Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Mengantarkan Foto Pernikahan


__ADS_3

Keesokan harinya, Rika dan Winie berkunjung ke rumah Reyhan dan Luna. Mereka hendak merencanakan ide yang Winie berikan di hari kemarin.


"Kak Reynya mana?" Winie celingukan mencari keberadaan kakaknya.


"Kakakmu lagi mandi. Dia baru pulang kerja," sahut Luna sambil mendudukan dirinya di sofa ruang tamu.


"Lun, pakai ini ya?" Rika memberikan bingkisan kepada Luna.


"Makasih ya, Ma?" Luna tersenyum senang. Sudah tentu, Luna tahu apa isi dari bingkisan ibu mertuanya.


"Mama, Winie?" Sapa Reyhan saat ia baru turun dari tangga.


"Eh kak Rey!" Winie berdiri dari duduknya.


"Kalian ke sini mau ngapain?" Tanya Reyhan dengan polos.


"Tentu saja jenguk kamu, Rey! Memang tidak boleh ya mengunjungi anak sendiri?" Rika berdecak pelan.


"Ya gak gitu sih, Ma. Cuma tumben aja," Reyhan mendudukan dirinya di samping Rika.


"Rey, mama, Winie? Aku ke atas dulu ya?" Luna pamit dan masuk ke dalam kamar.


"Iya, Lun."


"Kak, Winie haus nih," Winie mengusap tenggorokannya.


"Biar kakak bikinin minum," Reyhan hendak berdiri dari duduknya.


"Biar mama aja yang bikin. Kamu pengen juga, Rey? Biasanya menjelang malam begini kamu suka minum es jeruk buatan mama?" Rika menawari.


"Boleh, Ma. Es jeruk ya?"


"Oke, mama buatkan," Rika berlalu ke dapur.


Dengan cekatan, Rika membuka kulkas lalu membuat es jeruk untuk Reyhan, dan segelas jus alpukat untuk Winie. Sebelum membawa gelas untuk kedua anaknya, Rika merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Rika mengeluarkan satu tablet obat dan memasukannya ke dalam es jeruk milik Reyhan.


"Maafkan mama ya, Rey? Bukan mama jahat. Mama hanya ingin menyelamatkan rumah tangga putra mama dari pelakor. Obat ini adalah obat supaya kamu ter*ngs*ng. Mama ingin kamu melakukannya dengan Luna. Dengan melakukan hal itu, akan membuat hubungan kalian dekat dan membutuhkan satu sama lain. Lalu Luna hamil. Kalau Luna sudah hamil, mau tidak mau kamu pasti akan mencoba menerima Luna dan tidak akan pernah meninggalkannya," batin Rika sembari menatap es jeruk itu.


"Ini Rey, Win!" Rika menyajikan es jeruk dan jus alpukat yang baru dia buat.


"Makasih ya, Ma!" Winie langsung meneguk jus alpukat miliknya sampai tandas. Sedangkan Reyhan masih bermain dengan ponselnya.


Reyhan pun menyimpan ponselnya dan langsung meminum es jeruk buatan ibunya yang sudah dibubuhi oleh obat itu.


"Rey, mama sama Winie pulang dulu ya?" Ucap Rika dengan terburu-buru.


"Lho, kenapa? Baru aja kalian duduk beberapa menit," Reyhan menoleh jam dinding di ruang tamu.


"Mama lupa ada jadwal arisan. Mama sama Winie pulang ya?" Rika dan Winie segera pergi dari hadapan Reyhan dan keluar dari dalam rumah.


"Mama sama Winie kaya dikejar setan aja," Reyhan berdiri dari duduknya dan naik ke lantai atas untuk meneruskan membaca buku. Buku itu ia beli untuk mengalihkan pikirannya yang terus memikirkan Nayla.


"Kok badan aku panas ya?" Reyhan menyeka keringat di keningnya.


"Mengapa hasratku tiba-tiba muncul?" Batin Reyhan, ia mendudukan dirinya di atas kasur.

__ADS_1


Luna pun keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai ling*rie yang diberikan Rika tadi untuknya. Ling*rie itu benar-benar tipis dan memperlihatkan sebagian besar lekuk tubuh Luna.


