
Nayla heran karena waktu menunjukan pukul tiga sore, tapi Nia sudah menyuruh semua karyawan galeri untuk berkemas dan pulang. Nayla ingin bertanya, tapi tidak memberanikan diri. Mungkin Nia memiliki urusan yang amat mendesak. Begitu pikir Nayla.
Nayla memakai sweater rajutnya, ia mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang. Saat akan menuju pintu, Adam menyikut pelan tangannya.
"Makasih ya, Nay? Berkat kamu kita pulang lebih cepet!" Ucap Adam sambil tersenyum senang.
"Berkat aku? Maksudnya, Mas?" Nayla tampak tidak mengerti.
"Pokoknya selamat menikmati hari ini ya, Nay? Aku pulang duluan!" Adam setengah berlari dan keluar dari pintu.
Nayla mengernyitkan dahinya dengan bingung. Nayla berpamitan kepada Nia dan keluar dari galeri mewah itu. Saat Nayla mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online, tiba-tiba mobil Aditya berhenti tepat di depannya.
"Ayo gadis hujan! Naik!' Aditya membuka kaca mobilnya.
"Naik? Naik ke mana?" Nayla tampak bingung.
"Ke atas langit. Ya ke mobil lah, Nay. Katanya kamu mau bayar hutang?" Aditya mengingatkan.
"Ke-kencan maksudnya?" Pipi Nayla bersemu merah kala teringat bayaran yang harus ia bayar untuk melunasi hutangnya kepada Adit.
"Siapa juga yang ngajakin kamu kencan? Kepedean! Ehm," Aditya berpura-pura berdehem. Padahal ia amat salah tingkah di depan gadis yang selalu ada di pikirannya akhir-akhir ini.
"Kalau gitu, aku pulang deh," entah mengapa hati Nayla menceos.
"Tunggu! Katanya mau bayar hutang?" Aditya keluar dari dalam mobilnya dan berdiri di samping Nayla.
"Kata kamu aku kepedean?" Nayla mencebikan bibirnya dan hal itu membuat Aditya gemas dengan tingkahnya.
"Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, Nay. Mau?" Aditya mengesampingkan egonya.
"Katanya jam delapan malam?" Nayla mengingatkan. Padahal sejatinya Nayla belum siap jika pergi saat ini bersama Adit. Penampilannya seakan sangat tidak mendukung.
"Aku mau ngajakin kamu ke Orchid Forest. Kalau kita berangkatnya jam delapan malam, tempatnya udah tutup. Orchid forest tutupnya pukul tujuh malam," Aditya mengemukakan alasannya mengajak Nayla pergi di jam sore seperti ini.
"Orchid Forest?" Mata Nayla berbinar ketika mendengar tempat wisata yang ingin sekali ia kunjungi.
"Iya. Kamu mau?" Aditya tersenyum.
"Mau banget. Ayo kita pergi, Dit!" Nayla tampak tidak sabar. Refleks ia menggenggam tangan Aditya. Aditya pun memandangi tangannya yang digenggam oleh Nayla.
"Maaf, Dit!" Nayla buru-buru melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Aditya.
__ADS_1
"Maaf aku terlalu excited!" Nayla semakin tidak enak hati.
"Gak apa-apa, Nay. Tangan kamu kotor gak?" Adit menyentuh telapak tangan Nayla dan melihatnya.
"Engga, kan tangan kamu bersih," Nayla berkata dengan bingung.
"Ya, takut aja tangan kamu kotor soalnya tangan aku kaya dipenuhi sarang laba laba. Maklum udah lama gak ada yang ngegandeng," canda Aditya tapi dengan wajah datarnya.
"Kamu lagi ngelucu, Dit? Kok garing sih?" Nayla tertawa terbahak.
"Gak lucu ya?" Aditya menatap wajah Nayla yang sedang tertawa renyah.
"Iya. Gak lucu banget," Nayla masih saja tertawa.
"Gak lucu tapi kamunya ketawa, Nay!" Cebik Aditya.
"Habisnya kamu bercanda tapi muka kamu flat banget," Nayla menghapus air mata di sudut matanya karena puas tertawa.
"Ya udah, jadi berangkat gak nih?" Adit memastikan.
"Jadi, ayo!" Nayla pun masuk ke dalam mobil Aditya setelah Aditya membukakan pintu untuknya.
Mereka pun berangkat menuju Orchid Forest yang berada di kawasan Lembang, Bandung.
