
"Terima kasih, Pak Adit," Nayla berkata dengan tulus saat Aditya mengantar dirinya pulang sampai depan rumah.
"Aku bukan bapakmu," timpal Aditya dengan ketus.
"Maksudku terima kasih, Dit," Nayla merevisi kata-katanya.
"Iya," jawab Aditya super pendek, kemudian ia berjalan untuk masuk ke mobilnya lagi.
"Tuh liat si Nayla, cowoknya beda lagi!" Bisik dua ibu-ibu yang selalu mengomentari hidup Nayla.
"Tapi jago juga ya si Nayla, gebetannya bermobil semua," timpal satu ibu-bu sambil menenteng payung di tangannya.
"Halah paling juga suami orang lagi."
"Ada apa bu ibu bisik-bisik?" Tegur Nayla kepada ibu-ibu biang rumpi itu.
"Engga," jawab kedua ibu itu dengan ketus, mereka pun bergegas pulang ke rumahnya.
"Sepertinya ibu-bu tadi ngomongin gadis itu," batin Aditya saat ia sudah duduk di dalam mobil. Aditya pun melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Nayla.
"Tumben pulang maghrib, Nak?" Tanya Bu Asih yang melihat Nayla masuk ke dalam rumah.
"Iya, Bu. Tadi neduh dulu di galeri."
"Tadi siapa, Kak? Ganteng benget!" Dwi tersenyum sumringah. Ia memang melihat Nayla diantar oleh Aditya.
"Tadi Bos kakak," Nayla menimpali dengan singkat.
"Oh," Dwi hanya mengangguk-ngangguk.
"Calon pacar kali ya kak Nay?" Goda Bayu.
"Pacar? Tahu apa kamu tentang pacar?" Nayla mencubit gemas adik bungsunya itu.
"Ya siapa tahu kan, Kak? Lebih ganteng dari kak Rey," seru Bayu dengan sumringah.
"Sudah, kenapa kalian jadi goda kak Nay?" Bu Asih menengahi.
"Ya sudah, Nay. Sekarang kamu mandi! Ibu sudah bikinin air hangat buat kamu mandi."
"Makasih ya, Bu?" Nayla memeluk Bu Asih kemudian berlalu untuk segera mandi.
****
__ADS_1
Tangan Reyhan mengambil foto Nayla yang ia pajang di kamarnya bersama Luna. Reyhan memperhatikan foto yang sarat akan kenangan itu.
"Katakan jika pria tadi bukan kekasihmu, Nay!" Suara Reyhan terdengar penuh pengharapan.
"Katakan jika aku yang masih kamu cintai!" Reyhan seolah lupa jika foto itu tidak dapat menjawabnya.
Luna yang baru membuatkan Reyhan teh hangat pun hanya memutar kedua bola matanya, karena lagi-lagi Reyhan galau akan Nayla.
"Ini teh untukmu. Minumlah agar tubuhmu hangat!" Luna meletakan teh yang masih mengepul asap di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.
"Aku tidak butuh teh, aku butuh Nayla, Lun!" Sorot mata Reyhan penuh dengan luka.
"Cukup ya, Rey! Sepertinya aku muak tiap dengar kamu nyebut nama Nayla!" Luna berkacak pinggang di hadapan Reyhan.
"Kenapa muak, Lun? Kamu tidak boleh ikut campur tentang perasaanku," Reyhan masih menatap fotonya bersama Nayla.
Luna hanya mengepalkan tangannya dengan geram. Kemudian Luna mengambil tasnya dan keluar dari dalam kamar. Luna memutuskan untuk pergi ke rumah kedua orang tua Reyhan. Ia ingin meminta saran bagaimana merebut hati Reyhan. Beberapa menit kemudian Luna sudah sampai di rumah mertuanya.
"Lun?" Seru Rika dengan girang saat melihat menantu kesayangannya sudah berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Mama?" Luna memperlihatkan wajah sedihnya.