Reyhan yang sudah dalam pengaruh obat itu pun menatap Luna dengan pandangan berkabut. Ia bahkan terus menerus meneguk salivanya ketika melihat Luna memakai baju kurang bahan itu.


"Gimana, Rey? Bagus engga?" Luna memutar mutarkan tubuhnya di depan Reyhan.


Reyhan berdiri dari duduknya. Ia berdiri di depan Luna. Reyhan membayangkan jika Nayla yang memakai baju itu.


"Kamu menarik banget kalau pakai baju ini, Nay!" Reyhan mengelus pipi Luna.


Luna pun ingin marah, tetapi ia tahan untuk ambisinya malam ini. Luna berpikir jika Reyhan harus secepatnya terikat pada dirinya.


"Makasih, Rey!" Luna memeluk Reyhan.


Reyhan semakin tidak bisa mengendalikan hasratnya. Dengan cepat, Reyhan menc*um bibir Luna dan membimbingnya ke atas tempat tidur. Dengan sekali tarikan, Reyhan berhasil melepaskan baju yang menempel pada tubuh Luna. Kemudian Reyhan pun melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.


"Aku cinta kamu, Nay! Kamu milik aku sekarang! Kamu gak bisa ngehindar lagi dari aku!" Racau Reyhan di sela-sela percintaannya dengan Luna. Ia terus membayangkan jika Luna adalah Nayla.


"Aku juga cinta kamu, Rey!" Jawab Luna yang sangat menikmati aktifitasnya saat ini.


****


Sebelumnya.....


"Nay, kamu inget mantan kamu yang nikah itu?" Tanya Nia kepada Nayla yang baru saja beres melayani fitting calon pengantin.


"Iya, Bu. Ada apa ya?" Raut wajah Nayla berubah. Ia takut dirinya terkena masalah lagi bila berhubungan dengan Reyhan dan keluarganya.


"Tadi Rika alias ibunya Reyhan telfon. Dia minta kita kirimin file foto nikahan Luna dan Reyhan sore ini."


"Rika pengen kamu yang anter file foto itu, Nay."


"Bu, bukannya file foto itu biasanya sekaligus sama album fotonya ya?" Nayla merasa heran.


"Iya, Nay. Ibu juga sudah bilang begitu. Tapi kamu tahu kan Rika bagaimana? Dia minta dikirimin hari ini soalnya mau dipake buat acara penting. Mereka mau print foto Reyhan sama Luna. Mungkin buat acara keluarga," Nia memprediksi.


"Rika ngancam, kalau bukan kamu yang anterin katanya dia mau kasih feedback negatif ke galeri kita di go*gle atau via instagr*m," keluh Nia.


"Ya ampun! Kok dia selalu begitu ya, Bu?" Nayla memejamkan matanya.


"Iya, Nay. Tapi kalau kamu gak mau nganter gak apa-apa, Nay. Ibu ngerti perasaan kamu. Ibu suruh aja Adam anterin. Biarin aja dia mau nerima atau engga," tukas Nia dengan lembut.


"Gak apa-apa, Bu. Biar Nayla aja yang anterin. Mana filenya, Bu?"


"Benar kamu gak akan apa-apa, Nay?" Nia merasa cemas.


"Benar, Bu. Nayla bakal baik-baik saja. Lagi pula cuma anterin kan?" Nayla tersenyum.


"Baiklah, Nay. Ibu memang beruntung punya karyawan kaya kamu. Kamu selalu bersikap profesional," Nia tersenyum bangga.


Nia pun masuk ke ruangannya. Akemudian tak lama, Nia keluar dengan membawa bingkisan yang berisi file foto-foto pernikahan Reyhan dan Luna yang sudah ia copy.


"Nayla berangkat ya, Bu?" Nayla membawa bingkisan yang disodorkan Nia. Kemudian Nayla segera berangkat ke alamat rumah Reyhan yang diberikan oleh Nia. Tentu saja Rika yang memberikan alamat putranya kepada Nia.


"Sepertinya ini rumahnya!" Nayla turun dari ojek online yang ia tumpangi.

__ADS_1


Nayla pun masuk ke area halaman rumah Reyhan, ia melihat Rika dan Winie berjalan dengan terburu-buru.


