Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Nanda


__ADS_3

Setelah semua yang yelah terjadi, Reyhan semakin membenci Luna. Reyhan bertekad untuk membuat wanita itu tidak nyaman berada di sisinya. Bila perlu, Reyhan ingin membuat Luna menderita. Menurut Reyhan, hubungannya dengan Nayla semakin buruk adalah karena Luna.


Reyhan membayar seorang teman wanitanya. Wanita itu bernama Nanda. Reyhan membayar Nanda untuk datang ke rumahnya. Reyhan ingin membuat Luna menyadari jika dirinya tidaklah berarti apapun untuk Reyhan. Reyhan merangkul Nanda masuk ke dalam rumahnya yang ia tempati bersama Luna. Mereka masuk ke rumah disertai tawaan dari bibir masing-masing. Reyhan dan Nanda seolah olah sedang asik berbincang.


"Rey, dia siapa?" Luna yang melihat kedatangan mereka menatap dengan tajam.


"Sayang, dia siapa?" Nanda berpura-pura bertanya.


"Dia? Dia cuma asisten rumah tanggaku kok," Reyhan tersenyum sinis menatap Luna.


"Rey, jangan keterlaluan ya! Aku istri kamu! Dan kamu? Siapa kamu? Aku Luna, istrinya Reyhan!" Luna menatap dengan geram.


"Aku Nanda. Pacarnya Reyhan!" Nanda tersenyum manis.


Tentu saja Nanda mengetahui jika wanita yang ada di hadapannya ini adalah istri dari Reyhan. Tapi Nanda tidak peduli Luna sakit hati atau tidak. Toh dia dibayar untuk membuat wanita yang ada di hadapannya menderita. Satu hal yang pasti untuk Nanda adalah Reyhan membayarnya dengan mahal.


"Pacar? Hey, wanita murahan!" Luna dengan cepat menjambak rambut Nanda dengan beringas.


"Aww!" Nanda mengaduh ketika Luna semakin menarik rambutnya.


"Lun, lepasin Nanda!" Reyhan menggapai tangan Luna. Berusaha untuk melepaskan jambakan Luna.

__ADS_1


"Aku gak bakal biarin seseorang masuk ke dalam rumah tangga kita! Aku sudah mengenyahkan Nayla dan aku tidak akan kalah dengan siapapun!" Luna berteriak.


"Lepasin!!" Reyhan menarik tangan Luna dengan kasar hingga tangan istri yang tidak dicintainya itu terlepas dari kepala Nanda.


"Siapa kamu, hah? Jika bukan karena mama, selamanya aku gak bakal nikahin wanita kaya kamu!" Reyhan tersenyum sinis.


"Kalian pasti bersandiwara!" Luna masih menenangkan hatinya.


"Untuk apa aku bersandiwara? Aku sudah dibuang oleh Nayla. Jadi, lebih baik aku mencari wanita sebagai pelipur lara," Reyhan membereskan rambut Nanda yang berantakan karena ulah dari Luna.


"Kamu gak apa-apa, Sayang?" Reyhan berkata dengan lembut.


"Gak apa-apa kok," Nanda balas berkata lembut. Sungguh Nanda kini tahu mengapa Reyhan tidak bahagia bersama pernikahannya.


"Aduin aja Lun! Aku udah gak peduli!" Reyhan balik menantang.


"Sini kamu wanita j*lang!" Luna menarik tangan Nanda. Kali ini Luna menarik Nanda menuju ke luar rumahnya.


Sesampainya di teras, Luna segera mendorong tubuh Nanda hingha gadis itu terjerembab di atas tanah.


"Aww!" Pekik Nanda.

__ADS_1


"Lun!!" Teriak Reyhan dengan murka.


"Sekali lagi kamu kasarin Nanda, aku gak bakal segan buat kasar sama kamu! Aku bisa nampar kamu saat ini juga, Lun!" Reyhan mengancam.


"Tampar? Tampar aja aku Rey! Tampar aku dari pada kamu bawa wanita murahan ini masuk ke dalam rumah kita!" Luna mendekatkan pipinya.


Tangan Reyhan terangkat ke udara, bersiap untuk menampar Luna. Akan tetapi, Reyhan kembali menarik tangannya. Reyhan mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh berhadapan dengan wanita licik macam Luna membuat dirinya hilang kendali. Hampir saja ia benar-benar menampar Luna. Akan tetapi, Reyhan bukanlah pria pengecut.


"Jangan pernah bawa wanita ini lagi ke rumah kita! Atau aku akan membun*uhnya dengan tanganku!" Ancam Luna kemudian ia masuk ke dalam rumah.


"Kamu gak apa-apa, Nan?" Reyhan membantu Nanda bangun. Sungguh ia tidak enak hati mendapati Nanda harus mendapatkan luka fisik akibat dari Luna.


"Tidak. Aku malah jadi semakin bersemangat membuat dia menderita!" Nanda tersenyum.


"Maaf ya kamu jadi terlibat!" Reyhan melihat tangan Nanda yang sedikit terluka.


"Tidak apa-apa," Nanda membersihkan tangannya yang sedikit kotor.


"Kalau gitu hari ini sudah cukup. Kamu bisa pulang!" Reyhan memberikan instruksi.


"Baiklah," Nanda kemudian berpamitan dan pergi dari kediaman Reyhan.

__ADS_1


"Mengapa aku lupa? Aku belum menagih lagi uang yang aku keluarkan untuk Nayla! Besok aku akan datang kembali. Nay, seberapa keras kamu menolak, kamu pasti akan kembali padaku!" Reyhan tersenyum penuh tipu daya.


__ADS_2