Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Episode Terakhir


__ADS_3

Di sinilah Rika, Handi, dan Winie berada. Ya, kini mereka ada di depan rumah Nayla. Ucapan mereka tidak main main untuk meminta maaf pada Nayla demi Reyhan maafkan. Handi, Rika dan Winie pun membawa beberapa buah tangan untuk Nayla dan keluarganya.


Rika mengetuk pintu rumah yang sederhana itu. Sebenarnya ia amat malu untuk meminta maaf. Teringat segala ucapan hinaan yang ia lontarkan untuk Nayla dan keluarganya. Rika mengetuk pintu lebih keras saat pintu tidak kunjung dibuka.


"Sebentar!" Teriak seorang wanita dari arah belakang.


Pintu pun terbuka. Rika melihat Bu Asih yang tak lain adalah ibu Nayla yang membuka pintu.


"Kalian? Mau apa datang ke sini?" Bu Asih berkata dengan tak bersahabat.


"Bu?" Handi hendak berbicara.


"Jika kalian ke sini mau ganggu dan mau hina anakku, tidak akan aku biarkan!" Bu Asih berubah menjadi mode galak saat melihat keluarga yang selalu merundung putrinya.


"Bu, kedatangan kami ke sini itu baik-baik," Winie berkata dengan sopan. Sangat berbeda dengan Winie dulu yang amat arogan.


"Kami tidak menerima tamu seperti kalian. Pergi kalian!" Usir Bu Asih setengah berteriak. Hatinya amat sakit jika mengingat segala cacian dan hinaan mereka untuk Nayla.


"Bu, ada apa?" Nayla yang mendengar ribut-ribut langsung keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat keluarga mantan kekasihnya ada di depan rumahnya. Mau apa mereka? Belum puaskah mereka mencaci maki Nayla selama ini?


"Nayla?" Panggil Rika dengan tersenyum.


"Mau apa kalian ke sini?" Nayla berkata dengan raut wajah dingin.


"Boleh kita masuk dulu, Nay?" Handi tersenyum.


"Silahkan!" Nayla mempersilahkan.


"Tapi, Nay-" Bu Asih hendak mencegah.


"Bu, bukannya ibu selalu mengajarkan Nay untuk menghargai dan menyambut tamu dengan baik?" Nayla berkata dengan lembut.


"Astagfirullah!" Bu Asih mengusap wajahnya. Merasa ia sudah memberikan contoh yang buruk untuk Nayla dan kedua adiknya karena kini kedua adik Nayla tengah mengintip dari balik gorden kamar.


"Silahkan masuk kalau begitu!" Dengan berat hati bu Asih mempersilahkan.


Handi dan keluarganya pun masuk ke dalam rumah Nayla yang minimalis dan amat sederhana. Mereka semua mendudukan diri di sebuah sofa yang tampak usang.


"Jadi, ada perlu apa kalian ke sini?" Tanya Bu Asih dengan berwibawa. Berusaha menyingkirkan kemarahan hatinya.


"Kami membawa beberapa buah tangan, Bu," Rika menyodorkan beberapa buah tangan yang sudah mereka beli sebelum ke rumah Nayla.


"Maksud kedatangan kami ke sini adalah, kami ingin meminta maaf atas semua yang terjadi. Maafkan kami yang memperlakukan Nayla dan keluarga dengan begitu buruk," Handi mewakilkan permintaan maaf.


"Iya. Saya sungguh minta maaf sudah membuat kalian terluka," Rika meminta maaf sembari menangis.


"Maafin aku juga yang ikut-ikutan hina kak Nay dan keluarga," ucap Winie sembari tertunduk dengan dalam.

__ADS_1


Bu Asih hanya menghirup oksigen dengan dalam. Ia begitu tidak menyangka keluarga Reyhan yang ia kenal begitu arogan bisa datang ke rumahnya untuk meminta maaf.


"Pak, Bu, Neng?" Bu Asih menatap keluarga Reyhan satu persatu.


