak bisa seperti ini terus," Reyhan melempar ponselnya.


"Ada apa, Rey?" Tanya Luna yang baru masuk ke dalam kamar mereka.


"Tidak ada apa-apa, Lun," Reyhan memejamkan matanya.


Luna mendekati tempat tidur, ia pun merangkak naik ke atas kasur dan berbaring di samping Reyhan.


"Kamu lelah?" Luna menghadapkan tubuhnya ke arah Reyhan. Tangannya menyentuh wajah Reyhan yang sedikit lagi akan terlelap dan pergi ke alam mimpi.


"Ya ampun, Lun! Kamu mengagetkanku!" Reyhan langsung terbangun seketika dan langsung terduduk.


"Mengapa kamu naik ke atas kasur ini?" Tanya Reyhan sembari menatap Luna dengan tatapan tidak suka. Reyhan merasa Luna sudah bersikap kurang wajar.


"Aku juga ingin tidur, Rey. Ini sudah malam."


"Oh iya aku lupa. Aku terlalu lelah. Baiklah aku turun," Reyhan turun dari tempat tidur dan mengambil sebuah bantal juga selimut hangat yang kecil untuk dibawa ke sofa.


Semenjak mereka menikah, Luna dan Reyhan memang tidak pernah tidur seranjang. Reyhan lebih memilih untuk tidur di atas sofa yang ada di dalam kamar itu.


"Rey? Apa hubungan kita akan seperti ini terus?" Batin Luna sambil melihat Reyhan yang berusaha untuk memejamkan matanya di atas sofa.


Luna pun mengalihkan tatapannya, ia berguling ke sana ke mari mencari posisi terbaik untuk tidur.


"Reza? Mungkin sudah saatnya aku melupakanmu," lirih Luna sebelum ia memasuki alam mimpi.


Pagi harinya....


Alarm di ponsel Reyhan terus berbunyi, Reyhan mematikan ponselnya dengan bermalas-malasan.


"Iya, aku bangun!" Teriak Reyhan ketika satu kali lagi ponselnya berdering dengan nyaring.


Reyhan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, lalu melaksanakan setiap kegiatan pagi harinya. Setelah semuanya selesai, Reyhan melirik ke arah tempat tidur yang sudah kosong sedari tadi.


"Luna ke mana?" Tanya Reyhan sambil melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya.


Saat Reyhan tiba di ruang makan, ia tidak melihat Luna sama sekali.


"Luna ke mana?" Tanya Reyhan dengan panik.


Reyhan takut terjadi apa-apa dengan istri yang tidak di cintainya itu. Reyhan takut bermasalah dengan kedua orang tuanya dan kedua mertuanya jika suatu hal yang buruk terjadi pada Luna.


"Lun?" Teriak Reyhan ketika ia berkeliling mencari keberadaan Luna di setiap sudut rumah.

__ADS_1


"Kamu di sini?" Reyhan berkata dengan lega saat melihat Luna tengah memasak di dapur.


"Iya. Aku sedang memasak untukmu," jawab Luna sambil memulai mengiris bawang merah dan bawang putih.


"Aku bisa makan di luar," Reyhan menggaruk rambutnya.


"Tidak apa. Aku ingin memasak untukmu," Luna terus mengiris bawang-bawang itu.


Hening.. Hening...


Reyhan dan Luna tampak diam dengan pikirannya masing-masing. Mereka masih sangat canggung satu sama lain.


"Awww!!!" Rintih Luna saat jemari tangannya teriris oleh pisau.


"Lun, kamu baik-baik saja?" Reyhan dengan cepat mendekati Luna.


"Tidak, hanya jariku terluka," Luna mengibas-ngibaskan jarinya yang berdarah.


Reyhan tidak berkata apapun lagi, ia berjalan mencari kotak P3K dan mengeluarkan plester untuk mengobati tangan Luna.


"Aku sudah bilang, aku bisa makan di luar," Reyhan mengambil tangan Luna dan membersihkan darah di jari gadis itu.


Reyhan dengan telaten memasangkan plester di jari Luna yang lentik. Sementara itu, Luna diam terpaku dengan apa yang Reyhan lakukan padanya. Mata Luna menjelajahi setiap inci wajah pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


"Reyhan memang tampan. Pantas saja Nayla sangat mencintainya," bisik Luna di dalam hatinya. Tanpa sadar, Luna tersenyum menatap wajah Reyhan.


"Iya?" Luna buru-buru menurunkan pandangannya.


"Lukanya sudah aku obati. Aku berangkat dulu! Ada tugas penting hari ini," Reyhan berkata dengan dingin.


"Tidak sarapan dulu?"


"Tidak. Nanti aku terlambat. Aku pergi dulu!" Reyhan bergerak meninggalkan Luna.


