
"Yah hujan!" Keluh Nayla saat ia hendak pulang dari tempatnya bekerja.
"Nay, belum pulang?" Tanya Nia yang melihat Nayla masih berteduh di depan galeri.
"Belum, Bu. Hujannya lumayan deras," Nayla sedikit mengencangkan suaranya karena hujan turun dengan sangat deras.
"Neduhnya di dalam yu, Nay!" Nia membimbing Nayla untuk masuk lagi ke dalam galeri.
"Nay, kamu pulang naik bus?" Tanya Nia saat mereka sudah duduk di sofa.
"Iya, Bu. Tapi kalau jam segini biasanya busnya sudah tidak ada," Nayla melihat arloji di tangannya.
"Iya, Nay. Bus biasanya sampai jam lima sore. Ini sudah jam lima lebih lima," Nia menoleh ke arah jam dinding galeri.
"Nayla bisa naik angkot, Bu. Tapi memang agak repot sih, harus naik angkot dua kali kalau tidak naik bus. Kalau pesen ojek online kehujanan. Kalau taksi online lumayn mahal "
"Ya sudah, kamu diam dulu di sini ya? Ibu mau ke ruangan dulu ambil handphone," Nia berdiri dan meninggalkan Nayla yang terduduk di sofa.
Dengan langkah cepat, Nia masuk ke dalam ruangannya. Ia segera mencari nomor kontak putranya kemudian menelfonnya.
"Dit?" Seru Nia saat Aditya mengangkat telfonnya.
"Iya, Ma?"
"Kamu lagi di mana, Nak? Sedang di luar?"
"Adit lagi mau pulang, Ma. Kenapa?"
"Dit, kamu bisa jemput mama?" Pinta Nia.
"Jemput? Mobil mama ke mana?" Aditya tampak keheranan.
"Mama takut nyetir kalau lagi hujan deras kaya gini. Jemput mama ya, Nak?"
"Iya, Ma. Adit ke Galeri sekarang ya?" Aditya langsung menyetujui dan menutup telfonnya.
"Yes, semoga rencanaku untuk mendekatkan Nayla dan Adit berhasil!" Seru Nia dengan girang. Nia memang ingin Aditya bersama Nayla, karena ia tahu Nayla adalah gadis yang baik dan sederhana.
"Bu?" Panggil Nayla saat ia melihat Nia keluar dari ruangannya.
"Iya, Nay?"
"Hujannya sudah lumayan reda. Nayla izin untuk pulang dulu ya, Bu? Takutnya kemalaman di angkot," tutur Nayla dengan sopan.
"Sebentar, Nay! Temenin dulu ibu ya? Sepuluh menit aja ya? Ibu ingin minum teh dulu sebelum pulang."
"Iya, Bu," Nayla langsung menyetujui. Ia tidak enak jika harus menolak permintaan atasannya itu.
Nia pun menyeduh dua gelas teh hijau dan menyodorkannya kepada Nayla.
"Ibu tidak usah repot-repot. Nayla jadi tidak enak," Nayla merasa sungkan ketika Nia membuatkannya teh.
"Hanya teh, Nay."
"Terima kasih ya, Bu?" Nayla mengambil teh yang masih mengepul uapnya itu dan meminumnya dengan perlahan.
"Nay? Bagaimana dengan kuliahmu? Apakah lancar?" Tanya Nia memecahkan keheningan di antara mereka.
__ADS_1
"Lancar, Bu," Nayla menyimpan gelas teh itu sesudah meminumnya.
"Sesudah wisuda rencanamu apa, Nay? Melamar pekerjaan lain atau langsung menikah?" Nia seakan sangat tertarik dengan personality gadis yang ada di hadapannya.
"Nikah? Ibu bisa aja," Nayla tertawa kecil.
"Nayla tidak akan keluar dari tempat ini, Bu. Nayla sudah nyaman," lanjutnya.
"Baguslah Nay jika rencanamu begitu. Ibu tidak ingin kehilangan karyawan sepertimu. Oh iya, seusiamu sudah cukup matang untuk menikah, Nay."
"Belum kepikiran Bu," Nayla menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Memangnya Nayla ingin nikah kapan?"
"Ma?" Suara seorang pria memotong pembicaraan mereka.
"Ayo pulang!" Lanjut pria itu yang ternyata ia adalah Aditya.
Aditya menatap ibunya. Lalu tatapannya beralih kepada Nayla yang juga sedang menatapnya. Nayla melihat rambut pemuda itu sedikit basah karena terkena air hujan.
"Dit? Sudah sampai?" Nia berdiri dari duduknya diikuti dengan Nayla.
"Ya sampai lah, Ma. Makanya Adit ada di sini," jawab Aditya dengan dingin.
"Dit, hujannya sudah reda. Mama mau nyetir sendiri aja," Nia mendekati Aditya.
"Terus kenapa tadi mama minta aku jemput?" Aditya tampak jengkel dengan sikap ibunya.
"Kan tadi hujannya deras, Dit. Mama takut. Kamu tega mama kenapa-kenapa di jalan?" Nia berpura-pura menunjukan ekpresi sedih.
"Ayo, Ma kita pulang! Adit kawal dari belakang," Aditya menggenggam tangan ibunya.
"Bu, kalau begitu Nayla izin pulang ya? Sudah mau maghrib," Nayla akhirnya bicara. Ia sudah sangat resah karena takut kemalaman di dalam angkot.
"Dit, ini sudah mau malam. Gimana kalau kamu anterin Nayla pulang dulu ya?" Nia menatap putranya.
"Ma, ini kan baru setengah enam lebih. Masih sore," Aditya berusaha menolak.
"Tidak apa-apa, Bu. Nayla bisa naik angkot," Nayla dengan cepat menolak.
