Jangan Panggil Aku Pelakor!

Jangan Panggil Aku Pelakor!
Ulang Tahun Nia


__ADS_3

Hujan disertai angin kencang menampar-nampar udara. Luna melajukan mobil miliknya, ia menangis terisak saat diputuskan Reza. Mengapa sangat sakit seperti ini? Sesekali suara petir bergemuruh mengejutkan Luna yang sedang menyetir, beruntung ia tidak kehilangan fokus ketika mengemudi.


Sampailah mobil Luna memasuki pekarangan rumah yang mewah. Luna keluar dari mobilnya sambil hujan-hujanan. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan.


Saat memasuki rumah, Luna melihat Reyhan yang sedang duduk di sofa seraya menyeruput kopi yang masih mengeluarkan asap.


"Luna?" Seru Reyhan dengan panik saat melihat Luna basah kuyup.


"Kamu udah dari mana? Kenapa hujan-hujanan?" Lanjut Reyhan lagi.


Luna tak kunjung menjawab, mulutnya bungkam hanya suara isakan yang tertahan. Dengan cepat Luna memeluk Reyhan. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Reyhan, Luna bisa merasakan kehangatan dan ketenangan. Apa karena Luna membutuhkan tempat untuk bersandar saat ini?


"Aku diputuskan Reza, Rey!" Luna masih menangis terisak.


"Hey, tenanglah Lun! Gara-gara apa Reza memutuskan kamu? Duduklah dulu!" Reyhan menggandeng Luna, kemudian ia mengambil handuk dan menyelimuti tubuh mungil Luna yang basah.


Luna hanya menatap Reyhan dengan lirih. Hatinya menghangat saat Reyhan memperlakukannya dengan sangat baik.


"Reza tidak mau berhubungan dengan wanita yang sudah bersuami makanya dia memutuskanku," Luna mulai menceritakan apa yang membuatnya menangis.


"Berbanggalah, Lun! Berarti dia pria baik. Kamu tidak salah mencintai seseorang," hibur Reyhan dengan tersenyum.


"Mengapa dia baik? Jelas-jelas dia memutuskanku!" Luna masih terisak.

__ADS_1


"Berarti dia pria yang tak mau mengganggu rumah tangga orang lain. Dia juga merelakan hatinya untuk pergi. Sama seperti Nayla, dia gadis baik. Dia pun merelakanku untuk menikah denganmu."


"Mengapa Nayla lagi?" Batin Luna merasa tak suka.


*****


Peringatan ulang tahun Nia selaku owner MUA ternama di Bandung dirayakan dengan meriah di Perkemahan Ranca Upas yang ada di Ciwidey. Nia selalu merayakan hari-hari spesialnya bersama semua karyawan yang bekerja di Galeri. Setelah suaminya meninggal, Nia tak ingin melewatkan semua moment sendiri. Ia selalu mengajak semua karyawan yang sudah ikut andil dalam memajukan bisnisnya. Memang Nia sangat loyal jika menyangkut karyawan.


Nia membooking semua perkemahan Ranca Upas untuk acaranya, tentunya dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Kini mereka sudah berada di Ranca Upas, malam hari Ranca Upas dikelilingi kabut yang sangat tebal. Cuaca malam sangatlah dingin, suara jangkrik makin memperjelas bahwa mereka kini sedang berada di alam.


Tenda-tenda berdiri dengan sangat kokoh, tampak api menjilat-jilat kayu yang dijadikan bahan bakar untuk api unggun. Kini mereka mengelilingi api unggun dengan suasana gembira, begitu pun dengan Nayla ia duduk bersama Ayu dan Adam.


Tibalah saat jam dua belas malam, Aditya selaku anak tertua dari Nia membawakan kue yang sederhana namun elegan. Ia mendekati ibunya dengan menyalakan lilin. Semua karyawan bernyanyi dan bertepuk tangan menghangatkan dinginnya malam.


Semua karyawan merasa terharu dengan perlakuan manis Adit, mereka tiba-tiba merindukan ibunya yang sedang ada dirumah.


"Terima kasih, sayang. Tapi ada satu yang Mama harapkan dari kamu, Nak!" Mata Nia tampak berkaca-kaca.


"Apa itu, Bu?" Adam ikut menyahut. Nayla dan Ayu menyenggol lengan Adam membuat Adam menutup mulutnya.


"Mama ingin segera melihat kamu menikah."


Deg..

__ADS_1


Senyum Aditya pudar, di situasi seperti itu bayangan mantan kekasihnya yang mati-matian ia coba lupakan menari-nari dalam pikirannya. Namun di saat itu, tatapannya tak sengaja menatap Nayla. Nayla pun kini tengah melihat ke arahnya dan Nia. Mereka saling berpandangan, namun Nayla langsung membuang wajahnya.


"Aish. Apa yang aku pikirkan ? Mengapa aku sangat gugup saat melihat gadis itu? Yang benar saja."


"Bagaimana, Dit? Apa kamu bisa menyanggupi keinginan Mama?" Tanya Nia memecahkan lamunan Aditya.


"Pasti Adit akan kabulkan, Ma. Tapi tunggu waktu yang tepat ya, Ma? Memangnya Mama mau jika Adit salah dalam memilih pasangan?" Aditya mencoba meyakinkan ibunya.


Nia tampak menimbang-nimbang, lalu tatapannya tertuju pada Nayla, Nia tersenyum kecil. Ia sangat berharap bisa mempunyai menantu sesopan Nayla. Tapi bagaimana bisa? Gadis sesopan Nayla sudah sulit ditemukan di Zaman Modern seperti ini.


"Baiklah, Dit. Secepatnya kamu cari jodoh untuk menikah biar Mama bisa timang cucu!"


Aditya mengangguk "Baik, Mah."


Saat selesai acara pemotongan Kue, semua karyawan berbaris memberikan Nia kado. Nayla membawa kado kotak kecil, ia memberikan kebaya hasil jahitan ibunya. Memang ibu Nayla sangat pintar menjahit.


"Bu, ini untuk ibu. Semoga panjang umur, sehat selalu ya, Bu!" Nayla menyodorkan hadiah yang ia pegang ke arah Nia.


"Terima kasih ya, Nay? Maafkan ibu perihal kemarin! Ibu tidak tahu kalau mempelai pria adalah mantan pacar kamu," Nia merasa menyesal.


"Tidak apa-apa kok, Bu. Lagi pula Nay sudah melupakan dia."


"Apakah benar gadis itu sudah melupakan mantan kekasihnya?" Gumam Aditya mendengar percakapan Nia dan Nayla.

__ADS_1


__ADS_2