
Luna saat ini sudah di depan galeri tempat Nayla bekerja, rencananya ia akan memperingatkan Nayla agar menjauhi Reyhan. Tepat sekali kedatangan Luna saat jam istirahat. Ia melihat Nayla keluar dari galeri bersama Adam dan Ayu.
"Nay?" Panggil Luna dengan wajah yang tak ramah.
"Hey, Lun! Tumben kamu ke galeri. Ada apa? " Tanya Nayla dengan senyum merekah di wajahnya.
Nayla sudah berdamai dengan keadaan, ia sudah merelakan Reyhan untuk Luna. Nayla pun sudah bisa menata hatinya dari keterpurukannya kemarin. Ia tidak mau berlama lama galau karena ada ibu dan adiknya yang harus ia nafkahi.
"Bisa kita bicara sebentar, Nay? Berdua?" Luna menatap Adam dan Ayu dengan tatapan risih.
"Santai aja kali mbak! Kita juga gak akan kepo urusan situ!!" Ceplos Adam seraya memutar kedua bola matanya, sedangkan tangannya sibuk memegang kipas angin mini.
"Ya udah kita pergi yuk, Mas? Nay kita jajan duluan ya?" Pamit Ayu seraya menyikut pelan lengan Adam. Mereka segera meninggalkan Luna dan Nayla berdua.
"Iya, hati-hati!"
"Kita mau ngobrol di mana, Lun? Di kedai seblak langganan kita apa di mana?" Cerocos Nayla. Sikapnya masih sama seperti dulu sebelum Luna menikah dengan Reyhan.
"Tidak usah. Aku tidak lama kok. Kita bicara di situ saja!" Luna menunjuk sebuah kursi di bawah pohon mangga.
__ADS_1
Melihat ekspresi Luna, Nayla terlihat bingung. Perasaannya sudah tidak enak. Ia takut Luna membahas soal Reyhan.
"Ya sudah, ayo!"
Nayla dan Luna mendudukan diri mereka di sebuah kursi yang berada di halaman galeri. Tepatnya di bawah pohon mangga yang rimbun. Luna menatap Nayla dengan tatapan sinis. Sebenarnya ia juga tidak mau ada masalah dengan Nayla, tapi melihat Reyhan belum pulang selama satu minggu, Luna merasa frustasi. Ia harus memperingati Nayla agar ia tak berhubungan lagi dengan suaminya.
"Nay, jauhi Reyhan!" Ketus Luna tanpa basa-basi. Ia langsung berbicara ke inti permasalahan.
"Maksudmu, Lun?" Nayla masih tidak mengerti.
"Nay, please! Gak usah berpura-pura! Aku yakin kamu tahu bahwa Reyhan udah satu minggu pergi ninggalin rumah. Dan itu semua gara-gara kamu. Coba aja kalau kamu ga datang waktu itu. Mungkin Reyhan gak akan semarah ini sama aku. Dan kita ini sahabatan Nay, apa kamu tega rebut suami sahabatnya sendiri?" Bentak Luna dengan mata berkaca-kaca, pertahannya runtuh ia menangis tersedu-sedu di depan Nayla.
"Lun, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Aku datang karena waktu itu bukannya mertuamu yang menyuruhku ke sana? Dan aku yakin kamu pun tahu itu. Kok sekarang kamu yang jadi playing victim? Dan satu lagi Lun, aku sudah tidak ada rasa sama suami kamu! Jadi, sebelum kamu labrak aku seperti ini, coba kamu ngaca apa yang kamu perbuat pada suamimu sampai dia tidak mau pulang! Stop ya Lun buat mengaitkan aku dan suamimu lagi. Dan apa kamu bilang? Aku rebut Reyhan? Apa gak terbalik? " Nayla tertawa, ia tak mengerti dengan jalan pikiran wanita yang ada di sampingnya ini. Memang selama bersahabat dulu, Luna sering menunjukan sikap egois dan kekanak-kanakannya.
"Nay, aku tidak rebut Reyhan ya. Aku dijodohkan. Tidak usah menyudutkan aku! Jelas di sini kamu yang salah! Aku yakin Rey keukeuh buat ngejar kamu karena kamu ngasih harapan ke dia," Luna menautkan alisnya geram, wajahnya merah padam karena menahan amarah yang meluap.
"Kamu selalu mengaku sahabatku? Tapi karena pria, kamu seakan tak mengenaliku. Kamu pun tahu sendiri bahwa aku sangat anti berhubungan dengan pria yang sudah mempunyai pasangan, sekali pun itu belum menikah. Jadi, stop ya Lun! Biarkan aku hidup tenang tanpa bayang-bayang suamimu lagi."
Luna meresapi perkataan Nayla, Luna sangat tahu Nayla. memang benar Nayla sangat tidak mau berhubungan dengan pria yang sudah mempunyai pasangan. Bahkan saat SMA pun, Nayla selalu dilabrak kakak kelasnya karena kekasih mereka menggoda Nayla. Tapi Nayla tidak pernah menggubrisnya. Tapi bisa saja kan sekarang Nayla berubah? Apalagi Reyhan pernah menjadi kekasihnya bertahun-tahun. Wanita mana yang cepat sekali move on?
__ADS_1
"Aku tidak boleh percaya pada Nayla. Tidak mungkin segampang itu Nayla melupakan Reyhan. Dia serigala berbulu domba," batin Luna geram.
"Mana ada sih pelakor ngaku!" Tuduh Luna jengkel.
"Aku yakin Reyhan semangat ngejar-ngejar kamu karena kamu ngeladenin dia kan? Inget Nay, aku istri sahnya Reyhan! Karma berlaku. Ati-ati ya, Nay!" lanjutnya lagi dengan berang.
"Pelakor?" Nayla tertawa.
"Harus pake kata apalagi sih supaya kamu percaya, Lun? Aku kaya ngomong sama batu. Penjelasan aku gak ada yang masuk ke otak kamu! Kaya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Sekali lagi aku tegasin, aku tidak ada hubungan apapun lagi sama Reyhan. Biasanya doa yang jelek nanti balik lagi kok sama orang yang mendoakan. Udah ya aku pergi? Cape ngomong sama orang yang gak ngerti-ngerti," Nayla bangkit dari duduknya, ia berjalan meninggalkan Luna.
Emosi menyelimuti hati dan pikiran Luna, ia melihat sebuah pot kecil di pinggir pohon mangga. Luna berniat akan melemparkannya ke kaki Nayla agar gadis itu berhenti. Saat tangan Luna terayun, ada tangan lain yang mencengkram lengan Luna dengan sangat kasar. Ya, dia adalah Aditya.
"Jangan macam-macam dan jangan buat kekacauan di sini!" Desis Adit dengan mata berkilat.
"Siapa kamu? Lepaskan! Sakit!!" Luna meronta
"Saya peringatkan kamu. Jangan sakiti Nayla! Dia kekasih saya. Atau kamu yang akan berurusan dengan saya!!"
Mata Luna membulat sempurna. Ia sangat terkejut mendengar pengakuan pria yang ada di depannya. Tapi benarkah pria ini kekasih Nayla? Lalu sejak kapan mereka berpacaran? Sedangkan Nayla yang mendengar keributan di belakangnya langsung menoleh seketika ke arah Luna dan Aditya.
__ADS_1