
Puas berjalan jalan di Wood Bridge, Nayla dan Aditya mampir untuk melaksanakan kewajibannya. Yaitu shalat magrib. Aditya diminta oleh pengunjung yang berada di masjid untuk menjadi imam. Pria itu pun maju ke depan dan memimpin shalat magrib berjamaah. Hati Nayla sangat bergetar mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dilantunkan Aditya dengan fasih.
"Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya kelak," Nayla bergumam dalam hati setelah shalat berakhir.
Ingin sekali Nayla berdoa jika dirinya ingin menjadi makmum seumur hidup untuk Adit. Tapi Nayla cepat-cepat mengusir pikiran yang menurutnya susah sekali untuk di capai itu. Aditya adalah orang berada. Sangat berbeda jauh dengan dirinya yang berasal dari keluarga biasa. Tidak seharusnya Nayla memikirkan yang tidak-tidak. Aditya dan Nayla pun keluar dari dalam masjid. Mereka berjalan bersisian menikmati malam yang baru datang.
Udara semakin dingin. Nayla merekatkan jaketnya yang terbuat dari bahan rajut. Aditya pun melepaskan jaket yang membalut tubuhnya. Ia memakaikan jaket berwarna hitam itu kepada gadis yang berjalan di sisinya.
"Tapi, Dit-" Nayla hendak menolak.
"Ssstttt! Pokoknya pake ya?" Aditya menyilangkan jari telunjuknya di bibir.
Nayla tidak memprotes lagi. Ia mulai menaikan resleting jaket Aditya sampai lehernya. Berhasil, tubuhnya kini menghangat.
"Ayo kita makan malam, Nay!" Ajak Aditya pada gadis yang selalu menari-nari di pikirannya itu.
"Ayo, Dit!" Nayla langsung mengangguk setuju karena sedari tadi perutnya mulai berbunyi pertanda ingin segera di isi.
Mereka langsung berjalan ke arah cafe yang dinamai Golden Pine Orchid Forest. Cafe ini memang terletak di dalam wahana wisata Orchid Forest. Golden Pine mengusung tema semi outdoor dan menghadap langsung ke arah hutan pinus. Nayla dan Adit saling duduk berhadapan.
"Kamu mau pesan apa, Nay?" Aditya memperhatikan buku menu yang ada di tangannya.
"Aku pengen mineral water aja sama Croissant," Nayla menyebutkan menu yang terjangkau. Ia harus menghemat uang karena sebentar lagi adiknya akan lulus sekolah dan harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Yakin cuma itu?" Aditya menghentikan aktifitasnya melihat buku menu. Ia menatap Nayla yang sudah menutup buku menunya.
"Iya, Dit. Itu aja," Nayla tersenyum simpul.
"Nay, kalau aku pesen makanan di sini semua gimana? Soalnya kata mama makanan di sini enak-enak. Nah kamu harus cicipi semua, terus kita bisa bikin menu itu di cafe kita. Gimana?" Aditya membuat alasan agar diterima Nayla. Tentu ia sudah tahu alasan gadis itu memesan menu yang paling murah.
"Pesan semua? Yakin bakal abis? Terus pasti harganya mahal banget kalau pesan semua, Dit," Nayla membuka lagi buku menu di hadapannya.
"Ya ga apa-apa, Nay. Anggap aja ini perjalanan bisnis biar usaha aku semakin maju. Kita bisa bikin menu itu nanti di cafe. Biar makin rame tuh cafe. Kalau rame kan nanti gaji kamu juga ada kenaikan," Adit seakan tidak putus asa.
"Oke kalau gitu, Dit," Nayla menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Aditya pun kemudian memesan semua makanan yang ada di menu. Untuk minuman, mereka hanya memesan chocolate dan chamomile. Selagi menunggu pesanan mereka datang, Nayla memperhatikan ke arah hutan pinus yang menjulang tinggi. Aditya pun tampak mengikuti arah pandangan Nayla.
"Kenapa liat ke arah hutan pinus terus? Kamu takut, Nay?" Aditya terus menatap ke arah wajah Nayla yang malam ini begitu menawan. Semilir angin membuat rambut Nayla sedikit berantakan. Hal itu tampak semakin mempesona di mata Aditya.
"Engga. Dari dulu aku pengen kalau nikah, aku pengennya nikah dengan tema outdoor di hutan pinus kaya gini," Nayla tersenyum. Tak lama seorang pelayan mengantarkan minuman yang mereka pesan.