"Semua manusia sama di hadapan Allah. Jangan karena kami miskin, kalian bisa hina kami sepuasnya! Ingat yang membedakan kita hanya tingkat ketakwaan! Tidak ada satu pun manusia yang layak untuk menghina manusia lain karena semua manusia itu tidak ada yang sempurna. Jangan hanya karena harta dan kedudukan kalian merendahkan manusia lainnya!" Bu Asih menjawab dengan santai.


"Luka di tubuh suatu hari bisa mengering dan sembuh. Bahkan bekas lukanya akan menyamar dengan warna kulit. Tapi beda dengan hati, Bu. Hati manusia tidak ada yang tahu. Jika sudah sakit, sulit untuk disembuhkan. Maka dari itu, hati hati dengan segala ucapan, karena tidak ada yang lebih tajam dari lidah manusia. Ibu, Bapak, Eneng mengerti maksud saya?"


"Mengerti, Bu. Kami paham betul dengan yang ibu katakan. Maka dari itu kami kemari, setidaknya kami berusaha untuk meminta maaf agar kesalahan kami ini tidak kami bawa mati," timpal Handi dengan suara sedikit memelas.


"Maafkan kami! Kami menyesal dengan semua yang terjadi," Rika menyeka air matanya dengan tisu.


"Kami maafkan, Bu, Pak, Win. Allah saja maha pemaaf dan pengampun, masa makhluknya tidak, bener kan, Bu?" Nayla menoleh ke arah Bu Asih.


Kening Bu Asih berkerut. Mengapa anaknya begitu ringan memaafkan orang lain? Bu Asih sedikit kesal dengan putrinya.


"Dengan memaafkan, hidup akan lebih ringan kan, Bu? Bukan itu yang selalu ibu ajarkan?" Nayla tersenyum. Bisa memahami dan membaca apa yang ibunya pikirkan.


"Dengan memaafkan akan membuat hati kita lebih lapang. Bukan begitu yang dikatakan almarhum Bapak?" Nayla tersenyum lembut ke arah wanita yang sudah melahirkannya.


Bu Asih pun tersenyum mendengar ucapan putrinya. Nayla amat bijak mewarisi sifat ayahnya. Ah, Bu Asih rindu mendiang suaminya.


"Kamu bener, Nay," Bu Asih mengangguk.


"Kami memaafkan kalian, asal kalian tidak mengulangi kesalahan yang sama dan melakukan hal serupa kepada orang lain," Bu Asih melihat keluarga Reyhan.


"Kami tidak akan mengulangi hal yang sama. Kami menyesal," Janji Rika.


Rika pun bercerita mengenai keadaan rumah tangga Reyhan yang sudah hancur. Bu Asih dan Nayla amat bersimpati atas apa yang terjadi. Saat percakapan mengalir, Aditya kemudian datang dan masuk ke dalam rumah. Ia amat kaget melihat keluarga Reyhan datang. Terlebih Aditya melihat semua barang bawaan keluarga Reyhan untuk Nayla. Mendadak hatinya diselimuti awan mendung.


"Dit?" Sapa Nayla ketika melihat kekasihnya datang. Semua orang yang ada di ruang tamu pun menoleh.


"Maaf, silahkan kalian lanjut lagi! Maaf mengganggu!" Adit memaksakan senyumnya kemudian pergi dari rumah Nayla dengan tergesa.


"Semuanya, aku izin pamit menyusul Adit ya?" Nayla meminta izin. Kemudian ia menyusul Aditya.


"Sepertinya kita tidak bisa berbesan ya, Bu?" Rika berkata dengan kecewa.


"Iya Bu, mau gimana lagi? Nayla cintanya sama Adit," jawab Bu Asih dengan tersenyum simpul.


Sementara Nayla terus mengejar Aditya yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Dit? Kamu mau ke mana?" Nayla mencekal tangan prianya untuk masuk ke dalam mobil.


"Lanjutin aja, Nay! Lanjutin aja acara lamarannya!" Aditya berkata dengan sedih.


"Maksudnya?" Nayla tampak tidak paham.