"Kenapa kamu gak telfon mama dulu kalau mau ke sini?" Rika segera memeluk Luna. Luna pun menangis di pelukan Rika.
"Ma, aku pengen cerita!" Luna meneteskan air mata buayanya.
"Tentu saja. Apa yang tidak untuk menantu kesayangan mama yang cantik dan baik hati ini?" Rika menyeka air mata di pipi Luna.
"Masuk, sayang!" Rika membimbing Luna masuk ke dalam rumahnya.
"Win!!" Panggil Rika kepada putri bungsunya.
"Apa, Ma?" Winie turun dari tangga dengan malas.
"Ada kak Luna?" Winie langsung bersemangat ketika melihat Luna ada di rumahnya.
"Kak Luna dari kapan di sini?" Tanya Winie dengan antusias. Ia segera duduk di sofa yang berhadapan dengan Luna dan ibunya.
"Baru aja, Win."
"Kak Luna kaya habis nangis?" Winie menyipitkan matanya.
"Iya. Kak Luna ke sini karena mau cerita. Sekarang kamu mau cerita apa, Lun?" Rika mengelus rambut Luna yang tergerai panjang.
__ADS_1
"Ma, aku muak!" Luna menangis kembali.
"Muak kenapa?" Rika terheran-heran.
"Aku muak sama anak mama. Dia tidak bisa ngehargai aku sebagai istrinya, yang dia pikirkan cuma Nayla, Nayla dan Nayla. Bahkan Rey semakin gencar lagi dekat sama Nayla," Luna mengambil tisu dan mengelap air mata palsunya itu.
"Katanya mama mau ambil perhitungan sama Nayla. Kok Luna perhatikan mama cuma santai aja?" Luna menatap Rika.
"Sayang, mama kemarin-kemarin ada kesibukan. Jadi, belum sempat melabrak pelakor itu!" Wajah Rika merah padam.
"Winie makin benci aja sama tuh cewek. Pasti dia gak akan lepasin kak Rey karena belum puas morotin duitnya!" Winie ikut emosi mendengar cerita dari Luna.
"Ma, Win? Kalian tahu? Rey majang foto dia sama Nayla di kamar pengantin kita. Apa itu gak keterlaluan?" Luna meratap.
"Apa? Kurang ajar anak itu!" Rika semakin emosi mendengar pengakuan Luna.
"Kak Luna gak coba nyingkirin itu foto?" Winie terlihat tak kalah emosi.
"Justru itu. Setiap kak Luna ungkit Nayla, kakakmu selalu saja bilang kak Luna gak punya hak."
"Gak punya hak gimana? Kamu kan istrinya, Lun!" Rika tampak gemas.
"Entahlah. Rey selalu bilang gitu," Luna menepis kembali air matanya yang terjatuh dengan tisu yang ada di tangannya.
"Lun, coba kamu tampil secantik mungkin! Biar Reyhan selalu kecanduan sama tubuhmu," Rika memelankan suaranya.
"Kecanduan? Bahkan semenjak kami menikah, kami belum pernah melakukannya," Luna berterus terang.
Rika dan Winie pun langsung memelototkan matanya mendengar pengakuan Luna.
"Kakak serius?" Winie tampak syok.
"Serius. Kakak gak bohong."
"Memang benar-benar kurang ajar anak itu! Perempuan secantik kamu masa dianggurin gitu aja," Rika menggelengkan kepalanya. Merasa sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran putranya.
"Mama bakal labrak si Nayla besok. Kalau perlu, mama bakal datangin rumah orang tuanya, biar semua tetangganya pada tahu bagaimana kelakuan gak bermoral si Nayla. Gak ada habis-habisnya ganggu rumah tangga orang!" Rika berteriak.
"Ma, Winie rasa kita gak perlu pake cara itu deh. Winie punya ide," Winie tersenyum licik.
"Apa?" Rika dan Luna mendekat. Winie pun segera memberitahu mengenai rencananya.
Luna dan Rika pun tersenyum senang mendengar rencana Winie.
__ADS_1