Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

Reyhan melepas dasinya dan melemparnya dengan asal. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya memejam mengingat pertemuannya dengan mantan kekasih yang msih di cintainya. Perasaan bersalah muncul di hati Reyhan. Perasaan bersalah itu menyelinap kala Reyhan melihat raut wajah syok dan sedih Nayla saat dirinya mengatakan meminta uangnya kembali. Namun, Reyhan harus mengesampingkan rasa kasihannya agar Nayla bisa kembali padanya lagi.


Sebuah tangan melingkar di da-da kekar Reyhan. Pria itu memutarkan badan dan ternyata Luna sedang memeluknya sembari menangis.


"Aku rindu kamu, Rey!" Isak Luna terdengar sangat menyedihkan.


Ya, memang akhir-akhir ini Reyhan jarang pulang. Jika pekerjaannya menumpuk, Reyhan akan tidur di kosan teman laki-laki yang sangat akrab dengannya semasa SMA. Jika waktu senggang, Reyhan akan tidur di villa pribadi milik keluarganya. Hal itu Reyhan lakukan karena dirinya malas untuk bertemu dengan istrinya.


Namun, hari ini Reyhan pulang ke rumah yang ditempatinya bersama Luna. Tujuan kepulangannya adalah untuk membawa beberapa potong baju untuk dibawa ke villa miliknya.


"Jangan kaya gini, Lun!" Reyhan melepaskan pelukan Luna dengan kasar. Ia segera bangun dari posisi tidurannya dan berjalan meninggalkan kamar.


Reyhan menuruni tangga, Luna mengejarnya dengan setengah berlari karena langkah Reyhan yang lebar-lebar.


"Reyhan, tunggu!" Luna menarik tangan Reyhan, namun Reyhan masih tak bergeming.


"Apa kamu gak ada niat Rey untuk memperbaiki hubungan kita? Aku pengen kaya suami istri lain yang bahagia, Rey. Saling mencintai dan mempunyai banyak anak! Aku sudah jatuh cinta sama kamu. Apa kamu gak bisa mencintai aku balik?" Air mata menitik membasahi pipi Luna yang mulus.


"Demi kamu, aku mau berubah. Aku akan jadi istri yang baik buat kamu, Rey. Asal kamu mau buka hati kamu buat aku," lanjutnya lagi dengan suara bergetar


"Maaf aku gak bisa!" Jawab Reyhan cepat, ia membuang tatapannya. Tentunya ia tidak ingin terpengaruh oleh air mata Luna. Tidak, Reyhan tidak ingin terjebak lagi dengan pernikahan yang tidak bahagia. Reyhan ingin mencari kebahagiaan sendiri dan tentunya bukan dengan Luna.

__ADS_1


"Apa semuanya gara-gara Nayla?" Sorot mata Luna menampilkan kebencian yang sangat mendalam.


"Tanpa aku jawab kamu sudah tahu jawabannya. Aku tekankan tolong jangan salahkan Nayla! Ini semuanya salahku, bukan salah Nayla!!" Reyhan menatap Luna.


"Tapi gara-gara Nayla kamu giniin aku, Rey. Seandainya gak ada Nayla, mungkin hubungan kita bisa membaik."


Reyhan mendekati Luna dan mendorongnya pelan ke dinding. Ia kemudian mengunci tubuh Luna dengan kedua tangannya. Tatapannya menatap Luna dengan dalam. Pemuda itu menyempilkan rambut Luna ke belakang telinga, lalu berbisik "Ada atau tidak ada Nayla, aku gak bisa buka hati aku untuk wanita seperti kamu, Lun! Wanita sepertimu jelas bukan seleraku" Reyhan tersenyum sinis. Lalu ia pergi meninggalkan Luna dengan hati yang terluka.


****


Saat tahu jika Nayla bekerja di Kafe Aditya, Nia sangat senang. Bahkan Nia memulangkan Nayla sejam lebih awal, karena ia tidak ingin Nayla terlalu kelelahan. Apabila hari Minggu atau hari di mana Nayla merias pengantin, gadis itu boleh langsung pulang jika pekerjaannya telah selesai, dan Nayla pun tidak wajib ke galeri terlebih dahulu. Tidak ada yang iri kepada Nayla, karena semuanya sudah tahu bagaimana kerasnya Nayla mencari uang.


Sementara Kafe yang dikelola Aditya mengalami kemajuan yang sangat pesat. Bahkan menu yang ada di kafe milik Aditya beberapa kali di review oleh vlogger makanan yang membuat nama kafe milik Aditya semakin terkenal. Sudah sebulan Nayla bekerja bersama Aditya, namun yang membuat Nayla heran adalah tidak ada karyawan lain selain dirinya. Alasan Adit hanya ingin berhati-hati menerima pegawai. Entahlah, Nayla juga tidak mengerti kriteria karyawan seperti apa yang diinginkan Aditya.


"Biar aku aja, Nay. Kamu duduk! Kamu pasti capek," Adit menuntun Nayla dan memaksanya untuk duduk di sebuah kursi yang ada di dapur.


"Nggak apa-apa, Dit. Itu udah tugas aku," Nayla menyeka keringat yang membasahi anak rambutnya.


Adit mengambil tisu dan membantu menyeka keringat di dahi Nayla.


"Dit? " Nayla langsung melongos dan membuang wajahnya.

__ADS_1


"Maaf, Nay!" Aditya merasa bersalah karena sudah lancang menyentuh wajah Nayla.


"Oh ya hari ini kamu gajihan. Ambillah! Hitung dulu takutnya ada kekurangan!" Aditya menyerahkan sebuah amplop untuk Nayla.


Nayla tersenyum senang, ia segera mengambil amplop itu dan menghitungnya. Nayla mengernyitkan dahinya, karena uang itu dinilai cukup banyak untuk ukuran gaji kafe tongkrongan anak muda.


"Dit, kok banyak banget?" Tanya Nayla dengan ekspresi kaget.


"Itu bonus untukmu, Nay. Memperkerjakan kamu, sama aja aku memperkerjakan tiga orang. Kamu cekatan dan rajin. Dan kafe ini juga semakin rame berkat masakan kamu yang enak. Makasih udah bekerja sama ya, Nay?" Ucap Aditya dengan tulus.


"Makasih ya, Dit?" Nayla tersenyum terharu, bagaimana tidak, gajinya setara dengan bekerja di galeri Nia.


"Aku yang terima kasih. Yuk, aku antar kamu pulang!"


"Aku naik angkot aja, Dit. Gak enak pegawai diantar bos," Nayla tertawa renyah.


"Apaan sih Nay, gak apa-apa ini udah malam. Malam Minggu lagi. Yuk, aku Anter!"


Nayla mengangguk. Mereka berjalan beriringan. Saat mereka akan menutup gerbang, mereka melihat anak muda yang baru turun dari mobil.


"Loh kok tutup?" Gerutu salah satu dari mereka.

__ADS_1


Nayla memperhatikan mereka dan seketika terkejut menatap wajah yang tidak asing baginya.


"Winnie?" Gumam Nayla nyaris tak terdengar


__ADS_2