Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Perasaan Aditya


__ADS_3

"Kok akhir-akhir ini kamu rajin banget ke galeri, Dit?" Tanya Nia dengan senyum menggodanya. Ia sangat memahami alasan putranya yang semakin rajin datang ke galeri.


Aditya mengedarkan pandangannya, kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman saat melihat wanita yang beberapa hari ini selalu berada dalam di pikirannya. Entahlah perasaan apa ini, yang jelas wajah Nayla bagaikan candu. Aditya selalu ingin melihat wajah ceria itu setiap waktu.


"Dit?" Nia menepuk pelan bahu putranya.


"Eh iya, Mah. Aku ke sini pengen ketemu mama," jawab Adit dengan gelagapan.


"Pengen ketemu Mama atau Nayla?" Goda Nia lagi yang membuat pipi pemuda itu langsung bersemu merah.


"Apa sih, Mah?" Aditya tidak bisa menyembunyikan wajah gugupnya.


"Jangan malu-malu gitu, Dit! Kamu ini seorang pria. Perjuangkan perasaanmu jika kamu memang menyukainya! Kalau sudah diambil pria lain, kamu sudah tidak ada kesempatan," Nia memberikan nasihatnya, Adit mencerna setiap kata demi kata dari ibu yang sudah melahirkannya itu.


"Benar juga. Aku benar-benar tidak mau Nayla sampai jatuh hati kepada pria lain. Mengapa aku sangat khawatir begini sih? Padahal sebelumnya aku tidak pernah tertarik untuk menjalani hubungan dengan manapun setelah putus dari Olivia," cerocos Aditya di dalam hati kecilnya.


Aditya memperhatikan Nayla yang sedang memasangkan gaun di patung di manuquin. Rambutnya terayun ke kanan dan ke kiri mengikuti pergerakan kepala gadis mungil itu. Melihat punggungnya saja hati Aditya sudah berbunga. Entah sudah berapa hari wajah Nayla mengisi pikiran dan hatinya yang kosong.

__ADS_1


"Samperin gih! Be gentle dong, Dit!" Nia mendelik ke arah pemuda jangkung itu.


"Apa sih, Mah?" Aditya berpura-pura merajuk.


"Sepertinya memang benar. Aku sudah menyukai kamu, Nay."


Aditya berjalan ke arah Nayla yang kini sudah selesai dengan pekerjaannya. Nia hanya tersenyum senang melihat putranya yang semakin jelas menunjukan kesukaannya pada karyawannya itu.


Dahi Nayla berkeringat. Sepertinya ia sangat lelah sekali mengingat hari ini galeri begitu ramai. Tak hentinya banyak tamu yang berdatangan sejak pagi tadi ke galeri.


"Nggak, Dit. Kenapa?" Nayla mengerutkan keningnya heran. Mata beningnya menatap jam dinding yang beberapa menit lagi menunjukan berakhirnya jam kerjanya hari ini.


"Pulang bareng yuk! Aku mau jajan cuanki tempo hari itu. Rasanya ngangenin."


"Sebenarnya kamu sih yang ngangenin, Nay!"


Nayla berpikir sejenak, ia kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Membuat Aditya mempunyai harapan yang sangat besar untuk mengenal gadis itu lebih jauh.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang yuk!" Aditya tampak tak sabar.


"Masih 5 menit lagi, Dit. Kamu ini gak sabaran banget!!" Nayla tertawa renyah, sementara Aditya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku kenapa sih? Kampungan amat! Slow Dit, nanti Nayla bisa kabur!" Aditya sibuk memaki dirinya sendiri dalam hati.


"Kalian pulang aja! Udah jam nya pulang kok. Kasian Adit udah lapar dari tadi, Nay!" Sela Nia yang mendengarkan percakapan mereka sedari tadi.


"Beneran, Bu? Gak apa-apa?" Nayla tampak tak enak hati.


"Gak ap-apa, Nay. Cepat kamu pulang!" Nia tersenyum penuh arti.


Kini Aditya dan Nayla sudah berada di dalam mobil. Tak ada obrolan berarti di antara mereka, hanya obrolan kecil tentang cuaca kota Bandung. Suasana menjadi canggung. Tiba-tiba saja jantung Nayla berdetak lebih cepat. Nayla merasa grogi sampai ia tak fokus memakaikan sabuk pengaman di tubuhnya.


Aditya langsung mencondongkan tubuhnya dan sekali klik, ia berhasil memakaikan sabuk pengaman itu di tubuh ramping Nayla. Tatapan mereka bertemu, hidung keduanya nyaris saja menempel. Nayla langsung menurunkan pandangannya. Setelah itu, Aditya kembali pada posisinya semula dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran galeri.


Sementara Nia melihat semua adegan itu di balik kaca jendela galeri, dia hanya tersenyum penuh rasa syukur karna putranya kini sudah mulai membuka hatinya kembali. Sementara dari jauh, sepasang mata memperhatikan Nayla dan Aditya dengan amarah yang bergumul di dadanya.

__ADS_1


__ADS_2