"Oke, Nay," Aditya menurunkan kaca mobilnya. Nayla segera memperhatikan pemandangan Lembang yang begitu hijau, sejuk, dan memanjakan matanya. Sepoi ngin sore membuat rambut Nayla sedikit berantakan, tapi tidak mengurangi kecantikan gadis itu.
"Dit, dari dulu aku pengen banget tinggal di daerah Lembang, Ciwidey atau Pangalengan. Pasti tiap jam udaranya dingin kaya gini," Nayla berkata sambil terus memperhatikan kebun teh yang ia lewati.
"Kalau gitu kita bisa tinggal di sana setelah nikah," gumam Aditya.
"Hah? Kamu ngomong apa, Dit?" Nayla menoleh ke arah Aditya.
"Emang kamu kuat gitu? Tiap hari nanti kamu mandi kaya pake air es," Aditya buru-buru mengelak.
"Ya kuat lah. Tiap hari aku bisa metik teh. Sepedahan dan nikmatin alam kaya gini," Nayla menjawab.
"Apa tadi aku salah denger ya? Kok aku kaya denger Adit bilang kita nikah? Ah mikirin apa kamu, Nayla? Mana mungkin Adit bilang kaya gitu," batin Nayla.
*****
Pukul empat sore mereka sampai di Orchid Forest Lembang. Setelah membayar tiket masuk, kedua orang yang sudah mulai menyukai satu sama lain itu pun masuk ke dalam wahana wisata taman anggrek terbesar di Indonesia itu.
__ADS_1
"Masya Allah. Indahnya!" Nayla tampak terpukau saat melihat berbagai jenis anggrek.
"Di sini diperkirakan ada 157 Anggrek dari berbagai dunia, Nay. Di sebelah sana ada Anggrek dari Peru, Venezuela. Bagus banget, kamu harus lihat!" Aditya menunjuk dan melangkahkan kakinya ke anggrek yang ia maksud.
"Ya ampun, Dit! Bagus banget anggreknya!" Nayla tersenyum senang dan berjongkok di hadapan bunga-bunga indah itu.
"Apa di sini ada anggrek langka dari Kalimantan?" Nayla berdiri setelah memperhatikan anggrek-anggrek dari Venezuela.
"Maksud kamu anggrek ekor tikus?" Aditya memperjelas.
"Iya. Kok kamu tahu banget sih, Dit?" Nayla tampak takjub.
"Ya mama kan penyuka tanaman, Nay. Aku udah sering ke sini bareng mama," jawab Aditya dengan simpul.
"Ayo kita ke Wood Bridge?" Ajak Aditya.
Wood Bridge adalah jembatan yang terbuat dari kayu dan tali sepanjang 50 meter. Jembatan itu akan sangat indah jika hari sudah gelap, karena lampu-lampu di sana akan dinyalakan.
"Udah lama aku pengen ke sini, Dit. Baru kesampaian sekarang," ucap Nayla saat mereka berada di atas jembatan.
"Kamu harus lebih sering healing ya, Nay? Biar gak mumet," Aditya membelai rambut Nayla lembut. Hati Nayla pun berdesir karena perlakuan lembut dari Aditya. Rasanya Nayla ingin menghentikan waktu. Entah mengapa, berada di dekat Aditya membuat hatinya tenang dan nyaman.
"Oh iya Dit, cafe kita malam ini gimana?" Nayla baru teringat dengan cafe milik Aditya.
"Malam ini kita tutup dulu, Nay. Aku cape nganterin makanan ke pelanggan. Mau healing dulu lah," Aditya tertawa.
"Makanya rekrut pegawai baru, Dit biar kamu bisa healing tanpa tutup toko," Nayla berkata sambil terus berjalan. Langkah gadis itu terlihat tidak seimbang, Nayla hampir terjatuh tetapi Aditya dengan sigap menangkap tubuhnya.
"Kamu gak apa-apa, Nay?" Aditya memastikan.
"Gak, Dit," Nayla dengan cepat menyingkirkan tangan Aditya dari pinggangnya dengan lembut. Nayla takut Aditya mendengar detak jantungnya yang kini semakin keras berdetak.
Orchid Forest Cikole, Lembang
Wood Bridge
Sumber foto : Ig: OrchidforestCikole
__ADS_1
Otor pernah dua kali ke tempat ini, tapi hasil fotonya burik burik. Jad**i credit aja dari ig nga ya gays**.