"Eh, kak Nayla!" Sapa Winie.


"Tumben dia sopan!" Oceh Nayla dalam hatinya.


"Ini file yang kalian minta!" Nayla menyodorkan bingkisan di tangannya.


"Nay, kita mau pulang. Kamu kasih aja langsung ke Luna ya? Luna lagi di kamarnya, di lantai dua. Kamu naik aja!" Suruh Rika dengan senyum merekah di bibirnya.


"Tumben dia senyum kaya gitu!" Resah Nayla kembali.


"Lebih baik kalian aja yang terima. Gak enak kalau harus naik ke kamar orang lain," tolak Nayla pada akhirnya.


"Kita mau pergi, Nay. Luna yang butuh filenya. Kamu anterin aja langsung. Lagi pula Luna kan bukan orang lain, dia sahabat kamu kan?" Bujuk Rika.


"Iya, Kak Nay jangan sungkan! Kak Rey lagi gak ada kok."


"Bukannya ini mobil Rey ya?" Nayla menunjuk mobil yang biasa Reyhan pakai. Mobil itu terlihat terparkir di garasi yang terbuka.


"Kak Rey pake mobil papa. Mobil dia rusak," kilah Winie.


Tiba-tiba hujan pun turun langsung dengan deras.


"Duh hujan, kita pulang dulu ya, Nay! Inget ya anterin langsung ke kamar Luna! Dia gak bisa turun soalnya!" Rika mewanti-wanti. Kemudian ia dan Winie berlari ke dalam mobil.


Nayla pun ikut berlari ke teras rumah Reyhan. Dengan ragu, Nayla membuka pintu dan masuk ke dalam rumah Reyhan dan Luna. Nayla membiarkan pintu terbuka supaya tidak timbul salah paham.


"Lun?" Panggil Nayla.


"Lun, bisa turun enggak?" Nayla berteriak.


"Lun, aku naik ya?" Dengan ragu, Nayla pun menapaki satu persatu tangga untuk mencapai kamar Reyhan dan Luna.


"Cuma ini kamar satu-satunya di lantai atas," gumam Nayla. Tangannya bersiap untuk mengetuk pintu. Tetapi seketika tangannya tertahan ketika mendengar suara memalukan dari dalam kamar.


"Aku cinta kamu!" Terdengar suara Reyhan yang memberat dan menggebu-gebu. Tak lama, terdengar suara l3guhan yang begitu nyaring keluar dari mulut Luna.


Nayla pun hanya mematung di tempatnya berdiri. Ia seperti tersambar petir seketika. Kakinya terasa berat untuk di langkahkan, hingga Nayla masih berdiri di posisinya sekarang ini. Semakin lama, semakin terdengar nyaring dan jelas suara Luna dan Reyhan dari dalam kamar.


"Kenapa kita gak lakuin ini dari dulu?" Suara Reyhan terdengar lagi.


Lagi-lagi, terdengar suara d3s*han Luna yang semakin lama semakin nyaring. Nayla pun menutup telinganya, kemudian ia dengan cepat turun dari tangga.


Nayla segera menyimpan bingkisan yang Nia titipkan di atas meja ruang tamu. Nayla pun berlari keluar dari rumah Reyhan dan menutup pintu.


"Menurut mama si gadis miskin itu tahu apa yang terjadi di atas?" Tanya Winie yang sedang berada di dalam mobil bersama ibunya. Mereka memang menunggu Nayla keluar dari dalam rumah.


"Tahulah, dia juga gak polos-polos banget!" Rika tersenyum kecut.


Nayla berlari menerobos hujan yang masih mengguyur dengan deras.


"Kenapa aku harus nangis? Aku gak punya rasa apa-apa lagi dengan Reyhan," Nayla menggelengkan kepalanya. Mencoba mengusir rasa galau yang bergejolak di dadanya. Nayla pun berhenti dan mencoba untuk mengatur nafasnya.


"Hey, gadis hujan! Lagi jadi tukang ojek payung?" Seru seorang laki-laki yang membuka kaca mobilnya.

__ADS_1


"Aditya?" Gumam Nayla saat ia melihat pria itu lagi.


__ADS_2