"Terima kasih," ucap Nayla sembari tersenyum. Ia mulai meminum chocolate pesanannya.
"Jangan di hutan pinus deh, Nay! Aku gak mau kedinginan seharian kalau kita nikah," cetus Aditya sembari meminum Chamomile pesanannya.
"Uhuk!" Nayla langsung terbatuk-batuk.
"Nay, kamu gak apa-apa?" Aditya berdiri dari duduknya.
Nayla tidak menjawab. Gadis itu masih terbatuk-batuk. Bahkan kini wajahnya sedikit memerah.
"Maaf ya, Nay!" Ucap Aditya sebelum ia menepuk-nepuk punggung Nayla dengan pelan.
"Aku gak apa-apa kok, Dit. Udah mendingan," ucap Nayla pada akhirnya setelah dirinya merasa lebih baik.
"Lain kali hati-hati, Nay! Tersedak itu bahaya tau!" Aditya duduk kembali di kursinya.
"Bilang yang mana?" Aditya berpura-pura lupa.
"Itu yang sebelum aku tersedak," Nayla tidak pantang menyerah.
"Permisi!" Seru beberapa pelayan yang kini tengah membawa makanan pesanan Aditya.
Para pelayan itu menyimpan makanan-makanan itu di meja. Nayla memelototkan matanya. Gadis itu langsung lupa dengan pertanyaan yang ia ajukan kepda Aditya. Nayla sangat syok karena makanan pesanan Aditya sangat banyak. Bahkan pelayan mengambil meja tambahan untuk menyimpan makanan-makanan itu.
"Yakin ini Dit kita bisa ngabisin?" Tanya Nayla saat para pelayan sudah pergi.
"Ya, cicipi aja dikit-dikit!" Aditya berkata dengan cuek.
Yang pertama Nayla cicipi adalah Triple Belgian Chocolate. Nayla tersenyum kala mencicipi makanan itu. Wajar saja dirinya memang jarang makan makanan premium. Baginya kebutuhan keluarga adalah nomor satu. Nayla harus berhemat untuk ibu dan adik-adiknya.
__ADS_1
"Cobain ini deh, Nay!" Aditya menyendokan Cream Brulle dan menyuapi Nayla dengan sendoknya.
Nayla membuka mulutnya dengan canggung. Kemudian matanya terus memperhatikan Aditya yang kembali makan dengan sendok bekas bibirnya.
"Kok Adit gak jiji ya?" Batin Nayla.
"Ini cobain lagi!" Aditya menyuapi Nayla Cinnamon morning.
"Enak banget, Dit!" Mata Nayla berbinar.
"Kamu harus cobain ini!" Nayla menyendokan Nutela Cheeese Cake dan menyuapi Aditya dengan sendoknya.
"Kamu harus buat yang lebih enak dari ini ya?" Aditya amat senang Nayla menyuapinya.
"Belepotan kaya anak kecil!" Aditya membersihkan sudut bibir Nayla dengan tisu. Pipi gadis itu merona mendapat perlakuan yang lembut dari Aditya.
Mereka pun kembali makan dengan suasana riang. Nayla kemudian melihat makanan-makanan yang belum dirinya dan Adit cicipi. Dalam hatinya, Nayla teringat akan ibu dan adik-adiknya. Mereka sangat jarang makan makanan premium seperti ini. Aditya pun seakan dapat membaca raut wajah Nayla.
"Nay, kayanya kamu kekenyangan ya? Bungkus aja deh menu yang belum kamu coba! Nanti sekalian minta pendapat ibu kamu!" Ucap Aditya sembari membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Beneran, Dit?" Senyum merekah terbit di bibir gadis cantik itu.
"Bener lah. Kali aja ibu kamu punya ide buat inovasi."
"Makasih, Dit. Aku bungkus ya?" Nayla berkata dengan riang. Ia memanggil pelayan dan meminta pelayan membungkus makanan-makanan yang belum mereka sentuh. Dalam hati, Nayla terus mengucap syukur. Malam ini, ibu dan kedua adiknya bisa makan makanan enak.
"Ibu, Bayu, Dwi, pasti kalian senang kakak bawa makanan-makanan ini."
...Golden Pine Orchid Forest Bandung...
__ADS_1
Source images : ig
Golden Pine @caffeinestories_