
"Yang bener kamu ngomong, Win?" Rika memelototkan matanya. Merasa syok mendengar pernyataan dari putrinya.
"Bener lah. Emang kapan aku bohongin mama" Winie berkata dengan wajahnya yang serius.
"Jangan dengerin bocah ingusan ini, Rik! Dia cuma mau memperkeruh suasana!" Anita berkata dengan cemas.
"Iya. Dia cuma mau manasin keadaan aja!" Luna mendukung. Ia mulai mengubah ekspresi wajahnya.
"Mana ada maling ngaku, Ma! Lagian kan mama tau selama ini aku dukung kak Rey sama nih cewe. Bukannya kak Rey dulu udah ngomong ya kalau ini cewe gak suci? Kitanya aja dulu gak percaya!" Winie menjawab dengan ringan.
"Hati-hati ya kamu, Win! Kami bisa laporin kamu dengan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik!" Anita menunjuk-nunjuk ke arah putri besannya.
"Kamu ada bukti, Win?" Rika mulai goyah. Walaupun ia tahu putrinya bukan orang yang sering membohonginya, tapi setidaknya Rika perlu bukti untuk mempercayai kebenaran yang Winie katakan.
"Gini deh, aku telfon deh temen aku si Yuni. Biar dia bawa kakaknya ke sini!" Winie tersenyum sinis. Apalagi kini ia melihat wajah Anita dan Luna seperti tidak teraliri darah sama sekali.
"Ya udah kamu telfon aja!" Rika setuju. Ia memijat keningnya yang mulai berdenyut.
"Rik, kamu ngapain sih mau bawa-bawa orang ke urusan rumah tangga anak-anak kita?" Protes Anita.
"Iya. Ngapain sih, Ma?" Luna ikut bersuara.
"Setidaknya aku ingin membuktikan apa yang dikatakan anakku benar atau tidak. Jika iya, tunggu apa yang akan aku lakukan pada kalian, terutama kamu, Lun!" Suara Rika mulai terdengar mencekam.
"Apaan sih, Ma? Kok mama jadi gini?" Luna menangis kembali. Air matanya mulai menitik membasahi pipinya.
Sementara Winie mengambil ponselnya. Ia menelfon Yuni, yang tak lain adalah sahabatnya sekaligus adik dari Reza, mantan kekasih Luna.
__ADS_1
"Yun? Katanya kamu mau ke rumah aku buat belajar bareng?" Ucap Winie saat Yuni mengangkat telfonnya.
"Iya, Win. Aku bentar lagi otw ya?" Terdengar suara serak basah milik Yuni di sebrang telfon.
"Oh iya, bisa bawa kakak kamu gak? Kak Reza?" Winie berkata sambil melihat ke arah Luna dan Anita. Wajah mereka terlihat pucat pasi.
"Kak Reza maksudnya? Ngapain? Kamu naksir ya, Yun? Kita bakal jadi sodaraan dong, Haha," Yuni terkekeh.
"Ya bukan. Ini ada mantan pacar kakak kamu si rumah aku. Aku pengen dia jelasin ke mama aku Yun tentang ab*rsi yang pernah kakak kamu lakuin sama mantannya. Kasian nih mama aku di tipu terus-terusan!" Sindir Winie telak.
"Kurang ajar anak ini!" Anita hendak berdiri dari duduknya.
"Udah, Ma!" Luna menarik tangan ibunya. Ia kini tertunduk dengan dalam. Merasa semuanya harus terbongkar hari ini juga. Luna sudah pasrah.
"Kayanya gak bisa deh, Win. Kak Rezanya lagi di luar," tolak Yuni.
"Yah, gimana dong?" Winie tampak kecewa.
"Temennya bohong kali, Ma. Makanya dia gak mau bawa kakaknya. Pasti temen kamu ini mau nipu kamu, Win!" Luna memanas-manasi. Rika mulai ragu dengan apa yang dibicarakan oleh Yuni.
"Siapa itu yang ngomong aku mau nipu?" Yuni yang di sebrang telfon mendengar jelas apa yang Luna katakan.
"Ya, kamu lah anak ingusan! Jangan ngedongeng hal yang gak ada!" Anita berteriak.
"Kurang ajar Win kakak ipar kamu! Aku ke sana sekarang bawa bukti, Win!" Yuni tidak terima. Kemudian ia memutus sambungan telfonnya.
Winie kemudian menyimpan ponselnya di saku celana. Wajahnya tidak gentar. Ia amat mengenal Yuni. Temannya itu tidak mungkin berbohong padanya.
__ADS_1
"Mama ambil dulu air!" Rika yang semakin migrain langsung berdiri dan berjalan ke dapur.
"Bukti apa yang anak ingus itu punya?" Anita berbisik ke arah Luna.
"Palingan omong kosong, Ma. Setauku gak ada bukti apapun tentang itu," Luna tersenyum penuh kemenangan.
"Gak usah bisik-bisik!" Ketus Winie.
Tak lama Rika kembali sambil membawa air mineral. Ia meneguknya sampai air itu tak tersisa di gelasnya.
"Rik, kalau anak kamu ngarang, tolong kasih dia pelajaran yang keras! Omongan dia bisa bikin keluarga kita ancur!" Anita menatap nyalang ke arah Winie yang masih berdiri di depan mereka sembari melipat tangannya di dada.
"Tenang aja. Nanti kalau omongan adik Rey gak bener, aku kirim dia ke Amerika," Rika menoleh ke arah Winie. Winie pun tampak tidak suka mendengar ucapan ibunya.
Lama menunggu. Akhirnya orang yang dinantikan oleh mereka pun tiba. Winie datang dengan membawa bukti yang sudah ia sebutkan.
"Jadi, kamu ke sini datang dengan omong kosong kamu?" Tanya Anita dengan menatap Yuni penuh intimidasi. Saat ini gadis itu sudah duduk di tengah tengah mereka.
"Palingan dia cuma caper, Ma," sinis Luna.
"Bukti apa yang kamu punya, Yun?" Rika memandang ke arah Yuni, teman Winie yang sudah sering datang ke rumahnya.
"Jangan kecewain aku ya, Yun!" Winie berharap pada temannya.
Yuni membuka tasnya. Ia mengeluarkan secarik kertas dari tas selempangnya yang berwarna cokelat itu.
"Ini hasil USG kak Luna dulu. Mereka sempat meng USG anaknya saat mau mastiin hamil atau engga. Ada nama kak Luna kok di situ. Jelas dari rumah sakit ternama," Yuni menyimpan hasil USG di atas meja. Anita dan Luna pun memelototkan matanya karena terkejut melihat bukti yang Yuni bawa.
__ADS_1