
Hari kamis tiba. Nia dan Aditya mengajak para karyawan wedding organizer untuk berlibur ke kawasan Ciwidey, Bandung. Tentu saja semua karyawan begitu senang karena hari kerja mereka digantikan dengan liburan. Nia pun memberikan pengumuman jika dirinya tetap membayar ketika para karyawan berlibur.
"Aduh aku udah lama gak liburan ke kawasan Ciwidey!" Adam berkata dengan antusias.
"Semoga liburan kali ini menyenangkan ya, Mas?" Nayla tersenyum melihat kegembiraan di raut wajah teman-temannya.
Nia menyewa mobil travel untuk membawa para karyawan wedding organizernya. Ia pun turut naik ke mobil travel itu dan tidak menggunakan mobil pribadi. Satu persatu karyawan masuk ke dalam mobil travel. Saat Nayla akan masuk, tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang.
"Dit?" Seru Nayla saat mengetahui jika yang mencekal tangannya adalah Aditya.
"Nay, kamu ikut ke mobil aku ya? Masa aku sendirian?" Aditya memasang wajah memelas di hadapan gadis itu.
Semua karyawan yang sudah masuk ke dalam mobil travel memandang ke arah mereka. Dalam hati, mereka berdoa semoga Nayla dan Aditya berjodoh. Tentunya tidak ada rasa iri di dalam hati mereka untuk Nayla. Terlebih semua karyawan tahu bagaimana usaha Nayla sebagai penyambung asa keluarganya.
"Kenapa gak naik mobil travel aja sih, Dit? Bareng-bareng sama yang lain?" Nayla merasa keheranan. Bahkan di hatinya sedikit ilfeel karena Aditya tidak mau bergabung dengan karyawan.
"Aku bawa barang banyak, Nay. Kalau aku naik mobil travel, nanti yang lain takutnya keganggu sama barang-barang aku yang banyak ini," Aditya memberikan alasan.
Nayla pun menghembuskan nafasnya lega. Tadinya ia berpikir jika Aditya tidak ingin satu mobil bersama para karyawan Nia. Syukurlah, citra Aditya tetap tidak ada cela di hadapan Nayla.
"Tapi, aku gak enak sama yang lain," Nayla bergumam.
"Udah Nay ikut aja sama yang lain!" Suruh Adam sambil tersenyum.
"Tuh Adam juga ngizinin!" Aditya tersenyum seolah berterima kasih kepada Adam.
"Iya kita juga izinin kok," seru para karyawan yang lain dengan serempak.
__ADS_1
"Udah Nay ikut Adit aja sana! Kalau dia ngantuk di jalan gara-gara gak ada temennya gimana?" Nia sang ibunda mendukung.
Nayla tampak berpikir. Kemudian ia pun menyetujui untuk naik ke mobil Aditya.
"Ya udah aku setuju kalau gitu," Nayla mengangguk.
Aditya pun segera mengambil tas ransel Nayla dan memasukannya ke dalam mobil.
"Ya ampun Pak Aditya excited banget! Jangan kebablasan ah di dalam mobil!" Goda Adam kepada bosnya itu.
"Gak akan," jawab Aditya dengan wajah ceria.
"Apaan sih, Mas?" Nayla tersenyum malu.
"Jadian bisa kali ah?" Goda teman kerja Nayla yang bernama Della.
"Apaan sih, Del!" Nayla semakin malu-malu. Aditya pun tampak semakin gemas dengan tingkah malu-malu dan salah tingkah Nayla.
"Dit, bawaan kamu banyak banget!" Ucap Nayla saat mereka berada dalam mobil.
"Ya kita kan mau piknik. Semua yang diperlukan harus dibawa dong?" Aditya tersenyum sembari menyetir.
"Dit, kemarin Luna datang ke galeri," beri tahu Nayla.
"Iya. Aku tahu."
"Kamu tahu dari mana?" Nayla menoleh.
__ADS_1
"Ya tahu aja. Pokonya setiap kegiatan kamu dan orang yang kamu temui aku tau," timpal Aditya santai.
"Ih kok serem sih, Dit? Jangan jangan kamu penguntit ya? Atau kamu paparazi?" Nayla menyipitkan alisnya.
"Bukanlah, Nay," Aditya tertawa.
"Terus dia mau apa datangin kamu?" Tanya Aditya walaupun sebenarnya dirinya sudah tahu apa alasan Luna datang ke galeri milik ibunya.
"Dia datang karena katanya dia dicerai oleh Reyhan," Nayla berkata dengan muram.
Bagaimana pun Luna pernah menjadi sahabatnya. Pun dengan Reyhan. Pria itu pernah mengisi hari-hari Nayla selama bertahun-tahun. Nayla cukup bersedih dengan apa yang menimpa keduanya. Padahal selama ini Nayla berharap jika Reyhan dapat menerima Luna dan belajar mencintainya. Tapi hati pria itu seolah membeku dan membatu. Cintanya tetap hanya tertuju kepada Nayla.
"Kamu senang, Nay?" Terdengar kerisauan di dalam suara Aditya.
"Senang? Aku malah sedih, Dit. Aku gak menyangka kehidupan rumah tangga mereka harus berakhir kaya gini," Nayla berkata dengan sendu.
"Ya gimana lagi, Nay. Sepertinya mantan kekasih kamu itu benar-benar tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain," Aditya menyimpulkan.
"Seandainya perilaku Luna seperti yang diharapkan Reyhan, pasti sedikit demi sedikit Reyhan akan nerima Luna," prediksi Nayla. Setidaknya Nayla sedikit banyaknya tahu bagaimana diri seorang Reyhan.
"Kalau mantan kamu itu keukeuh ngajak kamu balikan gimana?" Aditya bertanya ganjalan di hatinya.
"Ya aku gak mau lah. Aku udah gak ada rasa apapun sama dia," Nayla berujar dengan mantap.
"Beneran?" Aditya memastikan.
"Tentu aja, Dit. Setelah tahu dia di jodohkan dan mau nikah, aku udah kubur perasaan ini dalam-dalam," ucap Nayla yang membuat ganjalan di hati Aditya hilang seketika.
__ADS_1
"Pokonya hari ini, apapun caranya aku bakal bikin Nayla jadi pacar aku," batin Aditya.
Dirinya memang sudah membuat rencana untuk meminta Nayla menjadi kekasihnya di Situ Patenggang. Mereka akan naik perahu dan Adit akan mengutarakan isi hatinya di sana. Romantis bukan? Seperti itulah rencana yang telah Aditya susun.