Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Bekerja Kembali


__ADS_3

Keesokan harinya, Adit dan Nayla sudah mulai membuka kembali cafenya. Nayla tampak bersemangat dan memberikan Aditya saran untuk menambah beberapa menu. Aditya pun setuju dan akan mulai menyediakan bahan-bahan menu yang Nayla sarankan.


"Pelanggan kita makin banyak aja ya, Nay?" Aditya mendudukan dirinya di samping Nayla. Ia baru saja mengantarkan makanan ke beberapa abang go food yang mengantri.


"Iya. Kamu pasti kecapean, Dit?" Nayla memperhatikan wajah Aditya yang penuh dengan keringat.


"Lumayan, Nay. Kamu juga pasti cape ya?" Aditya menoleh dan mengusap keringat yang membasahi anak rambut Nayla.


"Namanya kerja ya gak ada yang gak cape," Nayla tertawa mendengar ucapan bosnya itu.


"Iya juga ya. Buat dapat uang harus kerja keras," timpal Aditya. Ia mengambil botol mineral dan meneguknya beberapa tegukan.


"Dit, kamu mau nambah karyawan lagi gak sih?"


"Iya. Aku juga mulai mikirin itu. Kita open lowongan kerja aja, Nay. Kita butuh beberapa orang. Selama ini, aku atau kamu juga kan yang handle kasir? Kita cari buat beberapa posisi," jawab Aditya yang membuat Nayla senang.


Jujur saja Nayla merasa kewalahan jika harus terus berdua menghandle cafe. Walaupun bayaran yang Aditya berikan cukup banyak, tapi dirinya bukanlah robot. Belum lagi pekerjaan utamanya di galeri sudah cukup menguras tenaga.


"Tapi nanti kita gak bisa berdua lagi gini ya, Nay?" Aditya menggenggam tangan Nayla. Nayla pun terlihat salah tingkah, tapi dengan cepat dia mengubah ekspresi wajahnya.


"Ya ga apa-apa. Nanti malah rame-rame di sini," Nayla tersenyum kikuk.


"Nay, sebenarnya aku mau ngomong," Aditya memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. Menurutnya ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. Aditya tidak mau orang lain mencuri start untuk memiliki Nayla, terlebih itu Reyhan.


"Ngomong apa, Dit?" Mata Nayla menyorotkan keteduhan hingga Aditya selalu nyaman menatap mata itu.


"Aku ingin ngomong kalau aku-"

__ADS_1


"Dit, ada pelanggan," Nayla memotong ketika mendengar suara beberapa orang di depan.


"Ayo kita layani mereka dulu, Dit!" Ajak Nayla. Adit pun mengangguk


"Lagian kenapa aku mau nembak Nayla di dapur kaya gini? Gak banget kamu Adit!" Maki Adit dalam hatinya. Aditya pun merencanakan akan mengungkapkan isi hatinya segera kepada Nayla. Tentunya dengan kondisi yang jauh lebih romantis.


Aditya dan Nayla berjalan ke beranda cafe. Aditya menghembuskan nafasnya berat saat melihat pelanggan yang hendak memesan makanan. Nayla pun ikut memperlihatkan ekspresi jengahnya saat melihat pelanggan itu kembali ke cafenya.


"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Aditya dengan dingin saat melihat Winie datang bersama teman-temannya. Aditya selalu ingat dengan adik Reyhan yang selalu saja menghina Nayla dan keluarganya.


"Ya ampun ini cafe gak ramah banget ya!" Sindir Winie dengan sinis. Ia datang bersama teman-temannya. Entah punya niat apa gadis itu.


"Kita pergi aja yu Win, ke cafe yang lebih ramah?" Sindir temannya yang bernama Yuni.


"Iya sana pergi aja ke tempat lain!" Aditya menggerak-gerakan tangannya untuk mengusir Winie.


"Dit, jangan kaya gitu! Pelanggan lain lihat," Nayla menyikut tangan Aditya pelan saat pelanggan lain menatap ke arah mereka.


"Tapi, Nay-" Aditya tampak sangat berat menerima mereka. Ia mengejar langkah Nayla.


"Kita harus profesional ya?" Bisik Nayla. Aditya pun tampak mengalah karena tidak ingin pelanggan melihat mereka beradu argumen.


Winie dan ketiga temannya mengikuti langkah Nayla. Kemudian mereka duduk di kursi yang Nayla pilih. Nayla memberikan buku menu dan Winie segera menulis pesanan untuk dirinya dan untuk teman-temannya.


"Silahkan tunggu hidangan dari kami! Pesanan akan datang sekitar 15 menit lagi," Nayla berucap dengan ramah kemudian ia berlalu di hadapan adik dari mantan kekasihnya itu. Tentunya dengan diikuti oleh Aditya.


Sementara Winie hanya memutar bola matanya dengan malas. Sungguh Winie sangat enggan untuk melihat wajah Nayla lagi. Akan tetapi, ia datang dengan sebuah misi yang diberikan oleh Rika, Ibunya. Dan bukan Winie namanya jika ia tidak bisa menyelesaikan misi itu.

__ADS_1


"Jadi, Aa yang ganteng tadi pemilik cafe ini?" Tanya Ratna, teman dari Winie.


"Iya, dia pemilik perusahaan dan Wedding Organizer juga," beri tahu Winie.


"Tajir banget dong, Win?" Timpal temannya yang lain yang bernama Ami.


"Aku juga pengen kalau gitu," Yuni tertawa.


"Gak boleh. Dia incaran aku," Winie menatap tajam Winie.


"Ya kan baru crush. Belum jadian," Yuni menjawab dengan santai.


"Kayanya AA ganteng itu punya hati deh ke si teteh pelayan barusan," Ratna mengomentari.


"Katanya sih pacaran tuh mereka," Winie menjawab dengan ringan.


"Jadi, mau ngerebut pacar teteh pelayan kamu, Win?" Hina Ami sambil tertawa tawa.


"Pelayan bukan sembarang pelayan. Pelayannya S1 sama mantan pelakor," Winie tertawa mengerikan.


"Emang bener tuh cewe yang ngerebut kakak kamu dari istrinya? Gak yakin deh, secara sama kakak kamu masih cakepan pacarnya yang ini," Yuni meragukan cerita dari temannya.


"Ya masa aku bohong sama kalian. Dia malah udah tidur sama kakak aku sampai lupa tuh sama istrinya," Winie memfitnah Nayla.


"Duh serem ah, mukanya padahal alim gitu. Kirain cupu eh taunya suhu," sambar Yuni.


"Pokonya aku bakal rebut tuh pacarnya biar dia rasain gimana miliknya di rebut cewe lain. Biar nyaho tuh pelakor!" Sungut Winie dengan kesal.

__ADS_1


"Gak yakin tuh AA ganteng mau sama kamu, Win. Dia kaya kesel banget sama kamu," Ami memberikan analisa.


"Halah, pokoknya kalian lihat aja nanti!" Winie menatap Ami dengan tajam. Merasa tidak terima jika dirinya dihina seperti itu.


__ADS_2