__ADS_1


"Reyhan udah cerai sama istrinya terus dia sekarang lamar kamu kan, Nay? Liat aja tuh barang bawaan mereka banyak banget!" Ucap Aditya dengan sebal.


"Oh gitu? Tadi kamu nyuruh apa? Lanjutin ya? Ya udah kalau gitu, aku lanjutin aja dan nerima lamaran Reyhan!" Nayla berbalik dan hendak masuk ke dalam rumahnya.


"Jangan dong, Nay! Aku kan pacar kamu. Gak akan aku izinin kamu nerima lamaran pria lain," Adit mengejar Nayla dan mencekal tangannya lembut.


"Ya terus kenapa kamu suruh aku lanjutin lanjutin aja. Kamu gak ada niat mempertahankan gitu?" Nayla mendelik kesal.


"Aku cuma sedikit insecure aja, Nay. Secara Reyhan mantan kamu selama lima tahun," Aditya berkata dengan sedih.


"Insecure itu ketidak percayaan diri dan ketidak bersyukuran yang dibungkus dengan kata insecure," sinis Nayla.


"Udah ah jangan ngambek!" Aditya mencubit pipi Nayla.


"Jadi kamu sama ibu gak nerima lamaran mereka kan?" Aditya memastikan.


"Dit, kamu kebanyakan ngehalu deh! Mereka datang buat minta maaf, bukan buat melamar," Nayla melipat tangannya di dada. Masih kesal dengan Aditya.


"Kalau yang lamar aku mau?" Aditya tersenyum.


"Gak. Gak mau dilamar sama cowo yang gampang nyerah gitu," Nayla masih saja sewot.


"Hmmm, kalau ngambek makin cantik!" Aditya mengacak-acak rambut Nayla gemas.


"Apaan sih, Dit?" Nayla membereskan rambutnya.


"Aku serius. Aku datang ke sini buat lamar kamu. Bukan gitu, Ma?" Teriak Aditya kepada seseorang yang tak lain adalah Nia. Nia memang diam di dalam mobil dan belum turun.


"Bener dong," Nia keluar dari dalam mobil.


"Ibu?" Sapa Nayla saat melihat majikannya datang.


"Aku sama mama datang ke sini buat minta kamu jadi istri aku. Kamu mau?" Aditya langsung to the point.


"Gak romantis ah! Ngelamar di bawah pohon mangga gini! Gimana kalau aku kesambet?" Nayla mengerucutkan bibirnya membuat Aditya dan Nia tertawa.


"Pokoknya aku datang buat lamar kamu hari ini! Ayo, Ma!" Ajak Aditya kepada sang ibu.


"Kalau aku gak mau?" Nayla mendelik.


"Ya pokoknya aku paksa," Aditya dan Nia berjalan masuk ke dalam rumah Nayla. Tidak peduli di sana ada Rika dan keluarga.


Saat Nia dan Aditya masuk, Rika dan keluarganya langsung berpamitan. Mereka tentu tahu maksud kedatangan Aditya dan ibunya. Pilu sekali yang Rika dan yang lain rasakan. Berharap Reyhan akan kembali pada Nayla. Tapi itu hanya angan-angan belaka karena nyatanya gadis yang dulu mereka hina kini akan dipersunting oleh seseorang yang tulus memberikan seluruh hatinya.


Rika dan keluarga memandang rumah Nayla dengan kecewa. Andai saja dulu mereka mengizinkan Reyhan dan Nayla pasti kini putra mereka sudah bahagia. Sementara di dalam rumah, Nayla menerima pinangan Adit dengan malu-malu. Mereka mulai menyiapkan tanggal untuk hari pertunangan dan juga pernikahan. Di tempat lain, Reyhan kini sedang ada di bandara, ia hendak pergi ke Belgia untuk menghibur diri dan melakukan healing untuk hatinya. Reyhan menatap pemandangan bandara Soetta dari jendela pesawat.


"Ini belum berakhir, Nay. Aku akan tetap memperjuangkan kamu sampai penghabisan," gumamnya.

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2