"Tidak apa-apa, Nay. Kan tadi kamu bilang harus naik angkot dua kali. Kamu ini perempuan, Nay. Bahaya lho naik angkot sendirian."
"Tidak akan ada apa-apa, Ma. Dia gadis yang tangguh. Jadi MUA dinikahan mantannya juga bisa kan," celoteh Aditya.
Raut wajah Nayla langsung berubah mendengar ucapan Aditya. Nia pun langsung memelototkan matanya ke arah Aditya. Nia takut Nayla tersinggung dengan perkataan putranya.
"Maaf!" Aditya bergumam.
"Nayla naik angkot aja, Bu!" Tolak Nayla lagi.
"Dit, Nayla pulang jam segini karena nemenin mama nungguin kamu lho! Anterin ya? Mama tidak suka di bantah," Nia memperlihatkan ekspresi serius di raut wajahnya.
"Baiklah, Ma," Aditya memejamkan matanya. Merasa tidak akan menang jika melawan ibunya.
"Ayo aku antar kamu pulang!" Aditya berjalan mendahului Nayla.
"Tapi-"
__ADS_1
"Jangan membantah ya, Nay!" Nia memperingatkan.
Nayla pun hanya bisa pasrah dan akhirnya mengikuti Aditya yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Bu, Nayla pulang dulu!" Pamit Nayla saat mereka sudah sama-sama di parkiran.
"Ayo! Lama banget sih!" Gerutu Aditya.
"Dit, gak boleh kasar-kasar ya!" Nia memperingati Aditya dengan telunjuk tangannya.
"Heh, heh! Kenapa kamu duduk di belakang? Kamu pikir, aku ini supir kamu apa?" Aditya menggerutu saat melihat Nayla masuk ke bagian kursi penumpang.
"Maaf, Pak!" Nayla keluar lagi dari dalam mobil dan duduk di samping Aditya.
"Pakai sabuk pengamannya!" Perintah Aditya dengan dingin. Nayla pun memakai sabuk pengaman itu tanpa bersuara.
Aditya mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota Bandung yang masih di guyur air hujan walau tidak sederas tadi. Sementara itu, Nia tersenyum puas di dalam mobilnya melihat Aditya mengantarkan Nayla pulang.
"Mama harap kalian bisa saling jatuh cinta. Kamu dan Nayla sama sama pernah disakiti. Semoga kalian bisa saling menguatkan dan membangun cinta yang baru!" Gumam Nia yang mulai melajukan mobilnya.
*****
Seharian ini Reyhan tidak fokus dengan pekerjaannya. Apa lagi yang mengganggunya selain dari Nayla? Setelah jam kerjanya habis, Reyhan dengan cepat pergi dari kantornya dan hendak mendatangi Nayla kembali. Sesampainya di galeri tempat Nayla bekerja, Reyhan keluar dari dalam mobil dan membawa payung dengan maksud menjemput Nayla. Tetapi hatinya kecewa untuk kedua kalinya. Ia melihat Nayla masuk ke dalam mobil bersama seorang pria yang mengaku sebagai kekasih Nayla saat tadi pagi.
"Nay, apa benar dia kekasih barumu?" Tanya Reyhan dengan frustasi. Ia menjatuhkan payungnya dan membiarkan tubuhnya basah oleh air hujan.
"Ini tidak boleh terjadi. Nayla hanya untukku," Reyhan menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia segera masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Ini semua gara-gara mama, Winie dan papa. Coba saja mereka tidak memaksaku untuk menikahi Luna. Pasti aku bahagia dengan Nayla," Reyhan mencengkram kemudi hingga buku-buku kukunya memutih.
"Aku harus mengikuti mereka," Reyhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tetapi mobil Aditya dan Nayla sudah tidak terlihat.
"Ke mana mereka?" Reyhan terlihat semakin frustasi. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Rey, baju kamu kok basah?" Tanya Luna saat mendapati Reyhan pulang dengan baju yang lumayan basah.
"Bukan urusanmu, Lun!" Jawab Reyhan sambil terus berjalan ke atas tangga. Luna pun mendekatinya dari belakang.
"Buka bajumu, Rey! Nanti kamu sakit lagi!" Luna mencoba membuka kacing kemeja baju Reyhan.
"Jangan kurang ajar, Lun!" Reyhan menepuk tangan Luna dari kancing kemejanya.
"Ingat tentang perjanjian kita!" Sorot mata Reyhan menajam.
"Aku hanya berusaha menjalankan kewajibanku sebagai istrimu, Rey. Apakah salah?" Mata Luna langsung berkaca-kaca.
"Lun, maaf! Emosiku sedang tidak stabil!" Reyhan memejamkan matanya mengingat Nayla yang masuk ke dalam mobil Aditya.
"Apa aku salah mencemaskanmu, Rey? Bagaimana pun kita ini suami istri. Dalam agama, akan sangat berdosa jika aku tidak melayanimu," Luna meneteskan air matanya.
"Maaf, Lun!" Hanya kata itu yang Reyhan mampu ucapkan.
"Rey, bukan hanya kamu saja yang merasa tersiksa. Aku pun tersiksa menikah bersama laki-laki yang tidak mencintaiku. Tetapi kamu hanya merasa bahwa kamu saja yang sebagai korban di sini. Aku pun kehilangan Reza sama seperti kamu yang kehilangan Nayla," Luna menangis sesenggukan.
"Lun, aku benar-benar minta maaf! Aku tidak bermaksud membentakmu tadi," Reyhan memegang bahu Luna dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku harus terus berakting begini agar Reyhan bersimpati dan jatuh cinta kepadaku," Luna tersenyum di dalam pelukan Reyhan.
__ADS_1