"Rey?" Panggil Luna sekali lagi.


"Ada apa?"


Luna dengan cepat berjalan ke arah Reyhan. Tanpa berkata apapun, Luna langsung berjinjit dan membetulkan dasi Reyhan yang sedikit melilit. Reyhan pun terlonjak kaget dan menatap wajah Luna yang sedang membetulkan dasi di lehernya.


"Lun, kamu memang cantik. Tapi hatiku sudah terikat dengan Nayla. Aku tidak akan bisa mencintai gadis selain Nayla," gumam Reyhan di dalam hatinya.


"Sudah, Lun!" Reyhan menyingkirkan tangan Luna dari dasinya.


Reyhan pun segera meninggalkan Luna untuk pergi bekerja. Luna hanya memandang punggung Reyhan yang semakin menjauh darinya. Selama bekerja, pikiran Reyhan tidak lepas dari gadis yang bernama Nayla. Bahkan Reyhan melewatkan sarapan dan makan siangnya. Hatinya tidak tenang, ia berharap bisa segera membuka komunikasi lagi dengan Nayla. Reyhan terus mengecek ponselnya. Reyhan ingin tahu, apakah Nayla sudah membuka blokir untuk kontaknya atau tidak?

__ADS_1


"Nay, mengapa kita jadi seperti ini? Aku bisa gila kalau seperti ini terus!!" Resah Reyhan dengan frustasi.


"Aku tidak kuat lagi. Sepulang bekerja, aku harus ke rumah Nayla," Reyhan bertekad.


Hari ini Reyhan harus pulang malam hari, karena ada tambahan pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tubuhnya merasa tidak enak karena belum ada makanan yang masuk dari pagi sampai dengan malam ini. Cuaca pun sedang tidak menentu. Akan tetapi, tekadnya untuk menemui Nayla semakin membucah di dadanya. Reyhan seolah tidak peduli dengan status baru yang sudah kini ia sandang. Rasa rindunya kepada Nayla sudah sangat hebat. Reyhan memutuskan untuk datang ke rumah mantan kekasihnya itu.


"Apa Nayla sudah pulang?" Tanya Reyhan saat ia sudah berada di teras Nayla. Reyhan mengetuk-ngetuk pintu, tetapi tidak ada yang kunjung membuka pintu.


"Sepertinya kosong," Reyhan melihat keadaan di dalam rumah dari kaca.


Reyhan pun hanya mondar mandir di depan rumah Nayla, Nayla sendiri sedang makan di luar bersama keluarganya.


"Kak?" Dwi mencolek tangan Nayla saat mereka sudah akan sampai rumah.


"Iya?" Timpal Nayla yang sedang asik membalas chat dari klien.


"Itu kak Reyhan kan?" Ibu Asih yang kini menimpali. Nayla langsung mengangkat wajahnya. Ia melihat Reyhan tengah menggosok-gosokan tangannya menahan cuaca dingin yang menyiksa tubuhnya.


"Iya, itu kak Reyhan!" Seru Bayu.


"Reyhan? Mau apa dia ke sini?" Nayla bertanya dengan geram.


"Nak, kamu masih berhubungan dengan Reyhan?" Bu Asih menampakan gurat wajah yang khawatir.


"Tidak, Bu. Nayla sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan Reyhan," Nayla menyanggah.


"Lalu, kenapa dia ada di depan rumah kita?" Tandas Bu Asih lagi.


"Nayla tidak tahu, Bu."


"Sebaiknya jangan mencari masalah dengan Bu Rika dan Bu Anita, Nay!"


Nayla pun tidak menjawab peringatan dari ibunya, ia langsung berjalan cepat menghampiri Reyhan yang sepertinya sedang berusaha menahan hawa dingin malam ini.


"Mau apa kamu ke sini?" Nayla memasang wajah yang sangat tidak bersahabat.


"Nayla?" Seru Reyhan dengan gembira. Tetapi yang dilihatnya kini bukanlah tatapan cinta yang selalu terlihat di mata Nayla, tetapi sebuah kebencian yang nyata.


"Mau apa kamu ke sini?!!" Nayla membentak Reyhan.


"Kak!" Dwi menyentuh tangan Nayla yang sepertinya akan meluapkan emosi.


"Aku ke sini karena, Aku-" Belum sempat Reyhan melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan Reyhan ambruk di lantai.


"Kak Rey!!" Bayu dan Dwi berteriak melihat Reyhan pingsan.

__ADS_1


"Nak Rey?" Bu Asih berjongkok untuk melihat Reyhan.


Nayla tidak bergeming dari tempatnya berpijak, ia melihat kedua adik dan ibunya tengah berusaha membangunkan Reyhan.


__ADS_2